Thursday, September 13, 2012

Pilah-Pilih Daycare yang Berkualitas untuk Anak

 Masih bingung soal pengasuh anakmu yang hingga kini belum dapat juga? Sementara kamu sudah kembali bekerja seperti biasa. Hmm...bagaimana bila menitipkan si kecil ke daycare?  Saat ini jasa daycare semakin menjamur di kota-kota besar. Namun memang ada banyak hal yang harus kamu perhatikan dalam memilih daycare agar anakmu benar-benar diasuh dan dijaga di tempat yang tepat. Apa saja yang harus kamu cermati?

1. Ruangan Terpisah
Poin pertama yang harus kamu perhatikan dari sebuah daycare adalah adanya ruang terpisah antara bayi dan balita. Kalau anakmu masih bayi, ruang terpisah ini sangat penting karena jangan sampai saat sedang asik bermain, si kecil tiba-tiba terinjak atau tertindih balita lain yang lebih besar. Kegiatan bayi dan balita yang berbeda juga pastinya perlu pengawasan yang berbeda.

2.Cukup Pengasuh
Minta kepastian jumlah pengasuh yang ada di sana dan jumlah anak yang dititipkan setiap harinya. Sebaiknya tiap dua anak mendapatkan satu orang pengasuh, tapi kalau nggak memungkinkan jangan sampai anakmu dipegang oleh satu pengasuh bersama dengan tiga atau empat anak lain. Bisa-bisa si kecil nggak diperhatikan selama berada di daycare. Untuk memastikan data yang diberikan oleh pihak daycare, kunjungi langsung ruangan bermain anak untuk melihat kesigapan dan kesanggupan para pengasuhnya.

 Masih bingung soal pengasuh anakmu yang hingga kini belum dapat juga? Sementara kamu sudah kembali bekerja seperti biasa. Hmm...bagaimana bila menitipkan si kecil ke daycare?  Saat ini jasa daycare semakin menjamur di kota-kota besar. Namun memang ada banyak hal yang harus kamu perhatikan dalam memilih daycare agar anakmu benar-benar diasuh dan dijaga di tempat yang tepat. Apa saja yang harus kamu cermati? 

3.Cek Ruang Bermain
Paling utama yang harus diperhatikan, ruang bermain anak harus aman dan bersih. Aman artinya nggak ada benda-benda yang bisa membahayakan si kecil di dalam ruang bermain tersebut, sedangkan bersih menandakan daycare tersebut sudah membersihkan ruang bermain anak secara rutin. Jika ruang bermainnya sudah aman dan bersih, biasanya anak akan lebih mudah beradaptasi dan merasa nyaman.

4.Memiliki Pakar atau Dokter
Untuk menjaga keselamatan si kecil selama kamu titipkan, usahakan daycare yang dipilih memiliki seorang dokter anak atau psikolog untuk menangani kasus-kasus kesehatan anak. Jika memang mereka nggak menyediakannya, pastikan lokasi rumah sakit, klinik, atau pusat kesehatan nggak jauh dari daycare tersebut. Dengan begitu, jika terjadi sesuatu, anakmu bisa cepat ditangani oleh ahlinya.

 Masih bingung soal pengasuh anakmu yang hingga kini belum dapat juga? Sementara kamu sudah kembali bekerja seperti biasa. Hmm...bagaimana bila menitipkan si kecil ke daycare?  Saat ini jasa daycare semakin menjamur di kota-kota besar. Namun memang ada banyak hal yang harus kamu perhatikan dalam memilih daycare agar anakmu benar-benar diasuh dan dijaga di tempat yang tepat. Apa saja yang harus kamu cermati? 


5.Menu Makanan
Jika kamu nggak sempat membuatkan makanan untuk si kecil, cari daycare yang menyediakan menu makanan untuk anak-anak. Minta mereka untuk menunjukkan menu apa saja yang disajikan kepada anak tiap harinya. Tapi hati-hati, Mom, ada beberapa daycare nakal yang ternyata nggak memberikan menu yang sudah dijanjikan. Untuk mengatasi hal ini, ada baiknya sesekali kamu melakukan kunjungan mendadak saat jam makan siang untuk melihat menu makanan yang diberikan untuk anakmu.

6.Program Edukatif
Dengan biaya yang nggak sedikit, pastinya kamu nggak ingin anakmu hanya sekedar makan, tidur, dan bermain setiap hari di daycare dong. Tempat pengasuhan anak yang baik adalah yang memiliki beberapa program edukatif yang mengajak anak bermain sambil belajar. Dengan begitu, anakmu juga nggak akan bosan karena melakukan kegiatan yang sama setiap hari.

7.Pertimbangkan Biaya
Last but not least adalah soal biaya. Daycare yang biayanya selangit belum tentu cocok untuk anakmu, meski mungkin kualitasnya memang bagus. Jangan memaksakan diri memilih daycare yang mahal hanya karena beberapa alasan yang sepele, seperti gengsi. Sesuaikan biaya daycare dengan budget yang kamu miliki, pilih beberapa yang sesuai dengan kriteria, lalu tentukan pilihan. Tapi jangan juga memilih daycare yang paling murah agar nggak mengeluarkan uang terlalu banyak ya, karena bagaimanapun kenyamanan dan keselamatan anakmu adalah yang paling utama.

sumber:  http://family.fimela.com/read/2012/09/06/pilah-pilih-daycare-yang-berkualitas-untuk-anak?page=0,0#.UFLBDq4rqBM

Awas "Kambing Hitam" Menghantui Pola Asuh Anak

 Sebagai orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Tapi tanpa kamu sadari ternyata sikap berlebihan dalam mendidik anak malah bisa berdampak buruk bagi mereka. Apa maksudnya? Let's scroll down!

Si kecil jatuh dan menangis. Pasti kamu panik dan langsung menggendong anakmu. Itu memang benar, Moms! Tapi cobalah mengingat, setelah itu apa yang kamu lakukan? Memukul kursi, meja atau benda yang membuatnya jatuh? Sambil berkata, “Kursinya nakal ya, bikin kamu jatuh.” Ternyata itu adalah kesalahan terbesar, karena kamu sejak dini sudah mengajarkan si kecil mencari “kambing hitam” atas kejadian buruk yang dialaminya.
Memanjakan
Kebiasaan mencari “kambing hitam” untuk kondisi tertentu, misal anak merasa tidak nyaman seperti anak terjatuh atau terpeleset ternyata akan direkam baik olehnya. Anak akan merasa ketika ia jatuh atau berbuat kesalahan akan ada "oknum" yang bisa disalahkan. Misalnya, si kecil terjatuh kerena berlari-lari di dalam rumah dan spontan kamu akan menyalahkan bahkan memukul lantai dan mengatakan lantainya nakal. Hal itu akan berdampak, si kecil menjadi anak yang manja dan gampang menangis. Akibatnya semakin bertambah usia anak maka ia akan belajar bahwa ia tidak boleh disalahkan dan bahkan ia tidak tahu bahwa penyebab ia jatuh adalah karena dirinya sendiri yang tidak berhati-hati. Sifat manja juga membuat anak akan bersikap permisif sehingga ia tidak peduli lingkungan sekitarnya.
Egois
Memberikan contoh dengan kamu bersikap selalu berpihak kepada anak bisa mencetak anak dengan sifat egois. Anak merasa ia tidak pernah salah karena dalam konsep anak mengerti bahwa kamu akan membelanya dan menyalahkan pihak lain atau bahkan benda di sekitarnya. Sedikit demi sedikit kamu telah menanamkan sifat egois, anak maunya sendiri. Karena kamu selalu dipihaknya. Dan saat dibangku sekolah, sifat egois ini akan semakin terlihat dan membuat si kecil dijauhi teman-temannya karena ia sejak dini belajar meniru bahwa ada pihak yang bisa disalahkan dan itu pasti bukan dirinya.

Sebagai orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Tapi tanpa kamu sadari ternyata sikap berlebihan dalam mendidik anak malah bisa berdampak buruk bagi mereka. Apa maksudnya? Let's scroll down!

Tidak Bisa Membedakan
Coba deh Mom ingat-ingat, kok bisa ya kamu menyalahkan kursi, lantai atau meja di rumah. Bahkan  menjadikan itu penyebab dari anak jatuh. Lucu bukan? benda mati menjadi objek penderita. Dengan kamu bersikap seperti itu, bayangkan apa yang ada dalam pikiran anak tentang konsep benda mati dan benda bergerak. Anak tidak bisa membedakan mana benda mati dan benda bergerak bukan? Masa meja bisa jalan dan membuat si kecil tersandung? Hayo moms! Mulailah untuk mengajarkan anak berpikir realistis sejak dini.
Tidak Mengakui Kesalahan
Dampak negatif lainnya kalau kamu tidak segera memperbaiki kebiasaan mencari “kambing hitam” adalah membuat anak tidak mau mengakui kesalahan bilamana ia salah. Karena kamu selalu memback up dan tidak memberikan penjelasan kepada anak. Anak akan berpikir ia selalu benar dan pihak lain yang menanggung kesalahan tersebut . Padahal anak harus diajarkan untuk berani mengakui kesalahannya untuk paham bahwa mereka belajar untuk berhati-hati dan tidak bersikap semaunya. Anak yang berani mengakui kesalahan juga menjadikan anak belajar untuk berkata jujur.
So, mulailah menjelaskan kepada si kecil bahwa kalau berlari-lari harus berhati-hati. Dan kalau jatuh, ia harus menanggung risiko atas tindakan yang dilakukannya. Ini akan membuat anak merasa bahwa ia tidak harus selalu dibela dan mengerti bahwa setiap hal yang dilakukan ada risikonya.

sumber:  http://family.fimela.com/read/2012/09/10/awas-%E2%80%9Ckambing-hitam%E2%80%9D-menghantui-pola-asuh-anak?page=0,0#.UFK-wq4rqBM

Thursday, June 21, 2012

Tes CALISTUNG, Perlukah ??

Tahun ajaran baru sudah di depan mata, inilah saat yang paling merepotkan bagi para orang tua. Bukan saja yang putra putrinya masuk perguruan tinggi, SMU, dan SMP tidak ketinggalan orang tua yang anaknya masuk play group dan TK juga ikut sibuk memilih sekolah yang “kualitasnya” paling bagus. Tentu saja demi pendidikan terbaik untuk anak-anak.

Saya pun jadi ingat saat saya tinggal sebuah perumahan yang umumnya dihuni keluarga muda di Pekanbaru. Menjelang tahun ajaran baru seperti ini para ibu sibuk ngobrolin sekolah TK paling bagus menurut mereka. Tak jarang mereka beradu argumentasi untuk mempertahankan pendapat bahwa sekolah pilihannya lah yang paling bagus. Untuk saya pribadi, memilih sekolah TK nggak usah terlalu dibikin rumit pilih saja sekolah dekat rumah, alasannya tentu karena lebih mudah untuk urusan antar jemputnya.

Ternyata orang tua yang memiliki putra putri usia SD juga tak kalah pusingnya. Karena masuk SD sekarang syaratnya bukan main ribetnya, dibandingkan tahun 1982 saat saya masuk SD. Kalau dulu, asal mau daftar sekolah saja pihak sekolah pasti dengan senang hati menerima. Sekarang SD saja sudah banyak macamnya, ada yang namanya sekolah unggulan, sekolah binaan, sekolah Islam terpadu, sekolah alam, sekolah full day dan entah apa lagi namanya. Label sekolah favorit disematkan pada sekolah-sekolah tertentu dengan fasilitas sekolah yang lengkap dan nilai UASBN lulusannya di atas rata-rata. Semakin banyak jenis sekolah, semakin banyak pula jenis tes masuknya, tak kalah dengan tes masuk perguruan tinggi.

Fenomena tes calistung memang marak beberapa tahun belakangan ini. Katanya sih untuk menyaring siswa yang akan mendaftar ke sebuah SD, terutama sekolah unggulan atau sekolah favorit milik pemerintah atau SD negeri. Karena peminatnya lebih banyak dari daya tampung sekolah maka pihak sekolah menyeleksi calon siswa dengan tes calistung selain seleksi umur. Banyak orang mempertanyakan tes ini, karena dalam peraturan penerimaan siswa baru, tes calistung tidak disyaratkan untuk masuk SD. Namun kenyataannya banyak SD yang melakukannya.

Berikut sebagian bunyi PP 17 tahun 2010:
Pasal 69 :
(5) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain.
Pasal 70 : 
(1) Dalam hal jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan, maka pemilihan peserta didik pada SD/MI berdasarkan pada usia calon peserta didik dengan prioritas dari yang paling tua.
(2) Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada jarak tempat tinggal calon peserta didik yang paling dekat dengan satuan pendidikan.
(3) Jika usia dan/atau jarak tempat tinggal calon peserta didik dengan satuan pendidikan             sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan.
Menurut para psikolog, membaca, menulis dan berhitung (calistung) ini tidak boleh diajarkan pada anak-anak usia TK. TK adalah tempat bermain dan tempat anak belajar bersosialisasi, calistung boleh diajarkan sepanjang hanya mengenalkan saja, itu juga harus dikenalkan sambil bermain. Saya ingat jaman saya TK dulu memang hanya diajarkan menggambar bulat, garis, segitiga dan menyanyi saja. Namun sekarang “kurikulum” TK sudah jauh berubah, dengan memasukkan calistung jadi bagian dari program belajarnya.

Saya juga memiliki pengalaman yang berbeda dengan ketiga anak saya soal calistung ini.

Anak pertama,
Saat TK A dia sudah pandai membaca Iqra’, membaca koran, menulis walaupun di sekolah tidak secara khusus mengajarkannya namun di rumah memang dikondisikan untuk bisa. Lalu saat masuk TK B dia ikut sebuah kursus mental aritmatika dan kemampuan berhitungnya tentu saja lebih baik dari anak seusianya. Saya pikir agak memaksa sepertinya, tapi si anak tidak merasa bosan dan tertekan dengan keadaannya ini.
Namun ketika masuk SD, anak ini bingung ketika diberikan soal matematika berupa soal cerita. Karena dia hanya terbiasa menghitung cepat (bahkan perkalian) alhasil dia tidak mengerti mengenai konsep dan analisa. Misalnya ada soal seperti ini : Ayah memiliki 5 buah permen, diberikan pada kakak 2 buah, berapakah sisanya? Dia pasti kebingungan menjawab soal ini.

Anak kedua
Karena pengalaman dengan anak pertama, ketika TK saya biarkan saja dia bermain tanpa mengajarkannya membaca, dan berhitung secara khusus. Kalau dia bertanya tentang huruf baru kami beritahu. Sama halnya dengan angka, dia susah sekali mengenal dan menghafal angka sehingga sering terbalik-balik menyebutkannya terutama angka belasan. Dan kami membiarkannya sambil membimbing tanpa memaksanya untuk hafal.
Sampai akhirnya dia mampu menghafal dan tidak salah lagi dalam menulis dan menyebut angka waktu di televisi ada tayangan iklan kampanye (tahun 2004) yang menyebutkan tanda gambar dengan angkanya. Tayangan televisi yang berulang-ulang, rupanya membuat dia otomatis mengingatnya.

Anak Ketiga
Si bungsu bisa membaca saat duduk di TK B. Calistung diajarkan di TK tempat dia sekolah. Tapi dia hanya mau belajar di sekolah saja, dan tidak mau mengulangnya di rumah. Sama seperti anak kedua, saya tidak memaksanya untuk belajar lagi di rumah. Sejak bisa membaca, dia gemar sekali membaca headline surat kabar langganan kami. Gemar juga bermain game dengan menu bahasa Inggris, hobinya juga menghafalkan plat nomor kendaraan, misalnya B dari Jakarta, L dari Surabaya, BM Pekanbaru hingga hampir semuanya dia tahu.
Berhitung juga bisa dia lakukan sampai bersusun 3, diapun sepertinya senang jika bisa menyelesaikan soal-soal yang kami anggap sulit untuk anak seumurannya. Kami tidak pernah memaksakan, kalau dia mau dibuatkan soal ya kami buatkan, tapi kalau bosan tidak kami teruskan. Pokoknya asal dia senang dan enjoy saja.

Untuk Apa Tes Calistung?
Soal perlu dan tidaknya tes calistung pada penerimaan siswa baru di SD memang masih mengundang banyak pro dan kontra. Saya sendiri melihat tes calistung ini sebenarnya perlu dilakukan, tapi tidak untuk menentukan diterima atau tidaknya seorang siswa. Tes ini lebih kepada tes kemampuan, untuk memudahkan guru mengelompokkannya hingga dapat diberikan latihan calistung lebih intensif.

Ada hal yang sebenarnya kontradiktif antara aturan UU no. 69 yang sudah disebutkan di atas dengan kurikulum yang berlaku untuk kelas 1 SD. Lihat saja isi buku-buku SD kelas 1 sekarang, saya pikir sangat tidak memungkinkan jika anak yang tidak bisa membaca belajar menggunakan buku-buku itu. Isi buku yang padat sangat tidak ramah untuk anak-anak yang belum bisa membaca.

Lain halnya waktu saya kelas 1 SD dulu, pelajaran pada awal masuk adalah bacaan, “Ini Ibu Budi, Ini Bapak Budi dan lain sebagainya”. Guru masih membimbing siswa untuk mengejanya, tulisan dalam buku juga berupa tulisan yang jarang dengan ukuran yang cukup besar. Jumlah mata pelajaran hanya 3 yaitu bahasa Indonesia, Matematika dan IPA. Bandingkan dengan pelajaran anak kelas 1 SD sekarang. Saya pun masih ingat ada beberapa teman yang masih belum lancar membaca sampai kelas 3.

Sedikit cerita tentang anak yang belum bisa membaca yang kebetulan menjadi teman anak bungsu saya saat duduk di kelas 1 sebuah SD Negeri di Pekanbaru. Karena dia tidak bisa membaca, maka otomatis dia selalu tertinggal mengikuti pelajaran. Guru sudah memberi tambahan untuk belajar membaca di luar jam sekolah tapi sepertinya kurang berhasil.  Alhasil pada akhir tahun ajaran, saat kenaikan kelas anak tersebut tidak naik kelas.

Jadi menurut saya, jika pemerintah melarang sekolah untuk mengadakan tes calistung untuk syarat masuk SD, kurikulum SD terutama kelas 1 harus dirubah. Bukan seperti kurikulum yang sangat padat seperti sekarang. Bayangkan saja jumlah mata pelajaran yang harus dipelajari anak-anak itu, ada sekitar 7 mata pelajaran belum lagi mata pelajaran muatan lokal. Seringkali saya tidak tega melihat anak-anak itu menyandang tas yang beratnya mungkin sama dengan tas saya saat SMP dulu.
Saya sih berharap pendidikan di Indonesia akan semakin baik dan berkualitas tanpa membuat anak-anak kehilangan waktu bermainnya.

Salam hangat..

sumber >> http://edukasi.kompasiana.com/2012/06/22/tes-calistung-untuk-masuk-sd-perlu-nggak-sih/

Wednesday, April 11, 2012

Seputar muslimah...: Kumpulan Doa Dari Al Quranul Kareem

Seputar muslimah...: Kumpulan Doa Dari Al Quranul Kareem: Doa Dari Al Quranul Kareem
Sumber: Fauzan Ibrahim

Assalamu’alaikum wa rahmatullah

Didoakan sekalian pembaca dalam sihat sejahtera s...

Seputar muslimah...: Mendidik anak secara Islami

Seputar muslimah...: Mendidik anak secara Islami: Pengajian I Muslimah Hari/Tanggal : Sabtu / 10 Januari 2009 Pembicara : Ibu Rini Maryanto Moderator : Ibu Dewi Mara/Ibu Mira Ar...