Membiarkan anak prasekolah sibuk dengan gadget-nya tanpa pembatasan serta pengawasan, sama artinya kita membuka peluang si kecil jadi gadget freak. Apa artinya? Secara sederhana dapat dikatakan sudah kebablasan.
Anak dianggap sudah kebablasan bermain gadget jika sehari bermain dengan gadget lebih dari dua jam. Lalu kalau gadget-nya diambil si anak akan marah sekali, bahkan tantrum.
Pembatasan penggunaan gadget
bukan saja akan menghindari si prasekolah kebablasan tapi ada banyak
manfaat lain yang pada usianya jauh lebih penting. Yaitu memberi
kesempatan si kecil mengembangkan aspek-aspek penting dalam hidupnya.
-
Yang pertama adalah aspek sosial emosionalnya. Hal ini akan terbentuk
bila terjadi interaksi anak dengan orang lain. Dari interaksi ini anak
akan belajar budi pekerti yang merupakan fondasi dasar bagi pembentukan
karakter anak.
Di usia balita yang diperlukan anak adalah kasih sayang dan attachment
yang tinggi dari orangtuanya. Bagaimana dan seperti apa perlakuan
orangtua pada anaknya di suia ini akan menentukan seperti apa si anak
dewasanya kelak. Contoh lain, berselisih paham dengan kakak juga
merupakan belajar berinteraksi secara sosial. Bagaimana dirinya
menyikapi peristiwa tersebut dan juga bagaimana sikap orangtua
menghadapi permasalahan tersebut.
Anak juga akan belajar
memahami orang lain dan rasa empati anak menjadi lebih baik. Kesempatan
anak untuk mendapatkan kesuksesan juga menjadi lebih besar karena
kepiawaiannya menjalin interaksi dengan orang lain.
- Aspek kedua
adalah intelektual. Di usia prasekolah, yang dimaksud intelektual
belumlah yang berhubungan dengan akademik. Namun kemampuan kognitif,
dimana semakin banyak anak melihat, merasakan langsung, mencoba serta
meraba atau mencium, semakin banyak memori yang terserap di otaknya. Ini
semua hanya bisa didapat dengan pengalaman langsung dengan
berjalan-jalan atau diajak berkeliling mengamati lingkungan.
-
Ketiga, yaitu aspek fisik. Aspek fisik akan berkembang secara baik jika
si prasekolah tidak hanya duduk diam. Orangtua bisa mendorong anak
melakukan aktivitas fisik yang dapat menstimulasi keterampilan motorik
halus dan kasar seperti bermain di dalam rumah (meronce, bermain balok,
menggunting kertas, bermain kubus), bermain di luar ruang (bersepeda,
bermain bola, melompat, dan sebagainya), serta bersosialisasi dengan
teman-teman.
- Lalu keempat, aspek spiritual dimana orangtua bisa
menanamkan pada anak hal-hal yang terkait dengan agama dan
spiritualitas. Misalnya mengajak anak beribadah bersama, menanamkan
nilai-nilai kemanusiaan, mensyukuri ciptaan Tuhan, mengembangkan sikap
empati, dan sebagainya.
sumber sila diklik di sini
Showing posts with label pengasuhan anak. Show all posts
Showing posts with label pengasuhan anak. Show all posts
Friday, March 21, 2014
Tuesday, October 23, 2012
:: 6 Aktivitas Pembuat Cerdas Anak ::
Mengembangkan kecerdasan anak bisa dilakukan melalui aktivitas sederhana dan menyenangkan.
Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengembangkan kognitif anak Anda yang direkomendasikan oleh Jamie Loehr, M.D. dan Jen Meyers, pengarang buku Raising Your Child, seperti dikutip dari Parents Indonesia
1. Membaca 20 menit setiap hari
Ajak Anak anda membaca. Di usia 12 sampai 18 bulan anak banyak sekali menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya. Jadi sangat mungkin bagi anak Anda mendengarkan apa yang anda baca. Setidaknya ajak membaca selama 20 menit sehari. Sambil membaca buku, tanyakan kepadanya gambar-gambar yang ada di buku.
2. Mendengarkan Musik
Bernyanyilah bersama anak Anda. Biasakan mendengarkan music saat di rumah atau di mobil. Pilihlah musik yang tidak membosankan walaupun diputar terus menerus. Jika Anda bernyanyi otomatis anak akan ikut bernyanyi. Lama-lama Anak Anda akan bernyanyi sendiri walaupun tidak ada music yang mengiringi.
3. Ajarkan tentang bentuk benda dan angka
Ajarkan si kecil tentang bentuk benda, warna dan angka seharian penuh. Jika di tumpukan mainannya ada bola bilang “ini bola bulat berwana merah. Jika sedang makan pisang bilang “ ini pisang kita tinggal satu” atau jika sedang memakai kaus berwarna biru bilang “kaus kamu warnanya biru.”
4. Ajarkan Bagian tubuh Ajarkan juga anak Anda nama-nama bagian tubuhnya. SAabil mengenalkan bagian tubuhnya tunjuklah bagian tubuh yang dimaksud misalnya hidung, mata, kuping, kaki, tangan dan bagian tubuh lainnya.
5. Gunakan instruksi
Saat bermain berikanlah instruksi. Dengan begitu si anak akan mampu mengikuti instruksi dari orang tua dan akan merasa senang jika mampu melakukan apa yang di suruh. Salah satu instruki sederhana adalah memintanya menutup pintu atau mengambilkan bola.
6. Minta memilih mainan kesukaannya
Pergilah ke toko mainan. Gunakan buku katalog kemudian minta si anak menunjuk mainan yang ia suka di catalog tersebut. Setelah itu ajak anak Anda mencari mainan tersebut di rak mainan.
sumber http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/12/10/21/mc7fau-6-aktivitas-pembuat-cerdas-anak-1
Wednesday, October 10, 2012
Hanya 33% orangtua yang masih sempat mendongeng untuk anak...
Saat ini, mendongeng sepertinya jadi aktivitas yang sudah jarang
dilakukan orangtua terhadap anak-anak mereka. Survei yang diadakan
Disney di Inggris pun membuktikannya. Survei diikuti oleh 1.000 orangtua
dan kakek-nenek yang memiliki anak atau cucu berusia di bawah enam
tahun. Dari survei tersebut terungkap hanya 1/3 orangtua di Inggris yang
masih sempat membacakan cerita pada anak sebelum tidur.
Mereka yang sempat membacakan dongeng sebelum tidur itu, sesuai survei, paling banyak adalah para ibu, kemudian ayah dan disusul kakek-nenek. Sedangkan fakta di lapangan, anak-anak lebih suka jika mereka dibacakan dongeng oleh ibu, lalu kakek-nenek dan terakhir ayah.
Meskipun jumlah orangtua yang sempat membacakan cerita itu sedikit, setengah dari responden percaya mendongeng adalah saat yang tepat untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama anak-anak mereka. 47% orangtua juga tahu bahwa anak-anak sebenarnya senang dibacakan dongeng oleh orangtuanya
Sayangnya sesuai survei tersebut, sekarang ini sebagian besar orangtua kehabisan waktu untuk membacakan anak-anak mereka sebuah dongeng. Hampir sepertiga orangtua yang menjadi responden mengaku terlalu lelah untuk bercerita, terlebih ketika mereka terlambat pulang kantor dan harus melakukan pekerjaan rumah lainnya. Dari survei Disney tersebut juga terungkap, di era digital seperti sekarang ini, 2/3 dari orangtua dan kakek-nenek merasa bahwa teknologi modern sudah menghilangkan tradisi mendongeng.
Salah satu penyebab menurunnya aktivitas dongeng sebelum tidur ini adalah karena kurangnya kepercayaan diri orangtua ketika membacakan cerita untuk anak. Lebih dari 1/3 orangtua dan kakek-nenek berharap mereka bisa menjadi pendongeng yang baik baik.
Dalam urusan membacakan cerita ini, hanya setengah dari kaum pria yang merasa mereka bisa mendongeng dengan baik. Wanita dianggap lebih baik dalam aktivitas dongeng tersebut karena mereka lebih banyak membaca ketika masih anak-anak.
Survei Disney juga menunjukkan bahwa kemampuan mendongeng ditentukan oleh faktor usia, 81% orang yang pandai mendongeng berusia lebih dari 55 tahun, dan 44% dari usia 18-24 tahun. Selain itu, cerita tradisional tetap paling populer karena sebagian besar (84%) dari responden bercerita tentang apa yang mereka baca saat masih anak-anak.
Kelompok usia muda yang bernostalgia ini, yaitu yang berusia 18-24 tahun, yang sering membacakan anak-anak cerita serupa ketika mereka masa kecil. Sementara lebih dari seperempatnya memilih untuk menceritakan kisah-kisah klasik seperti Winnie the Pooh, dan hanya sedikit yang memilih untuk membuat cerita mereka sendiri.
sumber http://wolipop.detik.com/read/2012/10/10/070850/2058848/857/hanya-33-orangtua-yang-masih-sempat-mendongeng-untuk-anak?w991101857
Mereka yang sempat membacakan dongeng sebelum tidur itu, sesuai survei, paling banyak adalah para ibu, kemudian ayah dan disusul kakek-nenek. Sedangkan fakta di lapangan, anak-anak lebih suka jika mereka dibacakan dongeng oleh ibu, lalu kakek-nenek dan terakhir ayah.
Meskipun jumlah orangtua yang sempat membacakan cerita itu sedikit, setengah dari responden percaya mendongeng adalah saat yang tepat untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama anak-anak mereka. 47% orangtua juga tahu bahwa anak-anak sebenarnya senang dibacakan dongeng oleh orangtuanya
Sayangnya sesuai survei tersebut, sekarang ini sebagian besar orangtua kehabisan waktu untuk membacakan anak-anak mereka sebuah dongeng. Hampir sepertiga orangtua yang menjadi responden mengaku terlalu lelah untuk bercerita, terlebih ketika mereka terlambat pulang kantor dan harus melakukan pekerjaan rumah lainnya. Dari survei Disney tersebut juga terungkap, di era digital seperti sekarang ini, 2/3 dari orangtua dan kakek-nenek merasa bahwa teknologi modern sudah menghilangkan tradisi mendongeng.
Salah satu penyebab menurunnya aktivitas dongeng sebelum tidur ini adalah karena kurangnya kepercayaan diri orangtua ketika membacakan cerita untuk anak. Lebih dari 1/3 orangtua dan kakek-nenek berharap mereka bisa menjadi pendongeng yang baik baik.
Dalam urusan membacakan cerita ini, hanya setengah dari kaum pria yang merasa mereka bisa mendongeng dengan baik. Wanita dianggap lebih baik dalam aktivitas dongeng tersebut karena mereka lebih banyak membaca ketika masih anak-anak.
Survei Disney juga menunjukkan bahwa kemampuan mendongeng ditentukan oleh faktor usia, 81% orang yang pandai mendongeng berusia lebih dari 55 tahun, dan 44% dari usia 18-24 tahun. Selain itu, cerita tradisional tetap paling populer karena sebagian besar (84%) dari responden bercerita tentang apa yang mereka baca saat masih anak-anak.
Kelompok usia muda yang bernostalgia ini, yaitu yang berusia 18-24 tahun, yang sering membacakan anak-anak cerita serupa ketika mereka masa kecil. Sementara lebih dari seperempatnya memilih untuk menceritakan kisah-kisah klasik seperti Winnie the Pooh, dan hanya sedikit yang memilih untuk membuat cerita mereka sendiri.
sumber http://wolipop.detik.com/read/2012/10/10/070850/2058848/857/hanya-33-orangtua-yang-masih-sempat-mendongeng-untuk-anak?w991101857
Monday, October 8, 2012
::: MENEMPA JIWA :::
*sharing untuk para orang tua dalam mendidik anak-anaknya*
”Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan.”
(QS. Alam Nasyrah, 94: 5-6).
Cukuplah orangtua dikatakan menyengsarakan hidup anak apabila ia membiasakan hidup mudah. Segala sesuatu yang mereka perlukan telah tersedia dengan mudah, nyaris tanpa usaha berarti. Padahal pengalaman berusaha dan menyelesaikan masalah akan meningkatkan kapasitas pribadi seseorang. Sehingga semakin banyak masalah yang mampu ia selesaikan, semakin tinggi nilai hidupnya.
Allah Ta’ala membentangkan di hadapan manusia kesempatan untuk berjuang. Agar terwujud kehidupan yang baik, kita harus memiliki kesediaan untuk memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh dengan keringat dan do’a. Kesungguhan dalam berjuang itulah letak nilai seseorang. Bukan apa yang ia capai. Sungguh, adakalanya barakah perjuangan seseorang tampak nyata di muka bumi setelah kehidupan orang tersebut berlalu beberapa masa. Dan merupakan tugas orangtua untuk memberi kesempatan kepada anak latihan berjuang, dari yang kecil hingga mimpi-mimpi besar untuk sebuah visi di masa depan.
Sesungguhnya orangtua yang kejam adalah mereka yang tidak memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan di usia itu. Kejamlah para ibu yang masih selalu menyuapi anaknya, setiap saat, padahal anak seharusnya sudah bisa makan sendiri. Kejamlah seorang bapak yang selalu melayani keinginan anak dan memenuhi permintaan mereka, padahal anak-anak itu kelak harus memiliki kecakapan mentasharrufkan hartanya. Kejamlah orangtua yang hanya memberi uang dan fasilitas berlimpah kepada anaknya tanpa memberi tanggung-jawab, kewajiban dan tantangan kepada mereka.
Mari kita belajar dari pohon apel. Sesungguhnya apel tidak berbuah kecuali setelah daunnya rontok. Jika ia ditanam di negeri yang tidak mengenal musim gugur, maka kitalah yang harus membantu agar apel tersebut berbuah. Kita membantu mengurangi daun-daunnya.
Pelajaran apa yang bisa kita petik? Perlu tantangan sebelum berbuah. Ada tantangan yang secara alamiah dihadapi karena kondisi yang tidak terelakkan. Tetapi jika kondisi yang diperlukan tidak tersedia, maka kitalah yang harus merancang agar ada tantangan yang ”menggairahkan”.
Jika kita menilik sejarah, orang-orang besar adalah mereka yang memiliki catatan panjang tentang keteguhan, ketegaran, kegigihan, kejujuran, integritas yang tinggi, keberanian dan tekad yang kuat untuk menyelesaikan setiap masalah dengan cara sebaik-baiknya sesuai dengan rambu-rambu yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ditempa oleh tantangan yang datang berjenjang-jenjang. Awalnya ringan, lalu datang lagi tantangan berikutnya yang lebih berat. Bahkan tidak sedikit orang besar yang sejak lahir sudah dipenuhi kesulitan dan tantangan. Ia lahir dalam kesulitan, besar dalam kesulitan dan kemudian tumbuh menjadi manusia yang sanggup mengatasi berbagai kesulitan yang orang lain takut membayangkannya. Mereka banyak menghadapi kesulitan, tetapi pada saat yang sama ada kekuatan jiwa untuk menghadapinya. Terkadang kekuatan itu mengalir dari hadirnya seorang ibu yang senantiasa memberi dukungan ketika ia merasa tak sanggup lagi.
Di antara orang-orang sukses, banyak yang mengawali hidupnya dengan berbagai kesulitan. Sebagian mereka bahkan pernah merasa tak sanggup menghadapinya, lalu berikrar agar anaknya tak pernah menjumpai kepahitan hidup yang serupa. Tetapi ia lupa membedakan bahwa kepahitan hidup berbeda dengan tantangan. Alih-alih tidak ingin anaknya sengsara, justru menghindarkan anak dari tantangan. Diam-diam menjadikan anaknya tak berdaya dengan melimpahi mereka fasilitas dan kemudahan. Padahal berlimpahnya fasilitas tanpa tantangan, menjadikan anak lemah secara mental, rendah daya juangnya, mudah frustrasi karena tak terbiasa menghadapi kesulitan, dan tidak memiliki keterampilan memadai dalam menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari. Mereka inilah yang rawan terkena afflueanza.
Apakah affluenza itu? O, banyak sekali definisi yang bisa kita temukan pada kata ini. Tetapi ada beberapa hal yang mempersamakan dari berbagai definisi itu, yakni bahwa affluenza merupakan kondisi ketika orang menakar keberhasilan dan kebahagiaan dari berapa banyak uang yang dimiliki, berapa mewah barang yang dikonsumsi, dan berapa lengkap perangkat yang dipunyai beserta segala kemudahan yang bisa dibeli. Mereka dimanjakan oleh uang karena orangtua sudah merdeka secara finansial, tetapi hati mereka hampa dan kebahagiaan sangat jauh dari kehidupan. Semakin mereka menganggap bisa membeli kebahagiaan dengan uang, semakin kering hidup mereka, semakin jauh pula kebahagiaan itu menghindar dari mereka. Di saat itulah mereka semakin sibuk mengejar.... dengan uang yang mereka punya!!! Padahal ini justru membuatnya semakin tidak bahagia. Tetapi tak pilihan lain buat mereka, sebab yang mereka ketahui, uang bisa membeli apa pun. Sejak kecil mereka dibesarkan dengan kemudahan dan fasilitas, sehingga mereka justru menemukan banyak kesulitan dalam hidup. Apa yang sederhana buat orang lain, bisa menjadi kesulitan besar bagi dirinya.
Nah.
Jadi apa yang membuat anak-anak itu lemah di masa dewasanya? Mereka tak berdaya karena otot mereka, otak mereka dan mental mereka tak pernah ditempa. Mereka lemah karena terlalu banyak dimanja oleh fasilitas berlimpah. Mereka menemui banyak kesulitan karena terbiasa hidup serba mudah. Sesungguhnya apa yang berat bisa terasa ringan apabila kita memperoleh tempaan yang cukup untuk menghadapi tantangan. Semakin banyak tantangan yang mampu kita hadapi, akan semakin kuatlah kita dengan izin Allah Ta’ala.
Perlunya memberi kesempatan pada anak untuk menghadapi tantangan bukan berarti orangtua harus membiasakan anak hidup sulit. Sangat berbeda mempersulit keadaan dengan menempa anak menghadapi kesulitan. Kita memberi kesempatan kepada anak untuk belajar dengan memberinya tanggung-jawab, memberi mereka tugas untuk menyiapkan, mengatur dan menjaga apa yang mereka perlukan dalam hidup sehari-hari, serta memberi mereka kesempatan bagi mereka untuk belajar mengurusi diri mereka sendiri. Jadi bukan merampas hak mereka untuk belajar mandiri.
Bayi usia 1,5 tahun misalnya, secara alamiah mereka akan terdorong untuk belajar makan sendiri. Tentu saja karena belum memiliki cukup keterampilan, hasilnya bisa belepotan dan mengotori lantai. Tetapi jika atas nama kasih-sayang kita tidak memberinya kesempatan sehingga kita selalu menyuapinya, anak itu akan terhambat kemampuannya dan sulit tumbuh kemandiriannya.
Di usia-usia berikutnya ketika anak sudah saatnya untuk otonom, kita perlu membimbing mereka untuk menyiapkan sendiri buku pelajaran yang akan dipakai besok dan menyiapkan perlengkapannya. Secara perlahan kita memperkenalkan kepada mereka konsekuensi jika mengabaikan kewajiban. Pada saat yang sama kita mulai perlu memberi mereka tantangan-tantangan. Bukan membebani.
Kita bisa menggugah mereka untuk memiliki tekad kuat bagi sebuah mimpi di masa yang akan datang. Misalnya, kita gugah anak-anak itu untuk berkeinginan kuat memberikan harta yang bermanfaat bagi yang memerlukan. Katakanlah sepatu untuk orang miskin, atau sebuah ensiklopedi yang perlu mereka beli atau keperluan mereka sendiri yang berharga. Kita beri mereka dorongan. Pada saat yang sama kita pacu mereka untuk bisa mewujudkan tekad itu dengan kemampuannya sendiri.
Melalui tantangan yang datang secara bertahap itu, anak-anak akan belajar memecahkan kesulitan. Sesungguhnya Allah Ta’ala letakkan kemudahan itu menyertai kesulitan. Bukankah Allah Ta’ala berfirman:
”Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah, 94: 5-6).
Muhammad Sulaiman ’Abdullah al-Asyqar menerangkan dalam tafsirnya yang bertajuk Zubdatut Tafsiir Min Fathil Qadiir bahwa maksud ayat ini ialah, sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan lain. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu dengan status marfu’ menerangkan, ”Seandainya kesulitan itu berada di dalam batu, niscaya ia akan diikuti oleh kemudahan sehingga ia masuk ke dalamnya kemudian mengeluarkannya dari batu tersebut. Suatu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan. Sesungguhnya Allah berfirman: ”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
Pelajaran apa yang bisa kita petik? Banyak hal. Selain keharusan untuk senantiasa optimis tatkala menghadapi kesulitan, kita juga perlu merenungkan kembali apa yang telah kita berikan kepada anak-anak kita. Apakah kita menyiapkan anak kita untuk menjadi pribadi yang kuat ataukah kita justru sedang mempersulit hidupnya dengan membiasakan hidup mudah?
Sungguh, membiasakan anak hidup mudah dapat melemahkan mereka dalam keterampilan hidup, berpikir, dan bersikap. Bahkan bukan tidak mungkin dapat menyebabkan mereka lemah iman. Na’udzubillahi min dzaalik.
Sunday, September 23, 2012
Mendidik anak dengan cinta dan logika
oleh: Ibu Elly Risman
Ada dua gaya mendidik populer. Gaya Helikopter dan Gaya Sersan Pelatih. Keduanya tidak bagus untuk perkembangan anak.
*Gaya HELIKOPTER*
Gaya helikopter: mengawasi anak terlalu berlebihan, menganggap anak seperti raja yang tidak boleh “disenggol” sedikitpun;
Gaya helikopter: tiada hari tanpa perlindungan, anak menemui
kesulitan sedikit saja … bantuan langsung datang dan orangtua sangat
tidak tegaan;
Akibat gaya helikopter jika terbawa sampai anak besar: nyogok sekolah terbaik, mencarikan kerja untuk anak, anak berkemah ditengokin;
Biasanya helicopter parents selalu berdalih ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Padahal yang terbaik itu bukan diwujudkan dengan membelikan feeding set, stroller, atau barang-barang termahal.
*Gaya SERSAN PELATIH*
Gaya sersan pelatih: selalu mengatur, anak tidak diberi kesempatan untuk berpikir karena semuanya sudah diputuskan orangtua;
Gaya sersan pelatih dan helikopter mungkin terlihat bekerja
dengan baik ketika anak masih kecil, tapi akan bermasalah di kemudian
hari.
Banyak orangtua yang menerapkan dua pola asuh tersebut atas nama cinta. Padahal parenting itu bukan untuk jangka pendek, harus pikirkan dampak jangka panjangnya
Anak = pinjaman, dititipkan Tuhan untuk kebahagiaan, kesenangan, dan
juga ujian kita. Jadi harus kita yang mengasuh secara total, bukan
“diekspor”.Sekarang banyak orangtua mengalihkan tugas pengasuhan ke orang lain, dari mulai babysitter, nenek, guru di sekolah sampai guru mengaji.
Pengasuhan yang efektif: cinta yang tidak permisif (semua boleh), cinta yang kuat untuk membiarkan anak berbuat salah dan menjalani konsekuensi;
Pengasuhan yang efektif: cinta yang tidak mentolerir tingkah laku yang tidak terpuji.
Kalau anak menangis karena mainan direbut temannya, jangan
dialihkan dengan memberi mainan lain karena itu mengajarkan anak untuk
menghindari masalah.
Sebaiknya anak yang merebut diharuskan untuk mengembalikan mainannya. Anak kita perlu diajarkan untuk mempertahankan haknya.
Kalau anak mau memakai baju yang tidak pas padu padannya kita selalu menyuruhnya ganti karena kita malu pada orang lain. Padahal parenting is never about us.
Peduli dengan anak bukan berarti melindungi dari semua kesalahan dalam proses berkembang. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar
Tanggung jawab tidak diajarkan tapi harus di-CONTOH-kan. Kalau mengharuskan anak membereskan mainannya, kita contohkan dengan membereskan barang atau bekas masak sendiri.
Tanggung jawab membutuhkan kesempatan. Kalau semuanya
disediakan dan terlalu mudah, kapan anak akan mendapat kesempatan untuk
belajar tanggung jawab?
Berikan anak pilihan dan batasan dari sedini mungkin. Proses pengambilan keputusan adalah momen yang sangat berharga.
Anak harus dicontohkan beberapa macam tanggung jawab. Terhadap Tuhan, diri sendiri, keluarga, alam, dan masyarakat
Anak yang bertanggung jawab akan tumbuh harga dirinya, lebih percaya diri, berprestasi, mandiri, dan mengerti konsekuensi.
Contoh kecil: kita dapat mengajak anak untuk memilih sendiri menu sarapannya untuk besok, biarkan mereka memiliki kontrol.
Tiga kaki konsep diri yang baik: merasa dicintai sekitar, yakin punya kemampuan dan merasa mampu mengontrol hidup sendiri.
Jangan mengambil alih proses pembelajaran anak seperti mengancingkan bajunya, menalikan sepatunya supaya cepat selesai.
Kasihan harga dirinya nanti ketika sudah TK atau SD tapi belum bisa mengancingkan bajunya sendiri.
Biarkan anak melakukan kesalahan asal tidak berbahaya, tekankan kekuatan yang dimilikinya, hindari mengkritik, dan melindungi.
Bermusyawarahlah dengan anak, kalau anak melakukan kesalahan jangan dihancurkan lagi harga dirinya.
Dalam rangka memperbaiki gaya pengasuhan kita:
Tutup AIB anak! Jangan suka mengeluh atau menjelekkan anak di media sosial. Kita nggak mau kan nanti dijelekkin mereka ke teman-temannya?
Buat prioritas, mana yang didahulukan, tetapkan target untuk diri sendiri, dan berikan target yang realistis untuk anak
Belajar untuk berkomunikasi dengan lebih baik, lengkapi diri, siapkan mental, dan selalu sediakan waktu (jangan tergesa-gesa)
It takes a village to raise a kid. Tularkan gaya pengasuhan yang kita mau ke pengasuh, kakek nenek, om tante, dan bahkan tetangga
TV tidak memberikan imajinasi karena TV itu kongkret ada visual dan audio. Buku memberikan imajinasi tak terbatas.
sumber http://mommiesdaily.com/2011/05/16/mendidik-anak-dengan-cinta-dan-logika/
Subscribe to:
Posts (Atom)

