Sunday, September 23, 2012

Mendidik anak dengan cinta dan logika

oleh: Ibu Elly Risman

Ada dua gaya mendidik populer. Gaya Helikopter dan Gaya Sersan Pelatih. Keduanya tidak bagus untuk perkembangan anak.

*Gaya HELIKOPTER*
Gaya helikopter: mengawasi anak terlalu berlebihan, menganggap anak seperti raja yang tidak boleh “disenggol” sedikitpun;
Gaya helikopter: tiada hari tanpa perlindungan, anak menemui kesulitan sedikit saja … bantuan langsung datang dan orangtua sangat tidak tegaan;
Akibat gaya helikopter jika terbawa sampai anak besar: nyogok sekolah terbaik, mencarikan kerja untuk anak, anak berkemah ditengokin;
Biasanya helicopter parents selalu berdalih ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Padahal yang terbaik itu bukan diwujudkan dengan  membelikan feeding set, stroller, atau barang-barang termahal.

*Gaya SERSAN PELATIH*
Gaya sersan pelatih: selalu mengatur, anak tidak diberi kesempatan untuk berpikir karena semuanya sudah diputuskan orangtua;
Gaya sersan pelatih dan helikopter mungkin terlihat bekerja dengan baik ketika anak masih kecil, tapi akan bermasalah di kemudian hari.

Banyak orangtua yang menerapkan dua pola asuh tersebut atas nama cinta. Padahal parenting itu bukan untuk jangka pendek, harus pikirkan dampak jangka panjangnya
Anak = pinjaman, dititipkan Tuhan untuk kebahagiaan, kesenangan, dan juga ujian kita. Jadi harus kita yang mengasuh secara total, bukan “diekspor”.

Sekarang banyak orangtua mengalihkan tugas pengasuhan ke orang lain, dari mulai babysitter, nenek, guru di sekolah sampai guru mengaji.

Pengasuhan yang efektif: cinta yang tidak permisif (semua boleh), cinta yang kuat untuk membiarkan anak berbuat salah dan menjalani konsekuensi;
Pengasuhan yang efektif: cinta yang tidak mentolerir tingkah laku yang tidak terpuji.

Kalau anak menangis karena mainan direbut temannya, jangan dialihkan dengan memberi mainan lain karena itu mengajarkan anak untuk menghindari masalah.
Sebaiknya anak yang merebut diharuskan untuk mengembalikan mainannya. Anak kita perlu diajarkan untuk mempertahankan haknya.

Masalah besar orangtua sekarang dengan anak mulai umur 7 tahun: tidak bertanggung jawab, manja, pemalas, dan melawan karena kecilnya salah asuh.

Kalau anak mau memakai baju yang tidak pas padu padannya kita selalu menyuruhnya ganti karena kita malu pada orang lain. Padahal parenting is never about us.

Peduli dengan anak bukan berarti melindungi dari semua kesalahan dalam proses berkembang. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar
Tanggung jawab tidak diajarkan tapi harus di-CONTOH-kan. Kalau mengharuskan anak membereskan mainannya, kita contohkan dengan membereskan barang atau bekas masak sendiri.
Tanggung jawab membutuhkan kesempatan. Kalau semuanya disediakan dan terlalu mudah, kapan anak akan mendapat kesempatan untuk belajar tanggung jawab?
Berikan anak pilihan dan batasan dari sedini mungkin. Proses pengambilan keputusan adalah momen yang sangat berharga.
Anak harus dicontohkan beberapa macam tanggung jawab. Terhadap Tuhan, diri sendiri, keluarga, alam, dan masyarakat
Anak yang bertanggung jawab akan tumbuh harga dirinya, lebih percaya diri, berprestasi, mandiri, dan mengerti konsekuensi.
Contoh kecil: kita dapat mengajak anak untuk memilih sendiri menu sarapannya untuk besok, biarkan mereka memiliki kontrol.

Anak belajar dari apa yang dia lihat, dengar, dan rasakan.
Tiga kaki konsep diri yang baik: merasa dicintai sekitar, yakin punya kemampuan dan merasa mampu mengontrol hidup sendiri.

Jangan mengambil alih proses pembelajaran anak seperti mengancingkan bajunya, menalikan sepatunya supaya cepat selesai.
Kasihan harga dirinya nanti ketika sudah TK atau SD tapi belum bisa mengancingkan bajunya sendiri.
Biarkan anak melakukan kesalahan asal tidak berbahaya, tekankan kekuatan yang dimilikinya, hindari mengkritik, dan melindungi.

Bermusyawarahlah dengan anak, kalau anak melakukan kesalahan jangan dihancurkan lagi harga dirinya.

Dalam rangka memperbaiki gaya pengasuhan kita:
Tutup AIB anak! Jangan suka mengeluh atau menjelekkan anak di media sosial. Kita nggak mau kan nanti dijelekkin mereka ke teman-temannya?
Buat prioritas, mana yang didahulukan, tetapkan target untuk diri sendiri, dan berikan target yang realistis untuk anak
Belajar untuk berkomunikasi dengan lebih baik, lengkapi diri, siapkan mental, dan selalu sediakan waktu (jangan tergesa-gesa)
It takes a village to raise a kid. Tularkan gaya pengasuhan yang kita mau ke pengasuh, kakek nenek, om tante, dan bahkan tetangga
TV tidak memberikan imajinasi karena TV itu kongkret ada visual dan audio. Buku memberikan imajinasi tak terbatas.

sumber  http://mommiesdaily.com/2011/05/16/mendidik-anak-dengan-cinta-dan-logika/

Thursday, September 20, 2012

Kue Ketan Lapis Srikaya


Ketan kukus yang gurih lembut dilapisi adonan srikaya yang lembut manis. Jajanan tradisional ini tak sulit dibuat. Paduan rasa kenyal gurih dan legit harum srikaya bisa bikin ketagihan.

Bahan:
500 g beras ketan putih
300 ml santan sedang
½ sdt garam
1 lembar daun pandan, potong-potong
Lapisan:
300 ml santan kental
4 butir telur ayam
250 g gula merah, sisir halus
3 sdm gula pasir
50 g tepung terigu
1 sdm tepung maizena
½ sdt vanili bubuk

Cara membuat:



  • Kukus ketan hingga setengah masak. Angkat.
  • Didihkan santan, garam dan daun pandan.
  • Tuang ke dalam ketan, aduk-aduk hingga santan habis terhisap ketan.
  • Kukus dalam kukusan hingga matang. Angkat.
  • Selagi masih hangat, ratakan dalam loyang segi empat sambil padatkan.
  • Lapisan:
  • Campur santan dan telur hingga rata.
  • Tambahkan bahan lainnya, aduk hingga gula larut. Saring.
  • Tusuki permukaan ketan di berbagai bagian dengan garpu.
  • Tuang adonan Lapisan ke atas ketan.
  • Kukus dalam kukusan panas (bungkus tutupnya dengan serbet bersih) selama 30 menit hingga matang.
  • Angkat dan dinginkan.
  • Potong-potong dan sajikan.

Untuk 20 potong

Kalori : 5241 kkal - 262 kkal/potong
Protein : 92,15 g - 4,61 g/potong
Karbohidrat : 773,7 g - 38,7 g/potong
Lemak : 207,15 g - 10,35 g/potong
Serat : 794,6 g - 39,7 g/potong


sumber http://food.detik.com/read/2012/09/21/094155/2028849/361/resep-kue-ketan-lapis-srikaya

Monday, September 17, 2012

Tumis Daging Teriyaki



Tumisan gaya Jepang ini praktis dan enak rasanya. Biasanya saya buat kalau sedang tidak banyak waktu buat memasak. Makin lama direndam bumbu, rasanya jadi makin enak lho! Cukup dimakan dengan nasi putih. Yuk, cobain!

Bahan :
150 g daging has sapi, iris melintang tipis
2 buah tahu putih, potong dadu 2 cm
2 sdm saus teriyaki
1 sdm garlic powder atau 1 siung bawang putih, haluskan
2 sdm minyak sayur
1 sdt minyak wijen
100 g bawang bombay, iris tipis
1 sdm kecap manis
100 ml air

Cara Membuat :

  • Aduk irisan daging,tahu, saus teriyaki dan bawang putih. Diamkan selama 30 menit atau semalaman dalm lemari es.
  • Panaskan minyak, tumis bawang bombay sampai layu.
  • Masukkan daging dan tahu, Aduk sampai daging berubah warna.
  • Tambahkan kecap manis dan air. Masak sampai daging empuk dan air menyusut.
  • Angkat, sajikan hangat.
Untuk 4 orang

sumber  http://food.detik.com/read/2011/11/21/123229/1771875/366/tumis-daging-teriyaki

MUN TAHU

 

Menu populer yang hampir selalu ada di restoran Cina ini selalu bikin kangen. Rasanya lembut gurih dengan aroma daging yang gurih enak. Kalau ingin pedas, tambahkan saja saus cabai atau cabai merah iris. Nikmati gurihnya selagi hangat!

Bahan :
1 sdm minyak sayur
3 siung bawang putih, cincang halus
2 cm jahe, iris
150 g daging sapi cincang
250 ml air
2 sdm saus sambal
3 sdm saus tiram
1 sdm kecap asin
½ sdt merica bubuk
3 buah tahu putih, potong dadu
2 batang daun bawang, iris tipis
1 sdt tepung maizena, larutkan dengan sedikit air

Cara Membuat :


  • Panaskan minyak, tumis bawang putih dan jahe sampai harum.
  • Masukan daging cincang, tumis sampai daging berubah warna.
  • Tambahkan air, masukan kecap asin, saus tiram, saus cabai dan tahu.
  • Masak sampai mendidih dan meresap.
  • Masukan daun bawang, aduk rata.
  • Tuangi larutan maizena. Aduk hingga kental.
  • Angkat, sajikan hangat.
Untuk 6 orang

sumber:  http://food.detik.com/read/2012/04/09/090500/1887453/366/resep-tahu-mun-tahu?d771108bcj

Kwetiau Udang Pedas



Biasanya makanan ini jadi pesanan saat jajan di luar. Kalau dibuat sendiri ternyata tidak terlalu repot. Asal kwetiaunya bagus, tambahan udang dan sedikit cabai bikin sajian ini jadi makin gurih dengan sentuhan sedikit pedas. Nyam..nyam!

Bahan:
500 g kwetiau basah yang bagus
2 sdm minyak sayur
2 siung bawang putih,cincang halus
1 batang daun bawang, iris halus
1 sdt cabai merah giling
50 g udang kupas, iris kasar
2 sdm kecap asin
1 sdm kecap manis
1/2 sdt merica bubuk
1 sdt garam
200 ml air
1 butir telur ayam, kocok
2 tangkai kucai, iris kasar
100 g tauge besar, bersihkan


Pelengkap:
Acar cabai rawit
Bawang merah goreng

  • Siram kwetiau dengan air panas, tiriskan segera.
  • Panaskan minyak, tumis bawang putih hingga wangi.
  • Masukkan cabai giling dan udang. Aduk hingga berubah warna.
  • Tambahkan kecap, saus tiram, merica dan garam serta air. Didihkan.
  • Masukkan telur, aduk hingga berserabut.
  • Masukkan kwetiau, tauge dan kucai.
  • Aduk rata dan masak hingga kuah agak kering.
  • Angkat, sajikan dengan Pelengkapnya.

Untuk 2 orang


sumber  http://food.detik.com/read/2012/09/17/140136/2022064/366/resep-mie-kwetiau-udang-pedas

Thursday, September 13, 2012

Pilah-Pilih Daycare yang Berkualitas untuk Anak

 Masih bingung soal pengasuh anakmu yang hingga kini belum dapat juga? Sementara kamu sudah kembali bekerja seperti biasa. Hmm...bagaimana bila menitipkan si kecil ke daycare?  Saat ini jasa daycare semakin menjamur di kota-kota besar. Namun memang ada banyak hal yang harus kamu perhatikan dalam memilih daycare agar anakmu benar-benar diasuh dan dijaga di tempat yang tepat. Apa saja yang harus kamu cermati?

1. Ruangan Terpisah
Poin pertama yang harus kamu perhatikan dari sebuah daycare adalah adanya ruang terpisah antara bayi dan balita. Kalau anakmu masih bayi, ruang terpisah ini sangat penting karena jangan sampai saat sedang asik bermain, si kecil tiba-tiba terinjak atau tertindih balita lain yang lebih besar. Kegiatan bayi dan balita yang berbeda juga pastinya perlu pengawasan yang berbeda.

2.Cukup Pengasuh
Minta kepastian jumlah pengasuh yang ada di sana dan jumlah anak yang dititipkan setiap harinya. Sebaiknya tiap dua anak mendapatkan satu orang pengasuh, tapi kalau nggak memungkinkan jangan sampai anakmu dipegang oleh satu pengasuh bersama dengan tiga atau empat anak lain. Bisa-bisa si kecil nggak diperhatikan selama berada di daycare. Untuk memastikan data yang diberikan oleh pihak daycare, kunjungi langsung ruangan bermain anak untuk melihat kesigapan dan kesanggupan para pengasuhnya.

 Masih bingung soal pengasuh anakmu yang hingga kini belum dapat juga? Sementara kamu sudah kembali bekerja seperti biasa. Hmm...bagaimana bila menitipkan si kecil ke daycare?  Saat ini jasa daycare semakin menjamur di kota-kota besar. Namun memang ada banyak hal yang harus kamu perhatikan dalam memilih daycare agar anakmu benar-benar diasuh dan dijaga di tempat yang tepat. Apa saja yang harus kamu cermati? 

3.Cek Ruang Bermain
Paling utama yang harus diperhatikan, ruang bermain anak harus aman dan bersih. Aman artinya nggak ada benda-benda yang bisa membahayakan si kecil di dalam ruang bermain tersebut, sedangkan bersih menandakan daycare tersebut sudah membersihkan ruang bermain anak secara rutin. Jika ruang bermainnya sudah aman dan bersih, biasanya anak akan lebih mudah beradaptasi dan merasa nyaman.

4.Memiliki Pakar atau Dokter
Untuk menjaga keselamatan si kecil selama kamu titipkan, usahakan daycare yang dipilih memiliki seorang dokter anak atau psikolog untuk menangani kasus-kasus kesehatan anak. Jika memang mereka nggak menyediakannya, pastikan lokasi rumah sakit, klinik, atau pusat kesehatan nggak jauh dari daycare tersebut. Dengan begitu, jika terjadi sesuatu, anakmu bisa cepat ditangani oleh ahlinya.

 Masih bingung soal pengasuh anakmu yang hingga kini belum dapat juga? Sementara kamu sudah kembali bekerja seperti biasa. Hmm...bagaimana bila menitipkan si kecil ke daycare?  Saat ini jasa daycare semakin menjamur di kota-kota besar. Namun memang ada banyak hal yang harus kamu perhatikan dalam memilih daycare agar anakmu benar-benar diasuh dan dijaga di tempat yang tepat. Apa saja yang harus kamu cermati? 


5.Menu Makanan
Jika kamu nggak sempat membuatkan makanan untuk si kecil, cari daycare yang menyediakan menu makanan untuk anak-anak. Minta mereka untuk menunjukkan menu apa saja yang disajikan kepada anak tiap harinya. Tapi hati-hati, Mom, ada beberapa daycare nakal yang ternyata nggak memberikan menu yang sudah dijanjikan. Untuk mengatasi hal ini, ada baiknya sesekali kamu melakukan kunjungan mendadak saat jam makan siang untuk melihat menu makanan yang diberikan untuk anakmu.

6.Program Edukatif
Dengan biaya yang nggak sedikit, pastinya kamu nggak ingin anakmu hanya sekedar makan, tidur, dan bermain setiap hari di daycare dong. Tempat pengasuhan anak yang baik adalah yang memiliki beberapa program edukatif yang mengajak anak bermain sambil belajar. Dengan begitu, anakmu juga nggak akan bosan karena melakukan kegiatan yang sama setiap hari.

7.Pertimbangkan Biaya
Last but not least adalah soal biaya. Daycare yang biayanya selangit belum tentu cocok untuk anakmu, meski mungkin kualitasnya memang bagus. Jangan memaksakan diri memilih daycare yang mahal hanya karena beberapa alasan yang sepele, seperti gengsi. Sesuaikan biaya daycare dengan budget yang kamu miliki, pilih beberapa yang sesuai dengan kriteria, lalu tentukan pilihan. Tapi jangan juga memilih daycare yang paling murah agar nggak mengeluarkan uang terlalu banyak ya, karena bagaimanapun kenyamanan dan keselamatan anakmu adalah yang paling utama.

sumber:  http://family.fimela.com/read/2012/09/06/pilah-pilih-daycare-yang-berkualitas-untuk-anak?page=0,0#.UFLBDq4rqBM

Awas "Kambing Hitam" Menghantui Pola Asuh Anak

 Sebagai orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Tapi tanpa kamu sadari ternyata sikap berlebihan dalam mendidik anak malah bisa berdampak buruk bagi mereka. Apa maksudnya? Let's scroll down!

Si kecil jatuh dan menangis. Pasti kamu panik dan langsung menggendong anakmu. Itu memang benar, Moms! Tapi cobalah mengingat, setelah itu apa yang kamu lakukan? Memukul kursi, meja atau benda yang membuatnya jatuh? Sambil berkata, “Kursinya nakal ya, bikin kamu jatuh.” Ternyata itu adalah kesalahan terbesar, karena kamu sejak dini sudah mengajarkan si kecil mencari “kambing hitam” atas kejadian buruk yang dialaminya.
Memanjakan
Kebiasaan mencari “kambing hitam” untuk kondisi tertentu, misal anak merasa tidak nyaman seperti anak terjatuh atau terpeleset ternyata akan direkam baik olehnya. Anak akan merasa ketika ia jatuh atau berbuat kesalahan akan ada "oknum" yang bisa disalahkan. Misalnya, si kecil terjatuh kerena berlari-lari di dalam rumah dan spontan kamu akan menyalahkan bahkan memukul lantai dan mengatakan lantainya nakal. Hal itu akan berdampak, si kecil menjadi anak yang manja dan gampang menangis. Akibatnya semakin bertambah usia anak maka ia akan belajar bahwa ia tidak boleh disalahkan dan bahkan ia tidak tahu bahwa penyebab ia jatuh adalah karena dirinya sendiri yang tidak berhati-hati. Sifat manja juga membuat anak akan bersikap permisif sehingga ia tidak peduli lingkungan sekitarnya.
Egois
Memberikan contoh dengan kamu bersikap selalu berpihak kepada anak bisa mencetak anak dengan sifat egois. Anak merasa ia tidak pernah salah karena dalam konsep anak mengerti bahwa kamu akan membelanya dan menyalahkan pihak lain atau bahkan benda di sekitarnya. Sedikit demi sedikit kamu telah menanamkan sifat egois, anak maunya sendiri. Karena kamu selalu dipihaknya. Dan saat dibangku sekolah, sifat egois ini akan semakin terlihat dan membuat si kecil dijauhi teman-temannya karena ia sejak dini belajar meniru bahwa ada pihak yang bisa disalahkan dan itu pasti bukan dirinya.

Sebagai orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Tapi tanpa kamu sadari ternyata sikap berlebihan dalam mendidik anak malah bisa berdampak buruk bagi mereka. Apa maksudnya? Let's scroll down!

Tidak Bisa Membedakan
Coba deh Mom ingat-ingat, kok bisa ya kamu menyalahkan kursi, lantai atau meja di rumah. Bahkan  menjadikan itu penyebab dari anak jatuh. Lucu bukan? benda mati menjadi objek penderita. Dengan kamu bersikap seperti itu, bayangkan apa yang ada dalam pikiran anak tentang konsep benda mati dan benda bergerak. Anak tidak bisa membedakan mana benda mati dan benda bergerak bukan? Masa meja bisa jalan dan membuat si kecil tersandung? Hayo moms! Mulailah untuk mengajarkan anak berpikir realistis sejak dini.
Tidak Mengakui Kesalahan
Dampak negatif lainnya kalau kamu tidak segera memperbaiki kebiasaan mencari “kambing hitam” adalah membuat anak tidak mau mengakui kesalahan bilamana ia salah. Karena kamu selalu memback up dan tidak memberikan penjelasan kepada anak. Anak akan berpikir ia selalu benar dan pihak lain yang menanggung kesalahan tersebut . Padahal anak harus diajarkan untuk berani mengakui kesalahannya untuk paham bahwa mereka belajar untuk berhati-hati dan tidak bersikap semaunya. Anak yang berani mengakui kesalahan juga menjadikan anak belajar untuk berkata jujur.
So, mulailah menjelaskan kepada si kecil bahwa kalau berlari-lari harus berhati-hati. Dan kalau jatuh, ia harus menanggung risiko atas tindakan yang dilakukannya. Ini akan membuat anak merasa bahwa ia tidak harus selalu dibela dan mengerti bahwa setiap hal yang dilakukan ada risikonya.

sumber:  http://family.fimela.com/read/2012/09/10/awas-%E2%80%9Ckambing-hitam%E2%80%9D-menghantui-pola-asuh-anak?page=0,0#.UFK-wq4rqBM