Masih bingung soal pengasuh anakmu yang hingga kini belum dapat
juga? Sementara kamu sudah kembali bekerja seperti biasa.
Hmm...bagaimana bila menitipkan si kecil ke daycare? Saat ini jasa
daycare semakin menjamur di kota-kota besar. Namun memang ada banyak hal
yang harus kamu perhatikan dalam memilih daycare agar anakmu
benar-benar diasuh dan dijaga di tempat yang tepat. Apa saja yang harus
kamu cermati?
1. Ruangan Terpisah
Poin pertama yang harus kamu perhatikan dari sebuah daycare adalah
adanya ruang terpisah antara bayi dan balita. Kalau anakmu masih bayi,
ruang terpisah ini sangat penting karena jangan sampai saat sedang asik
bermain, si kecil tiba-tiba terinjak atau tertindih balita lain yang
lebih besar. Kegiatan bayi dan balita yang berbeda juga pastinya perlu
pengawasan yang berbeda.
2.Cukup Pengasuh
Minta kepastian jumlah pengasuh yang ada di sana dan jumlah anak yang
dititipkan setiap harinya. Sebaiknya tiap dua anak mendapatkan satu
orang pengasuh, tapi kalau nggak memungkinkan jangan sampai anakmu
dipegang oleh satu pengasuh bersama dengan tiga atau empat anak lain.
Bisa-bisa si kecil nggak diperhatikan selama berada di daycare. Untuk memastikan data yang diberikan oleh pihak daycare, kunjungi langsung ruangan bermain anak untuk melihat kesigapan dan kesanggupan para pengasuhnya.
Masih bingung soal pengasuh anakmu yang hingga kini belum dapat
juga? Sementara kamu sudah kembali bekerja seperti biasa.
Hmm...bagaimana bila menitipkan si kecil ke daycare? Saat ini jasa
daycare semakin menjamur di kota-kota besar. Namun memang ada banyak hal
yang harus kamu perhatikan dalam memilih daycare agar anakmu
benar-benar diasuh dan dijaga di tempat yang tepat. Apa saja yang harus
kamu cermati?
3.Cek Ruang Bermain
Paling utama yang harus diperhatikan, ruang bermain anak harus aman
dan bersih. Aman artinya nggak ada benda-benda yang bisa membahayakan si
kecil di dalam ruang bermain tersebut, sedangkan bersih menandakan daycare tersebut
sudah membersihkan ruang bermain anak secara rutin. Jika ruang
bermainnya sudah aman dan bersih, biasanya anak akan lebih mudah
beradaptasi dan merasa nyaman.
4.Memiliki Pakar atau Dokter
Untuk menjaga keselamatan si kecil selama kamu titipkan, usahakan daycare yang
dipilih memiliki seorang dokter anak atau psikolog untuk menangani
kasus-kasus kesehatan anak. Jika memang mereka nggak menyediakannya,
pastikan lokasi rumah sakit, klinik, atau pusat kesehatan nggak jauh
dari daycare tersebut. Dengan begitu, jika terjadi sesuatu, anakmu bisa cepat ditangani oleh ahlinya.
Masih bingung soal pengasuh anakmu yang hingga kini belum dapat
juga? Sementara kamu sudah kembali bekerja seperti biasa.
Hmm...bagaimana bila menitipkan si kecil ke daycare? Saat ini jasa
daycare semakin menjamur di kota-kota besar. Namun memang ada banyak hal
yang harus kamu perhatikan dalam memilih daycare agar anakmu
benar-benar diasuh dan dijaga di tempat yang tepat. Apa saja yang harus
kamu cermati?
5.Menu Makanan
Jika kamu nggak sempat membuatkan makanan untuk si kecil, cari daycare yang
menyediakan menu makanan untuk anak-anak. Minta mereka untuk
menunjukkan menu apa saja yang disajikan kepada anak tiap harinya. Tapi
hati-hati, Mom, ada beberapa daycare nakal yang
ternyata nggak memberikan menu yang sudah dijanjikan. Untuk mengatasi
hal ini, ada baiknya sesekali kamu melakukan kunjungan mendadak saat jam
makan siang untuk melihat menu makanan yang diberikan untuk anakmu.
6.Program Edukatif
Dengan biaya yang nggak sedikit, pastinya kamu nggak ingin anakmu hanya sekedar makan, tidur, dan bermain setiap hari di daycare dong.
Tempat pengasuhan anak yang baik adalah yang memiliki beberapa program
edukatif yang mengajak anak bermain sambil belajar. Dengan begitu,
anakmu juga nggak akan bosan karena melakukan kegiatan yang sama setiap
hari.
7.Pertimbangkan Biaya
Last but not least adalah soal biaya. Daycare yang biayanya selangit belum tentu cocok untuk anakmu, meski mungkin kualitasnya memang bagus. Jangan memaksakan diri memilih daycare yang mahal hanya karena beberapa alasan yang sepele, seperti gengsi. Sesuaikan biaya daycare dengan budget yang kamu miliki, pilih beberapa yang sesuai dengan kriteria, lalu tentukan pilihan. Tapi jangan juga memilih daycare yang
paling murah agar nggak mengeluarkan uang terlalu banyak ya, karena
bagaimanapun kenyamanan dan keselamatan anakmu adalah yang paling utama.
sumber: http://family.fimela.com/read/2012/09/06/pilah-pilih-daycare-yang-berkualitas-untuk-anak?page=0,0#.UFLBDq4rqBM
Thursday, September 13, 2012
Awas "Kambing Hitam" Menghantui Pola Asuh Anak
Sebagai orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak.
Tapi tanpa kamu sadari ternyata sikap berlebihan dalam mendidik anak
malah bisa berdampak buruk bagi mereka. Apa maksudnya? Let's scroll
down!
Si kecil jatuh dan menangis. Pasti kamu panik dan langsung menggendong anakmu. Itu memang benar, Moms! Tapi cobalah mengingat, setelah itu apa yang kamu lakukan? Memukul kursi, meja atau benda yang membuatnya jatuh? Sambil berkata, “Kursinya nakal ya, bikin kamu jatuh.” Ternyata itu adalah kesalahan terbesar, karena kamu sejak dini sudah mengajarkan si kecil mencari “kambing hitam” atas kejadian buruk yang dialaminya.
Memanjakan
Kebiasaan mencari “kambing hitam” untuk kondisi tertentu, misal anak merasa tidak nyaman seperti anak terjatuh atau terpeleset ternyata akan direkam baik olehnya. Anak akan merasa ketika ia jatuh atau berbuat kesalahan akan ada "oknum" yang bisa disalahkan. Misalnya, si kecil terjatuh kerena berlari-lari di dalam rumah dan spontan kamu akan menyalahkan bahkan memukul lantai dan mengatakan lantainya nakal. Hal itu akan berdampak, si kecil menjadi anak yang manja dan gampang menangis. Akibatnya semakin bertambah usia anak maka ia akan belajar bahwa ia tidak boleh disalahkan dan bahkan ia tidak tahu bahwa penyebab ia jatuh adalah karena dirinya sendiri yang tidak berhati-hati. Sifat manja juga membuat anak akan bersikap permisif sehingga ia tidak peduli lingkungan sekitarnya.
Egois
Memberikan contoh dengan kamu bersikap selalu berpihak kepada anak bisa mencetak anak dengan sifat egois. Anak merasa ia tidak pernah salah karena dalam konsep anak mengerti bahwa kamu akan membelanya dan menyalahkan pihak lain atau bahkan benda di sekitarnya. Sedikit demi sedikit kamu telah menanamkan sifat egois, anak maunya sendiri. Karena kamu selalu dipihaknya. Dan saat dibangku sekolah, sifat egois ini akan semakin terlihat dan membuat si kecil dijauhi teman-temannya karena ia sejak dini belajar meniru bahwa ada pihak yang bisa disalahkan dan itu pasti bukan dirinya.
Sebagai orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Tapi tanpa kamu sadari ternyata sikap berlebihan dalam mendidik anak malah bisa berdampak buruk bagi mereka. Apa maksudnya? Let's scroll down!
Tidak Bisa Membedakan
Coba deh Mom ingat-ingat, kok bisa ya kamu menyalahkan kursi, lantai atau meja di rumah. Bahkan menjadikan itu penyebab dari anak jatuh. Lucu bukan? benda mati menjadi objek penderita. Dengan kamu bersikap seperti itu, bayangkan apa yang ada dalam pikiran anak tentang konsep benda mati dan benda bergerak. Anak tidak bisa membedakan mana benda mati dan benda bergerak bukan? Masa meja bisa jalan dan membuat si kecil tersandung? Hayo moms! Mulailah untuk mengajarkan anak berpikir realistis sejak dini.
Tidak Mengakui Kesalahan
Dampak negatif lainnya kalau kamu tidak segera memperbaiki kebiasaan mencari “kambing hitam” adalah membuat anak tidak mau mengakui kesalahan bilamana ia salah. Karena kamu selalu memback up dan tidak memberikan penjelasan kepada anak. Anak akan berpikir ia selalu benar dan pihak lain yang menanggung kesalahan tersebut . Padahal anak harus diajarkan untuk berani mengakui kesalahannya untuk paham bahwa mereka belajar untuk berhati-hati dan tidak bersikap semaunya. Anak yang berani mengakui kesalahan juga menjadikan anak belajar untuk berkata jujur.
So, mulailah menjelaskan kepada si kecil bahwa kalau berlari-lari harus berhati-hati. Dan kalau jatuh, ia harus menanggung risiko atas tindakan yang dilakukannya. Ini akan membuat anak merasa bahwa ia tidak harus selalu dibela dan mengerti bahwa setiap hal yang dilakukan ada risikonya.
sumber: http://family.fimela.com/read/2012/09/10/awas-%E2%80%9Ckambing-hitam%E2%80%9D-menghantui-pola-asuh-anak?page=0,0#.UFK-wq4rqBM
Si kecil jatuh dan menangis. Pasti kamu panik dan langsung menggendong anakmu. Itu memang benar, Moms! Tapi cobalah mengingat, setelah itu apa yang kamu lakukan? Memukul kursi, meja atau benda yang membuatnya jatuh? Sambil berkata, “Kursinya nakal ya, bikin kamu jatuh.” Ternyata itu adalah kesalahan terbesar, karena kamu sejak dini sudah mengajarkan si kecil mencari “kambing hitam” atas kejadian buruk yang dialaminya.
Memanjakan
Kebiasaan mencari “kambing hitam” untuk kondisi tertentu, misal anak merasa tidak nyaman seperti anak terjatuh atau terpeleset ternyata akan direkam baik olehnya. Anak akan merasa ketika ia jatuh atau berbuat kesalahan akan ada "oknum" yang bisa disalahkan. Misalnya, si kecil terjatuh kerena berlari-lari di dalam rumah dan spontan kamu akan menyalahkan bahkan memukul lantai dan mengatakan lantainya nakal. Hal itu akan berdampak, si kecil menjadi anak yang manja dan gampang menangis. Akibatnya semakin bertambah usia anak maka ia akan belajar bahwa ia tidak boleh disalahkan dan bahkan ia tidak tahu bahwa penyebab ia jatuh adalah karena dirinya sendiri yang tidak berhati-hati. Sifat manja juga membuat anak akan bersikap permisif sehingga ia tidak peduli lingkungan sekitarnya.
Egois
Memberikan contoh dengan kamu bersikap selalu berpihak kepada anak bisa mencetak anak dengan sifat egois. Anak merasa ia tidak pernah salah karena dalam konsep anak mengerti bahwa kamu akan membelanya dan menyalahkan pihak lain atau bahkan benda di sekitarnya. Sedikit demi sedikit kamu telah menanamkan sifat egois, anak maunya sendiri. Karena kamu selalu dipihaknya. Dan saat dibangku sekolah, sifat egois ini akan semakin terlihat dan membuat si kecil dijauhi teman-temannya karena ia sejak dini belajar meniru bahwa ada pihak yang bisa disalahkan dan itu pasti bukan dirinya.
Sebagai orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Tapi tanpa kamu sadari ternyata sikap berlebihan dalam mendidik anak malah bisa berdampak buruk bagi mereka. Apa maksudnya? Let's scroll down!
Tidak Bisa Membedakan
Coba deh Mom ingat-ingat, kok bisa ya kamu menyalahkan kursi, lantai atau meja di rumah. Bahkan menjadikan itu penyebab dari anak jatuh. Lucu bukan? benda mati menjadi objek penderita. Dengan kamu bersikap seperti itu, bayangkan apa yang ada dalam pikiran anak tentang konsep benda mati dan benda bergerak. Anak tidak bisa membedakan mana benda mati dan benda bergerak bukan? Masa meja bisa jalan dan membuat si kecil tersandung? Hayo moms! Mulailah untuk mengajarkan anak berpikir realistis sejak dini.
Tidak Mengakui Kesalahan
Dampak negatif lainnya kalau kamu tidak segera memperbaiki kebiasaan mencari “kambing hitam” adalah membuat anak tidak mau mengakui kesalahan bilamana ia salah. Karena kamu selalu memback up dan tidak memberikan penjelasan kepada anak. Anak akan berpikir ia selalu benar dan pihak lain yang menanggung kesalahan tersebut . Padahal anak harus diajarkan untuk berani mengakui kesalahannya untuk paham bahwa mereka belajar untuk berhati-hati dan tidak bersikap semaunya. Anak yang berani mengakui kesalahan juga menjadikan anak belajar untuk berkata jujur.
So, mulailah menjelaskan kepada si kecil bahwa kalau berlari-lari harus berhati-hati. Dan kalau jatuh, ia harus menanggung risiko atas tindakan yang dilakukannya. Ini akan membuat anak merasa bahwa ia tidak harus selalu dibela dan mengerti bahwa setiap hal yang dilakukan ada risikonya.
sumber: http://family.fimela.com/read/2012/09/10/awas-%E2%80%9Ckambing-hitam%E2%80%9D-menghantui-pola-asuh-anak?page=0,0#.UFK-wq4rqBM
Thursday, July 5, 2012
Membuka PAUD di rumah...Why Not??
Creative Parenting Indonesia - Mendidik Anak Usia Dini Dgn Kreatif (Lagu Anak,Children/Kids Song, ): Membuka PAUD di Rumah? Kenapa Tidak? (Tips / Langk...: Membuka PAUD di Rumah? Kenapa Tidak? Seorang pendidik anak usia dini, Hamydah Indah Asman, sempat ragu dengan PAUD yang didirika...
Tips Mendirikan PAUD
Creative Parenting Indonesia - Mendidik Anak Usia Dini Dgn Kreatif (Lagu Anak,Children/Kids Song, ): Ibu RT Mau Buka PAUD? Gampang.... (Tips Mendirikan...: Cara Sederhana Buka PAUD Beberapa Bunda yang rindu untuk membuka PAUD bertanya di sebuah FORUM TK dan PAUD, tentang bagaimana cara me...
Thursday, June 21, 2012
Tes CALISTUNG, Perlukah ??
Tahun ajaran baru sudah di depan mata,
inilah saat yang paling merepotkan bagi para orang tua. Bukan saja yang
putra putrinya masuk perguruan tinggi, SMU, dan SMP tidak ketinggalan
orang tua yang anaknya masuk play group dan TK juga ikut sibuk memilih
sekolah yang “kualitasnya” paling bagus. Tentu saja demi pendidikan
terbaik untuk anak-anak.
Saya pun jadi ingat saat saya tinggal
sebuah perumahan yang umumnya dihuni keluarga muda di Pekanbaru.
Menjelang tahun ajaran baru seperti ini para ibu sibuk ngobrolin sekolah
TK paling bagus menurut mereka. Tak jarang mereka beradu argumentasi
untuk mempertahankan pendapat bahwa sekolah pilihannya lah yang paling
bagus. Untuk saya pribadi, memilih sekolah TK nggak usah terlalu dibikin
rumit pilih saja sekolah dekat rumah, alasannya tentu karena lebih
mudah untuk urusan antar jemputnya.
Ternyata orang tua yang memiliki putra
putri usia SD juga tak kalah pusingnya. Karena masuk SD sekarang
syaratnya bukan main ribetnya, dibandingkan tahun 1982 saat saya masuk
SD. Kalau dulu, asal mau daftar sekolah saja pihak sekolah pasti dengan
senang hati menerima. Sekarang SD saja sudah banyak macamnya, ada yang
namanya sekolah unggulan, sekolah binaan, sekolah Islam terpadu, sekolah
alam, sekolah full day dan entah apa lagi namanya. Label sekolah
favorit disematkan pada sekolah-sekolah tertentu dengan fasilitas
sekolah yang lengkap dan nilai UASBN lulusannya di atas rata-rata.
Semakin banyak jenis sekolah, semakin banyak pula jenis tes masuknya,
tak kalah dengan tes masuk perguruan tinggi.
Fenomena tes calistung memang marak
beberapa tahun belakangan ini. Katanya sih untuk menyaring siswa yang
akan mendaftar ke sebuah SD, terutama sekolah unggulan atau sekolah
favorit milik pemerintah atau SD negeri. Karena peminatnya lebih banyak
dari daya tampung sekolah maka pihak sekolah menyeleksi calon siswa
dengan tes calistung selain seleksi umur. Banyak orang mempertanyakan
tes ini, karena dalam peraturan penerimaan siswa baru, tes calistung
tidak disyaratkan untuk masuk SD. Namun kenyataannya banyak SD yang
melakukannya.
Berikut sebagian bunyi PP 17 tahun 2010:
Pasal 69 :
(5) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain.
Pasal 70 :
Menurut para psikolog, membaca, menulis dan berhitung (calistung) ini tidak boleh diajarkan pada anak-anak usia TK. TK adalah tempat bermain dan tempat anak belajar bersosialisasi, calistung boleh diajarkan sepanjang hanya mengenalkan saja, itu juga harus dikenalkan sambil bermain. Saya ingat jaman saya TK dulu memang hanya diajarkan menggambar bulat, garis, segitiga dan menyanyi saja. Namun sekarang “kurikulum” TK sudah jauh berubah, dengan memasukkan calistung jadi bagian dari program belajarnya.(1) Dalam hal jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan, maka pemilihan peserta didik pada SD/MI berdasarkan pada usia calon peserta didik dengan prioritas dari yang paling tua.(2) Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada jarak tempat tinggal calon peserta didik yang paling dekat dengan satuan pendidikan.(3) Jika usia dan/atau jarak tempat tinggal calon peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan.
Saya juga memiliki pengalaman yang berbeda dengan ketiga anak saya soal calistung ini.
Anak pertama,
Saat TK A dia sudah
pandai membaca Iqra’, membaca koran, menulis walaupun di sekolah tidak
secara khusus mengajarkannya namun di rumah memang dikondisikan untuk
bisa. Lalu saat masuk TK B dia ikut sebuah kursus mental aritmatika dan
kemampuan berhitungnya tentu saja lebih baik dari anak seusianya. Saya
pikir agak memaksa sepertinya, tapi si anak tidak merasa bosan dan
tertekan dengan keadaannya ini.
Namun ketika masuk SD,
anak ini bingung ketika diberikan soal matematika berupa soal cerita.
Karena dia hanya terbiasa menghitung cepat (bahkan perkalian) alhasil
dia tidak mengerti mengenai konsep dan analisa. Misalnya ada soal
seperti ini : Ayah memiliki 5 buah permen, diberikan pada kakak 2 buah,
berapakah sisanya? Dia pasti kebingungan menjawab soal ini.
Anak kedua
Karena pengalaman
dengan anak pertama, ketika TK saya biarkan saja dia bermain tanpa
mengajarkannya membaca, dan berhitung secara khusus. Kalau dia bertanya
tentang huruf baru kami beritahu. Sama halnya dengan angka, dia susah
sekali mengenal dan menghafal angka sehingga sering terbalik-balik
menyebutkannya terutama angka belasan. Dan kami membiarkannya sambil
membimbing tanpa memaksanya untuk hafal.
Sampai akhirnya dia
mampu menghafal dan tidak salah lagi dalam menulis dan menyebut angka
waktu di televisi ada tayangan iklan kampanye (tahun 2004) yang
menyebutkan tanda gambar dengan angkanya. Tayangan televisi yang
berulang-ulang, rupanya membuat dia otomatis mengingatnya.
Anak Ketiga
Si bungsu bisa membaca
saat duduk di TK B. Calistung diajarkan di TK tempat dia sekolah. Tapi
dia hanya mau belajar di sekolah saja, dan tidak mau mengulangnya di
rumah. Sama seperti anak kedua, saya tidak memaksanya untuk belajar lagi
di rumah. Sejak bisa membaca, dia gemar sekali membaca headline surat
kabar langganan kami. Gemar juga bermain game dengan menu bahasa
Inggris, hobinya juga menghafalkan plat nomor kendaraan, misalnya B dari
Jakarta, L dari Surabaya, BM Pekanbaru hingga hampir semuanya dia tahu.
Berhitung juga bisa
dia lakukan sampai bersusun 3, diapun sepertinya senang jika bisa
menyelesaikan soal-soal yang kami anggap sulit untuk anak seumurannya.
Kami tidak pernah memaksakan, kalau dia mau dibuatkan soal ya kami
buatkan, tapi kalau bosan tidak kami teruskan. Pokoknya asal dia senang
dan enjoy saja.
Untuk Apa Tes Calistung?
Soal perlu dan
tidaknya tes calistung pada penerimaan siswa baru di SD memang masih
mengundang banyak pro dan kontra. Saya sendiri melihat tes calistung ini
sebenarnya perlu dilakukan, tapi tidak untuk menentukan diterima atau
tidaknya seorang siswa. Tes ini lebih kepada tes kemampuan, untuk
memudahkan guru mengelompokkannya hingga dapat diberikan latihan
calistung lebih intensif.
Ada hal yang
sebenarnya kontradiktif antara aturan UU no. 69 yang sudah disebutkan di
atas dengan kurikulum yang berlaku untuk kelas 1 SD. Lihat
saja isi buku-buku SD kelas 1 sekarang, saya pikir sangat tidak
memungkinkan jika anak yang tidak bisa membaca belajar menggunakan
buku-buku itu. Isi buku yang padat sangat tidak ramah untuk anak-anak yang belum bisa membaca.
Lain halnya waktu saya
kelas 1 SD dulu, pelajaran pada awal masuk adalah bacaan, “Ini Ibu
Budi, Ini Bapak Budi dan lain sebagainya”. Guru masih membimbing siswa
untuk mengejanya, tulisan dalam buku juga berupa tulisan yang jarang
dengan ukuran yang cukup besar. Jumlah mata pelajaran hanya 3 yaitu
bahasa Indonesia, Matematika dan IPA. Bandingkan dengan pelajaran anak
kelas 1 SD sekarang. Saya pun masih ingat ada beberapa teman yang masih
belum lancar membaca sampai kelas 3.
Sedikit cerita tentang
anak yang belum bisa membaca yang kebetulan menjadi teman anak bungsu
saya saat duduk di kelas 1 sebuah SD Negeri di Pekanbaru. Karena dia
tidak bisa membaca, maka otomatis dia selalu tertinggal mengikuti
pelajaran. Guru sudah memberi tambahan untuk belajar membaca di luar jam
sekolah tapi sepertinya kurang berhasil. Alhasil pada akhir tahun
ajaran, saat kenaikan kelas anak tersebut tidak naik kelas.
Jadi menurut saya,
jika pemerintah melarang sekolah untuk mengadakan tes calistung untuk
syarat masuk SD, kurikulum SD terutama kelas 1 harus dirubah. Bukan
seperti kurikulum yang sangat padat seperti sekarang. Bayangkan saja
jumlah mata pelajaran yang harus dipelajari anak-anak itu, ada sekitar 7
mata pelajaran belum lagi mata pelajaran muatan lokal. Seringkali saya
tidak tega melihat anak-anak itu menyandang tas yang beratnya mungkin
sama dengan tas saya saat SMP dulu.
Saya sih berharap pendidikan di Indonesia akan semakin baik dan berkualitas tanpa membuat anak-anak kehilangan waktu bermainnya.
Salam hangat..
sumber >> http://edukasi.kompasiana.com/2012/06/22/tes-calistung-untuk-masuk-sd-perlu-nggak-sih/
Wednesday, April 11, 2012
Seputar muslimah...: Kumpulan Doa Dari Al Quranul Kareem
Seputar muslimah...: Kumpulan Doa Dari Al Quranul Kareem: Doa Dari Al Quranul Kareem
Sumber: Fauzan Ibrahim
Assalamu’alaikum wa rahmatullah
Didoakan sekalian pembaca dalam sihat sejahtera s...
Sumber: Fauzan Ibrahim
Assalamu’alaikum wa rahmatullah
Didoakan sekalian pembaca dalam sihat sejahtera s...
Seputar muslimah...: Mendidik anak secara Islami
Seputar muslimah...: Mendidik anak secara Islami: Pengajian I Muslimah Hari/Tanggal : Sabtu / 10 Januari 2009 Pembicara : Ibu Rini Maryanto Moderator : Ibu Dewi Mara/Ibu Mira Ar...
Subscribe to:
Posts (Atom)