Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Wednesday, January 29, 2014

KYOIKU MAMA (Education Mama)

ditulis oleh Daoed Joesoef*



Di antara banyak faktor yang berperan membuat Jepang menjadi raksasa ekonomi di paro kedua abad XX adalah etika kerja dari karyawan yang stereotipe. Orang-orang yang biasa berbaju biru tua inilah yang merupakan mesin penggerak salah satu sukses ekonomi terbesar dalam sejarah modern. Beginilah bunyi cerita yang telah melegenda, sebelum datang kesaksian dari Tony Dickensheets. Dia adalah seorang pendidik Amerika di Charlottesville, Virginia.

Peran Ibu
Pada tahun 1996, dia berkesempatan beberapa bulan menetap di Jepang. Selama itu, ia berpindah-pindah tinggal di beberapa rumah keluarga karyawan. Berdasar pengamatannya, dia berkesimpulan, unsur kunci dari economic miracle Negeri Sakura ini ternyata telah diabaikan atau paling sedikit amat dianggap enteng, yaitu peran kyoiku mama atau education mama. Dengan kataan lain, pertumbuhan ekonomi Jepang yang luar biasa sejak 1960 bukanlah hasil kebijakan pemerintah melalui pekerja yang bersedia bekerja 16 jam per hari. Sementara para suami bekerja, para istri bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak.

Dalam kapasitas sebagai ibu inilah para istri membaktikan hidupnya demi kepastian keturunan mampu memasuki sekolah-sekolah bermutu. Maka, di balik karyawan Jepang yang beretika kerja terpuji itu ada perempuan umumnya, kyoiku mama atau education mama khususnya. Mereka inilah yang merupakan pilar-pilar kukuh yang menyangga para karyawan itu. Merekalah yang membantu perkembangan ekonomi yang luar biasa dari bangsanya sesudah Perang Dunia. Kerja dan pengaruh perempuan Jepang dapat dilihat dalam jalannya pendidikan nasional dan stabilitas sosial, yaitu dua hal yang sangat krusial bagi keberhasilan ekonomi sesuatu bangsa.

Jadi, perempuan Jepang ternyata berperan positif dalam membina dan mempertahankan kekukuhan fondasi pendidikan dan sosial yang begitu vital bagi kinerja kebangkitan ekonomi bangsanya. Ketika saya sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan diundang untuk meninjau berbagai lembaga pendidikan dasar, menengah, dan tinggi negeri ini, saya kagum melihat kebersihan ruang laboratorium di sekolah umum dan bengkel praktik di sekolah kejuruan teknik. Semua murid membuka sepatu sebelum memasuki ruangan dan menggantinya dengan sandal jepit yang sudah tersedia di rak dekat pintu, jadi lantai tetap bersih bagai kamar tidur. Ketika saya tanyakan kepada guru yang mengajar di situ bagaimana cara mendisiplinkan murid hingga bisa tertib, dia menjawab, Yang mulia, saya hampir tidak berbuat apa-apa dalam hal ini. Ibu-ibu merekalah yang telah mengajar anak-anak berbuat begitu.

Saya teringat sebuah kebiasaan di rumah tradisional Jepang.  Alih-alih menyapu debu di lantai, mereka masuk rumah tanpa bersepatu/bersandal agar debu tidak masuk rumah. Bagi mereka, kebersihan adalah suatu kebajikan. Di toko buku, saya melihat seorang ibu sedang memilih-milih buku untuk anaknya, seorang murid SD. Ketika saya sapa, dia menyadari saya orang asing, dia
tegak kaku dengan tersenyum malu-malu. Ibunya datang mendekati dan menekan kepala anaknya agar membungkuk berkali-kali, sebagaimana layaknya orang Jepang memberi hormat, sambil mengucapkan sesuatu yang lalu ditiru anaknya.  Setelah mengetahui saya seorang menteri pendidikan dan kebudayaan, entah atas bisikan siapa, banyak anak menghampiri saya, antre, memberi hormat dengan cara nyaris merukuk, meminta saya menandatangani buku yang baru mereka beli.

Perempuan dan Pendidikan

Lebih daripada di negeri-negeri lain, kelihatannya sistem pendidikan dan kebudayaan Jepang mengandalkan sepenuhnya peran perempuan dalam membesarkan anak. Karena itu dipegang teguh kebijakan ryosai kentro (istri yang baik dan ibu yang arif), yang menetapkan posisi perempuan selaku manajer urusan rumah tangga dan perawat anak-anak bangsa. Sejak dulu, filosofi ini merupakan bagian dari mindset Jepang dan menjadi kunci pendidikan dari generasi ke generasi. Pada paro kedua abad XX, peran kerumahtanggaan perempuan Jepang kian dimantapkan selaku kyoiku mama atau education mama. Menurut Tony Dickensheets, hal ini merupakan a purely Japanese phenomenon. Yang memantapkan itu adalah kesadaran para ibu Jepang sendiri. Mereka menilai diri sendiri dan, karena itu, dinilai oleh masyarakat berdasar keberhasilan anak-anaknya, baik sebagai warga, pemimpin, maupun pekerja. Banyak perempuan Jepang menganggap anak sebagai ikigai mereka, rasionale esensial dari hidup mereka. Setelah menempuh sekolah menengah, kebanyakan perempuan Jepang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Jika di Barat ada anggapan perempuan berpendidikan akademis yang melulu tinggal di rumah membesarkan anak sebagai wasting her talents, di Jepang orang percaya, seorang ibu seharusnya berpendidikan baik dan berpengetahuan cukup untuk bisa memenuhi tugasnya sebagai pendidik anak-anaknya.  Kalaupun ada ibu yang mencari nafkah, biasanya bekerja part time agar bisa berada di rumah saat anak-anak pulang sekolah. Tidak hanya untuk memberi makan, tetapi lebih-lebih membantu mereka menyelesaikan dan menguasai PR dan atau menemani mengikuti pelajaran privat demi  penyempurnaan pendidikannya.

Membantu Ekonomi Bangsa
Perempuan Jepang membantu kemajuan ekonomi bangsa dengan dua cara, yaitu melalui proses akademis dan sosialisasi. Bagi orang Jepang, aspek sosialisasi pendidikan sama penting dengan aspek akademis, sebab hal itu membiasakan anak-anak menghayati nilai-nilai yang terus membina konformitas sikap dan perilaku yang menjamin stabilitas sosial. Mengingat kyoiku mama mampu membina kehidupan keluarga yang relatif stabil, sekolah tidak perlu terlalu berkonsentrasi pada masalah pendisiplinan. Lalu, para guru punya ketenangan dan waktu cukup untuk membelajarkan pengetahuan, keterampilan, kesahajaan, pengorbanan, kerja sama, tradisi, dan lain-lain
atribut dari sistem nilai Jepang.

Menurut Tony Dickensheets, sejak dini para pelajar Jepang menghabiskan lebih banyak waktu untuk kegiatan sekolah daripada pelajar-pelajar Amerika. Lama rata-rata tahun sekolah anak Jepang adalah 243 hari, sedangkan anak Amerika 178 hari. Selain menambah kira-kira dua bulan dalam setahun untuk sekolah, sebagian besar waktu libur anak- anak Jepang diisi dengan kegiatan bersama teman sekelas dan guru.  Bila pekerja/karyawan berdedikasi pada perusahaan, anak-anak berdedikasi pada sekolah. Mengingat tujuan sekolah meliputi persiapan untuk hidup bekerja, anak didik Jepang bisa disebut pekerja/karyawan yang sedang dalam proses training.
Walaupun pemerintah yang menetapkan tujuan sistem pendidikan Jepang, keberhasilannya ditentukan oleh orang-orang yang merasa terpanggil untuk menangani pendidikan. Jika bukan guru, sebagian terbesar dari mereka ini, paling sedikit di tingkat pendidikan dasar, adalah perempuan, ibu-ibu Jepang, kyoiku mama. Mereka inilah yang membentuk masa depan Jepang, melalui jasanya dalam pendidikan anak-anak. Maka, sungguh menarik saat di tengah gempita perayaan keberhasilan gadis Jepang menjadi Miss Universe 2007 di Meksiko, ada berita ibu-ibu Jepang mencela peristiwa itu sebagai penghargaan terhadap kesekian perempuan belaka, bukan penghormatan terhadap kelembutan dan prestasi keperempuanan Jepang. Celaan itu pasti merupakan cetusan nurani kyoiku mama. Berita ini bisa dianggap kecil karena segera menghilang. Namun di tengah pekatnya kegelapan, sekecil apa pun cahaya nurani tetap bermakna besar.

* Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan; Penulis Buku Emak” (buku ini lumayan bagus, layak dibaca dan dijadikan kado).

Wednesday, August 14, 2013

Lebih Khawatir manakah, tidak pandai Matematika atau Mengantri ?






Seorang guru di Australia pernah berkata:

“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Kerena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya.

Inilah jawabannya:

Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.
Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.
”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;”

Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.

dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak KidZania di Jakarta.

Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.
dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga?

Ah sayang sekali ya.... padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?

Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

Ah sayang sekali ya... Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral?

Ah sayang sekali ya... seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia. Mari kita ajari generasi muda kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik... 

**sumber diambil dari status akun facebook  Arif Setiawan

Sunday, December 23, 2012

Ketika Proses Pembelajaran Kehilangan Humor

Oleh: Amri Ikhsan *)

13560957471129257821
Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)

Pendidikan itu adalah proses berfikir perlu keseriusan apalagi proses pembelajaran. Semua langkah sebelum, dalam dan sesudah proses pembelajaran yang dilakukan guru adalah proses serius, penuh konsentrasi dan harus terukur. Apapun tugas guru, apapun beban kerja  sudah dipikir dengan serius oleh pemerintah melalui UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru/Dosen, PP nomor 74 tentang guru. Ini pekerjaan serius
Tapi, masalah yang sering muncul dalam proses pembelajaran adalah kejenuhan, kebosanan, ketegangan siswa yang terjebak dalam rutinitas yang dijalani setiap hari. Ditambah lagi dengan ‘penampilan’ guru kadang kadang ‘membunuh’ kreatifitas siswa, yaitu dengan menjadi ‘penguasa tunggal’ dalam kelas. Siswa ‘wajib’ mengikuti perintah penguasa tunggal ini tanpa kecuali.
Dilain pihak, ini bisa dimaklumi, tiap hari siswa dipaksa untuk menguasai materi pelajaran tanpa terukur berapa kuat kemampuan mengingat, menyimpan, dan menganalisa materi pelajaran. Setiap hari 4-5 materi, mulai dari jam 07.15 sampai siang bahkan sore. Siswa biasanya merasa sedikit fresh ketika hanya pada awal pelajaran, setelah itu mereka akan kehilangan semangat belajar bukan karena tidak mau belajar tapi karena proses pembelajaran yang monoton tanpa ketawa, tegang, penuh tekanan.
Tidak ‘segarnya’ siswa dalam proses pembelajaran bisa jadi karena terlalu serius guru  dalam mengelola pembelajaran. Kelihatannya, guru begitu antusias dalam menyampaikan materi pembelajaran seperti yang tertuang dalam kurikulum dan buku pelajaran tanpa mempertimbangkan ‘perasaan’ siswa. Dalam hal ini, siswa ‘wajib’ duduk dalam kelas, memperhatikan guru, tidak boleh ‘ribut’, tanpa memperhatikan apakah ia senang atau tidak. Siswa tidak boleh keluar dari ‘aturan main’ yang ditetapkan oleh guru itu sendiri.
“Kisah nyata ini” diperparah oleh “persepsi” guru yang tidak peduli dan sengaja membiarkan proses pembelajaran berjalan begitu saja, tanpa inovasi, pokoknya guru sudah menyampaikan materi pembelajaran tanpa ada gebrakan yang bisa ‘menghidupkan’ siswa untuk belajar. Sering sekali, guru masuk kelas hanya untuk memberi tugas mengerjakan LKS (Lembar Kerja Siswa) selama proses pembelajaran berlangsung. Guru juga dalam berkomunikasi dengan siswa hanya diawali dengan ceramah dan diakhiri dengan penugasan, begitu seterusnya. Tidak ada kata kata inspiratif, ungkapan ungkapan yang merangsang siswa untuk tersenyum atau ketawa yang mampu membangkitkan semangat peserta didik dalam belajar.
Berhubungan dengan LKS, ada 7 (tujuh) ayat dosa LKS: (1) keberadaan LKS menumbuhkan kejenuhan siswa dalam belajar. Guru saja banyak yang tidak suka LKS apalagi siswa; (2) memunculkan ketidak-kreatifan guru dalam proses pembelajaran; (3) menghambat guru dan siswa untuk berinovasi; (4) membuat ‘enak’ bagi guru tapi membuat jenuh bagi siswa; (5) mengiritkan bicara guru. Padahal bicara guru merupakan interaksi dengan siswa yang merupakan inti proses pembelajaran; (6) “memaksa” siswa untuk tidak membeli buku padahal buku itulah gudang ilmu; (7) LKS membuat guru ‘sedikit tersenyum’ mungkin karena dapat ‘fee”.
Akibatnya, pembelajaran di kelas bukan membuat siswa riang, kreatif dan segar. Tetapi justru menjadi momok yang cukup menakutkan, menegangkan dan menciptakan kelesuan dan kebosanan. “Penderitaan panjang siswa” dalam interaksi proses pembelajaran sering terjadi setiap jam pelajaran berlangsung. Kelas tidak lagi kondusif, siswa enggan masuk kelas, siswa diam ‘seribu bahasa’, kelas lesu, tidak ada diskusi, tanya jawab yang segar akibat komunikasi guru dan siswa yang tidak dibingkai dalam suasana keceriaan.
Ada 7 (tujuh) ayat yang mengindikasikan peserta didik tidak diajak senyum atau tertawa oleh guru dalam proses pembelajaran: (1) siswa tidak suka mata pelajaran yang diajarkan oleh guru itu; (2) siswa tidak memiliki buku mata pelajaran yang diajarkan guru itu; (3) siswa tidak pernah mengulang materi yang diajarkan oleh guru itu; (4) siswa sering bolos; (5) catatan siswa untuk pelajaran itu tidak teratur; (6) setelah tamat, tidak akan mengambil jurusan yang diajarkan guru itu; (7) ‘siswa kelihatan lebih tua dari siswa yang sering tertawa’.
Kelas yang tidak bergairah secepatnya di-reorganisasi secara holistik dengan ; (1) menggunakan bahasa yang ‘dekat dengan siswa’ walaupun itu bahasa ibu siswa: ‘apo cerito’, apo lokak’ dll; (2) ‘mengobral’ pujian verbal: “bagus”, baik”, semua tugas bernilai baik, dll.; (3) menggunakan tes dan nilai otentik, atau menilai teman sendiri. (4) merangsang rasa ingin tahu dan hasrat eksplorasi dengan memberikan pertanyaan yang ‘kontroversial’, yaitu pertanyaan yang bisa dipastikan siswa memiliki jawaban atas pertanyaan itu: “ mana yang muncul terlebih dulu, telor atau ayam”. (5) membuat kegiatan edukatif lain, siswa diminta membuat soal sendiri dan menjawab sendiri; (6) mengeksplor pengalaman pribadi siswa, dengan meminta siswa menceritakan hal hal pernah mereka lakukan dimasa lalu, dll dan dihubungkan materi pelajaran; (7) meyelipkan humor edukatif, permainan, simulasi, bernyanyi, dll.
Dihipotesakan, salah satu cara untuk menciptakan suasana segar dalam proses pembelajaran adalah dengan menciptakan humor edukatif. Keberadaan humor dapat mencairkan situasi yang kaku, tegang, memecahkan kejenuhan, kebosanan, membuat siswa ceria, tersenyum, tertawa.
Peran guru dalam memunculkan humor edukatif bukan ingin mengubah penampilan guru menjadi pelawak atau badut. Guru tetaplah guru. Humor guru haruslah cerdas, kreatif dan inovatif dalam rangka merangsang siswa untuk berfikir segar dan kritis sambil tertawa atau tersenyum. Tawa senyum siswa bukan sekedar ketawa lepas tetapi tawa sarat makna, tawa akademik, tawa yang membuat siswa segar untuk melanjutkan materi belajar berikutnya.
Humor edukatif tersebut bisa disampaikan secara langsung oleh guru, misalnya dengan menanyangkan media ”film/slide” lucu yang sudah banyak tersedia di internet melalui LCD, memberikan tebakan lucu, gambar lucu, dll.
Humor tidak sekedar mengajak kita berhenti cuma pada ketawa. Humor yang bermutu, sesudah terbahak-bahak yang sangat melegakan jiwa, nalar kita berkembang menuju pemahaman lebih dalam lagi (Mohammad Sobary, 2000). Humor yang ideal adalah membuat siswa terpancing untuk tersenyum dan tertawa dan ini harus dimanfaatkan guru sebagai satu titik kembalinya kesegaran siswa untuk melanjutkan proses pembelajaran dengan lebih semangat.
Humor tidak sama dengan tertawa murahan, ia lebih kaya dan lebih menuntut dibandingkan bercanda (Ira Shor, 2001). Menurut Adrew How (2005), humor yang sehat mampu mengurangi stress, memberi perspektif baru dan perasaan lebih baik. Humor yang negatif bisa menyinggung perasaaan orang lain, meningkatkan ketegangan dan perasaan lebih buruk.
Secara konseptual, membuat siswa tersenyum dan tertawa dalam proses pembelajaran tidak boleh terhenti pada terbangunnya kelas yang menyenangkan, penuh keakraban, segar, dan penuh toleransi serta mampu membangkitkan kembali motivasi siswa, tapi sebaiknya humor edukatif juga menciptakan kegairahan kembali (remotivasi) siswa untuk belajar lebih semangat dan rajin. Kelas yang penuh keterbukaan, penuh dengan senyum dan ketawa edukatif, akrab, dan gairah, segar bisa dipastikan memberi peluang bagi siswanya untuk lebih kreatif dibanding kelas yang kurang bergairah, tegang, lesu dan tertekan.
Banyak cara yang bisa dieksplor dalam pembelajaran untuk memancing siswa tersenyum dan tertawa: membuat kalimat yang tidak biasa, mengkontaskan kenyataan, memberi contoh yang dekat dengan siswa, menggunakan majas majas kontradiktif, dll. Bentuknya bisa berupa cerita humor, anekdot, sindiran, dan aksi dalam pembelajaran, atau dengan pantun jenaka atau pengalaman hidup siswa. Guru secara kreatif dapat menciptakan humor sesuai dengan kondisi dan situasi lingkungan pembelajaran agar lebih kontekstual.
Ada 7 (tujuh) ayat yang bisa dilakukan guru dalam memunculkan humor akademik: (1) teka teki lucu, misalnya (a) sebuah pohon kelapa dibelakang rumah disambar petir, kenapa orang orang menebang pohon kelapa itu?; (b) semakin dibuang isinya, semakin besar?, dll; (2) memampilkan gambar gambar lucu; (3) menampilkan video video lucu. Ini bisa di unduh di situs ‘youtube’; (4) tongue twister; (5) anekdot; (6) bermain angka; (7) membalikkan fakta, dll.
Semakin sering siswa tersenyum dan tertawa tentu saja membuat proses pembelajaran berlangsung dengan segar tanpa tekanan sekaligus membuat siswa kelihatan ‘lebih muda’ dan usia mereka dan mestinya akan melenjitkan prestasi siswa. Coba saja!

(*Pemerhati Pendidikan, Guru MAN Muara Bulian dan Dosen STAI Muara Bulian)

sumber  http://edukasi.kompasiana.com/2012/12/21/ketika-proses-pembelajaran-kehilangan-humor-517906.html

Guru Kreatif dan Tradisi Menyontek

Dalam setiap tahun kasus siswa menyontek selalu saja ada di setiap sekolah di manapun berada. Tidak perduli tingkat pendidikan sekolah dasar, menengah pertama ataukah menengah umum dan kejuruan, meski tidak pernah diajarkan sebagai mata pelajaran wajib atau muatan lokal di sekolah tampaknya ada saja oknum siswa yang sengaja menyontek. Entah sebuah tabiat ataukah genetik, sebab kalau boleh berandai-andai bisa jadi anak-anak yang menyontek hari ini adalah anak dari orang tua yang di masa sekolahnya juga menyontek. Tetapi, meski tidak bisa dibuktikan secara ilmiah dan uji laboratorium, seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kita sadari keterampilan anak dalam menyontek semakin saja terasah. Betapa tidak, sebut saja seorang siswa SD yang menyontek di tahun pertama dia bersekolah dan hal tersebut dilakukan berulang, maka setidaknya dia akan memiliki ketrampilan yang diasahnya sendiri dalam waktu 6 tahun. Jika hal ini berlanjut di SMP maka akan bertambah 3 tahun, jika berlanjut lagi di SMA maka akan bertambah lagi 3 tahun.

Tanpa memandang tingkat pendidikan dan tanpa memandang label suatu sekolah, perilaku menyontek tetap saja ada. Seperti apa yang terjadi di tiap ujian sekolah di sebuah sekolah Rintisan Bertaraf Internasional. Dan tepatnya pada ulangan tengah semester tahun ini, sejak hari pertama selalu saja ditemukan siswa menyontek disetiap ruang ujian. Selain memberi bukti bahwa perilaku menyontek tidak memandang label sekolah, peristiwa ini juga memberi bukti bahwa label sekolah belum tentu mencerminkan kualitas siswa dan mutu pembelajaran didalamnya. Tentu hal ini bukan sebuah prestasi melainkan ironi dari sekolah yang menyatakan dirinya sebagai sekolah bertaraf internasional atau sekolah lain yang ada pada umumnya. Seperti menjadi kecenderungan umum atau tradisi, anak sekolah hari ini yang apabila tidak “menyontek” tidak trendy, dan mereka yang tidak memberikan “contekan” bukan hanya akan dimusuhi tetapi akan terancam tidak punya teman.

Menciptakan Pilihan

Tentu masih segar di ingatan kita dengan peristiwa yang dialami Ny. Siami dan Alifah Ahmad Maulana pada tahun 2011 lalu. Hanya karena membocorkan skenario pencontekan masal yang terjadi pada saat Ujian Nasional (UN) di SDN Gadel II Kecamatan Tandes Surabaya, tempat sekolah anaknya, Ny. Siami dan keluarganya terpaksa harus diusir dari rumahnya dan diancam dikeluarkan dari sekolah. Pengusiran dan teror tersebut dilakukan oleh para orang tua murid yang merasa tindakan Ny.Siami akan mengakibatkan diberlakukannya ujian ulang bagi anak-anak mereka.

Sebenarnya terdapat kasus menyontek bukan hal baru di Indonesia, penelitian yang menunjukkan bahwa perilaku menyontek dilakukan siswa diantaranya oleh Alma (dalam Kushartanti, 2009) yang mengungkapkan bahwa 100% siswa pernah menyontek dalam ujian. Lebih separuh diantaranya sering dan seringkali menyontek. Penelitian lain pada siswa SMA di Surabaya menyebutkan bahwa 80% siswa pernah menyontek, 52% sering dan 28% jarang. Media yang paling banyak digunakan sebagai sarana menyontek adalah teman 38% dan meja tulis 26% (Khotimah, 2009). Mengapa ini bisa terjadi ?

Kita semua pernah sekolah, demikian pula anak-anak kita. Diantara anak-anak itu tentu saja ada yang berotak encer dan tak banyak menemui masalah. Namun harus diakui semakin hari sekolah semakin menakutkan bila ujian tiba, bukan hanya murid yang stress, guru dan orang tua pun gelisah. Mungkinkah semua persoalan itu terletak pada sistem pendidikan yang disebut Vicki Abeles sebagai sebuah “Race to No Where”. Perlombaan besar yang muaranya, tidak jadi apa-apa juga. Hidup kita jadi terbalik-balik. Yang sekolahnya dilalui dengan penuh kesungguhan bisa tak jadi apa-apa sedangkan yang sekolahnya main-main malah bisa menjadi pejabat, politisi terkenal, atau bahkan pengusaha besar. Sulit kita melawan buku-buku populis yang mengajarkan cara-cara jalan pintas, cara “goblok”nya Bob Sadino berwirausaha atau bahkan keluguan seorang motivator yang menyebutnya dengan judul besar di cover depan buku karangannya:  “The Power  of Malas”. Sungguh, ini sangat sulit!  Mengapa sulit?  Tentu bukan karena sekolah tidak penting, melainkan ada yang salah.

Pengalaman saya sebagai pendidik menemukan, anak-anak yang pintar di sekolah belum tentu pintar di masyarakat. Dan kegagalan terbesar justru terjadi pada anak-anak yang dibesarkan dalam persekolahan menghafal. Padahal menurut Renald Kasali “memorizing is not a good thinking”. Menghafal bukanlah cara berpikir yang baik. Maka dari itu, mata pelajaran yang terlalu bersifat menghafal perlu kita renungkan kembali, dan guru-guru pun harus dilatih ulang. Sebab mereka sendiri telah dibentuk oleh sistem pendidikan menghafal yang sangat merisaukan. Guru dan murid harus berubah, dari menghafal menjadi berpikir.

Melatih manusia berpikir adalah masalah mendasar yang perlu dipecahkan dalam sistem pendidikan nasional. Berpikir yang baik akan menghasilkan karya-karya besar, meski beresiko tersesat. Tetapi bukankah hanya orang tersesat saja yang berpikir? Hanya orang-orang berpikirlah yang tidak mudah tertipu yang tidak menjadi manusia sempit yang picik, yang tidak memikirkan diri atau kelompoknya sendiri, dan tentu saja orang yang berpikir akan menjadi manusia kreatif. Pilihan yang harus dipilih bukan hanya mata ajaran yang harus diperbaiki, teknik mengajar dan isi mata pelajaran pun perlu disempurnakan serta termasuk cara berpikir guru dan orang tua.

Perubahan pola pikir guru dan orang tua dimulai dengan memandang persoalan menyontek bukan sebagai benar atau salah. Persoalan menyontek tidak ada akan selesai dengan memberikan sangsi atau sekedar membuat surat pernyataan yang kemudian ditempel di setiap dinding sekolah. Pola pikir guru dan orang tua tidak boleh meninggalkan dasar pendidikan sebagai proses kemanusiaan. Jika kita ingin merubah pola pikir kita maka menyontek jangan dianggap sebagai hal biasa dan sederhana. Terlebih dengan beragam fakta penelitian dan pemberitaan, maka lebih tepat apabila menyontek merupakan persoalan kompleks yang terbentuk karena minimnya pilihan dari proses pembelajaran yang serba seragam.  Soal ujian yang lebih membutuhkan hafalan, dari sekedar penalaran yang merangkai beragam informasi harus diakui turut memberikan kontribusi. Sehingga, perubahan pola pendidikan dari menghafal menjadi berpikir dengan sendirinya akan memberikan pilihan baru bagi siswa untuk tidak menyontek pada tahap awal.

Kreatif dan bernilai

Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi hari ini tentunya pengetahuan sebagai keluaran proses pendidikan tidaklah cukup. Sebab, baik guru, sekolah dan orang tua tidak dapat memperkirakan dengan pasti pengetahuan apa yang dibutuhkan dimasa depan. 

Hasil penelitian terakhir tentang masyarakat intelektual di tengah era informasi modern sekarang, menyebutkan bahwa seorang individu harus dapat menyerap informasi sebanyak 820.000 kata per minggu atau  minimal setiap hari ia harus membaca antara 4—6 jam. Dengan dasar inilah mengapa “tradisi hafalan” dalam pendidikan kita menjadi tidak relevan pada hari ini. Anak-anak di sekolah harus dibekali dengan kemampuan untuk mengelola beragam informasi sebagai sebuah jawaban persoalan. Untuk itulah konsep pendidikan yang selama ini diterapkan sekolah yang hanya melibatkan elemen guru dan siswa harus dirubah. Menurut Yu Sien Lien (2011) konsep pendidikan yang harus coba diterapkan adalah konsep pendidikan kreatif (creative pedagogy).

Konsep pendidikan kreatif (creative pedagogy) berkembang seiring penelitian yang membuktikan bahwa kreativitas yang selama ini dipersepsikan sebagai bakat alam ternyata dapat dibentuk melalui beberapa strategi. Kreativitas yang dimaksud bukan saja kreativitas “seni’ tetapi juga kreatifitas penyelesaian masalah (problem solving). Oleh sebab itu dalam pendidikan kreatif (creative pedagogy) melibatkan tiga hal, pengajar yang kreatif (teaching for creativity), materi dan teknik pengajaran kreatif (creative teaching) dan pembelajaran kelas yang kreatif (creative learning). Sehingga pada gilirannya pembelajaran dan pengajaran tidak sebatas pada transfer pengetahuan tetapi transfer nilai dan keterampilan hidup (life skill). Merujuk pada komitmen pendidik masa depan untuk tidak memaksakan pembelajaran yang hanya bermuatan kognitif saja, namun lebih aplikatif sejalan dengan konsep pembelajaran UNESCO sebagai learning to learn critically, learning to do creatively, learning to work together constructively, dan learning how to be wise. Agar output pendidikannya tidak hanya mampu bersaing dimasa depan tetapi juga memberi kontribusi positif terhadap masyarakat.

Di sekolah kita, pendidikan kreatif tentu bukan hal yang baru, tetapi banyak di antara kita yang menganggap bahwa aspek kreatif hanya sebatas pada teknik, metode dan keterlibatan anak dalam pembelajaran. Padahal menurut Yu Sien Lien (2011), pendidikan kreatif berkaitan erat pula terhadap kualitas guru dan lingkungan sekolah. Dengan prinsip inilah sekolah harus memperlakukan anak-anak yang menyontek sebagai potensi kreatif yang perlu diarahkan. Sehingga sangsi yang diberikan jangan sampai meninggalkan trauma psikologis dengan mempermalukan siswa yang bersangkutan. Pemberian sanksi harus diubah lebih kreatif dengan tanpa meninggalkan proses transfer nilai dari guru, yang dapat ditempuh dalam beragam penugasan sebagai bentuk pendampingan perilaku. Untuk pelaku tindakan menyontek, guru harus mengingatkan siswa tentang pentingnya membangun integritas diri terkait kepercayaan orang lain kepada kita. Transfer nilai merupakan wujud peran penting sekolah dan guru sebagai penegak tatanan nilai didalam masyarakat.

Pendidikan kreatif membutuhkan lebih dari sekedar guru yang pandai dan tegas memberikan sanksi kepada siapa saja yang melanggarnya. Guru yang kreatif harus memiliki segudang cara untuk membangkitkan potensi anak didiknya. Pelaksanaan pendidikan kreatif harus syarat dengan nilai kemanusiaan, sebab hal yang tidak bisa diubah adalah setiap individu memiliki potensi yang sama untuk menjadi kreatif. Tidak terkecuali bagi pelaku tindakan menyontek, sebab prinsip kemanusian disekolah berarti memberikan ruang seluas-luasnya bagi setiap anak untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.


Referensi:
Robina Shaheen. 2010. Creativity and education. Creative Education 2010. Vol. 1. No. 3

Yanur Setyaningrum. 2011. Jihad Melawan Ketidakjujuran Akademik; Tantangan Guru Muhammadiyah  http://yanursetyaningrum.guru-indonesia.net/artikel_detail-21399.html

Yu-Sien Lin. 2011. Fostering Creativity through Education-A Conceptual Framework of Creative Pedagogy. Creative Education 2011. Vol. 2. No. 3

sumber  http://netsains.net/2012/12/guru-kreatif-dan-tradisi-menyontek/

Wednesday, December 12, 2012

:: Kebanggaan AYAH ::

Oleh: Ustadz Bobby Herwibowo
Bakri diundang ke sekolah anaknya untuk menghadiri peringatan 'Hari Ayah'. Sebenarnya, dia sangat enggan untuk datang karena merasa sudah tua dan memiliki empat anak.

Bahkan, anak tertuanya sudah masuk kuliah. Namun, istri dan anaknya yang keempat mendesaknya untuk datang ke sekolah.

Setiba di sekolah, para ayah kemudian dikumpulkan di sebuah ruangan untuk menyaksikan penampilan anak-anak mereka menunjukkan kemampuannya. Ada yang menyanyi, menari, menulis, baca puisi, pidato dalam bahasa asing, dan lainnya.

Setiap selesai penampilan, para ayah ini bertepuk tangan sebagai tanda kegembiraan atas kemampuan anaknya. Bakri hanya membatin bahwa dia juga demikian, saat anak pertamanya melakukan hal itu.

Karenanya, ketika tiba giliran anaknya yang bernama Umar, Bakri tampak biasa-biasa saja. Ia menduga, Umar akan menampilkan hal serupa dengan penampilan kawan-kawannya. Namun, dugaannya meleset.

Saat ibu guru sekolah menanyakan kepada Umar akan penampilannya, Umar menjawab bahwa dia ingin tampil bersama Ustaz Amir, guru ekstrakurikuler membaca Alquran di sekolah itu.

Umar mengatakan, ia akan membaca Surah al-Kahfi. Sadar akan jumlahnya banyak (110 ayat), ia meminta Ustaz Amir memilihkan ayat yang akan dibacanya. Saat diminta membaca ayat 1-5, dengan lancar Umar membaca. Dan yang luar biasa lagi, ternyata bacaan Umar sangat indah.

Ia meniru Muhammad Taha al-Junaid, seorang qari cilik yang terkenal dan sering didengar suaranya oleh Umar. Bacaannya begitu tenang dan penuh kedamaian. Kemudian, Ustaz Amir memintanya untuk membaca ayat ke-60. Dan dengan lancar, Umar membaca dengan suara yang juga sangat merdu serta menenangkan jiwa.

Kini, semua mata para ayah tertuju pada Umar. Mereka semua sangat kagum akan kemampuan Umar. Mata para ayah tampak berkaca-kaca. Seolah mereka penuh harap anak-anak mereka bisa seperti Umar. Demikian pula dengan Bakri, ayah Umar. Ia yang tadinya tak sepenuh hati datang ke sekolah, kini tampak bersemangat.

Belum selesai, Umar lagi-lagi diminta Ustaz Amir untuk membacakan ayat 107-110 Surah al-Kahfi sebagai penutup penampilannya. Maka, Umar pun membacanya tanpa kesalahan. Begitu selesai, Bakri langsung bangkit dan memeluk Umar. Ia begitu bangga dengan buah hatinya. Para ayah yang menyaksikan hal itu pun tampak terharu dengan derai air mata yang membasahi pipi.

Menyudahi suasana haru itu, ibu guru bertanya kepada Umar tentang alasan dia membaca Alquran untuk ayahnya. Umar menjawab, "Ustaz Amir pernah mengajarkan kepadaku agar rajin membaca Alquran. Dan kalau hafal, orang tuanya akan mulia di akhirat. Aku ingin ayah dan ibuku mendapat kemuliaan seperti itu," jawabnya. Semua yang hadir pun memuji kebesaran Allah.

Bakri kemudian meminta izin untuk memberikan sambutan. "Kita menyekolahkan anak-anak di sekolah terbaik agar bisa mengejar kemajuan dunia. Aku juga demikian. Dengan ambisi duniawi, aku menyekolahkan Umar dengan harapan ia akan memiliki masa depan gemilang. Hari ini aku sadar. Anakku justru telah membuat masa depanku gemilang dengan mempelajari dan menghafal Alquran. Terima kasih, anakku. Maafkan ayah yang lupa mendidikmu untuk mempelajari Alquran."


sumber http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/12/12/mewxmp-kebanggaan-ayah

Wednesday, November 28, 2012

:: Pendidikan QUR'ANI ::



Oleh: Hasan Basri Tanjung
Setiap anak yang dilahirkan adalah fitrah (suci). Kedua orang tua yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR Bukhari Muslim).

Hadis ini mengajarkan betapa peran orang tua sangat penting dalam membentuk karakter anak. Orang tua adalah guru utama dan keluarga sebagai sekolah pertama untuk melahirkan generasi terbaik. (QS [98]: 7).

Alquran mengingatkan umat Islam agar tidak meninggalkan generasi yang lemah (dzurriyyatan dhi’afan) (QS [4]: 9), tapi generasi yang kuat, cerdas, penyejuk mata dan hati serta pemimpin orang bertakwa. (QS [25]: 74).

Karenanya, pendidikan Islam harus berorientasi Qur’ani yakni pembentukan karakter Islami. Bukan berorientasi nilai (angka) akademik dan kelulusan, apalagi mengabaikan akhlak (moralitas).

Khalid Bin Hamid al-Hazimy, penulis buku, “Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah”, menjelaskan tiga orientasi pendidikan Qur’ani. Pertama, orientasi penanaman. Ibarat pohon, ia bermula dari bibit pilihan, ditanam dengan kesungguhan dan keikhlasan, hingga tumbuh dan berkembang menjadi pohon yang kokoh, rindang dan berbuah.

Begitu pula dengan manusia. Dari jutaan sperma, hanya satu yang berhasil membuahi sel telur dengan benih terbaik. (QS [76]: 1-2). Dalam kandungan, ia ditiupkan ruh Ilahi dengan potensi tauhid (QS [7]: 172). Ketika lahir, ia diazankan dan diiqamatkan agar mendengar kalimah tauhid dan thayyibah.

Pendidik Sejati, Luqman al-Hakim, telah memberikan teladan dalam mendidik anak yang benar yakni penanaman akidah lebih dahulu. Jika akidah tauhidnya kuat, maka kepribadiannya pun akan baik. (QS [31]: 12-19).

Kalimah thayyibah itu, laksana pohon yang akarnya menghunjam ke bumi dan dahannya menjulang ke langit, dengan buah yang banyak. (QS [14]: 24-25). Pepatah Arab mengatakan, “man yazra’ yahsud” (siapa menanam dia akan memanen).

Kedua, orientasi pemeliharaan. Ia mesti dijaga (evaluasi) dengan baik agar tumbuh menjadi pohon yang kokoh, sekaligus memperkuatnya dengan pupuk yang berisi akhlak mulia, agar tidak terjerumus pada hal-hal negatif.

Nabi Ya’qub AS bertanya kepada anak-anaknya, “Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?”

Mereka menjawab, “Kami akan menyembah tuhanmu, tuhan nenek moyangmu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, yakni Tuhan yang Mahaesa.” (QS [2]: 133). Kalau kita, sering menanyakan, “Apa yang akan kalian makan setelah aku mati?”

Ketiga, orientasi penyembuhan. Pohon yang tumbuh akan terus menghadapi bala dan hama. Ia harus diberi obat penawar untuk melawan hama. Jika tidak, ia bisa mati atau hidup segan mati tak mau.

Begitu pula perkembangan anak-anak di tengah tatanan sosial yang bobrok ini. Upaya-upaya sistematis dan massif untuk merusak akidah, pemikiran dan akhlak anak-anak sangat deras dan bertubi-tubi, termasuk pada siaran televisi TV yang memberitakan kekerasan, pornografi, serta pornoaksi.

Mereka harus dirangkul dan dibimbing menuju jalan yang benar. Jangan tinggalkan dalam kesesatan. Kita bimbing mereka dengan membaca dan merenungi Alquran, karena ia adalah obat dan penyejuk hati (QS [17]: 82), bertaubat dan istighfar (QS [66]: 8), mengerjakan kebaikan dan muhasabah. (HR Tirmidzi). Wallahu a’lam.

sumber  http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/11/27/me5dxq-pendidikan-qurani

Tuesday, October 16, 2012

:: mencari sekolah ISLAMI yang ISLAMI ::

oleh:  Mohammad Fauzil Adhim

Jika sekolah Islam tak lagi bersungguh-sungguh menanamkan iman sejak hari pertama masuk sekolah, dan menguatinya hingga mereka lulus, maka apakah yang membedakannya dengan sekolah-sekolah umum?

Jika sekolah-sekolah Islam tak lagi berserius menumbuhkan kecintaan shalat semenjak awal anak belajar, dan tidak mendampingi mereka satu per satu untuk mampu melakukan wudhu dan shalat dengan benar, tertib dan bersungguh-sunggguh, masih adakah alasan bagi kita untuk memasukkan anak kita di sana?

Sekolah-sekolah Islam harus sepenuhnya sadar bahwa kuatnya penanaman iman dan ibadah inilah yang menjadi pembeda penting dari sekolah-sekolah lainnya. Berawal dari iman yang kuat, mereka kita pacu untuk berprestasi. Artinya, justru iman itulah yang menjadi pemacunya sekaligus penjaga arah dari niat mereka belajar. Bukan menjadikan agama hanya sekedar fungsi instrumental. Kalau mau ujian, baru kita berserius mengajak mereka melakukan do'a bersama. Bukan pula bersibuk dengan prestasi akademik, tapi hal pokok justru terlupakan. Sebagaimana, sangat tidak tepat menjadikan iman dan prestasi sebagai dua hal yang bertentangan. Justru, mereka yang beriman harusnya lebih bersemangat belajar.

Ini yang perlu dilihat kembali oleh sekolah-sekolah Islam. Sudah adakah? Ataukah kita bahkan tidak resah manakala SD kelas 4 shalatnya masih berantakan? Apalagi jika sudah kelas 6.

Wahai para guru, kelak Allah Ta'ala akan bertanya kepadamu atas amanah yang engkau bersedia memikulnya hari ini!