Sunday, January 13, 2013
:: Jambal Roti Cabai Hijau ::
Jambal Roti dengan Cabai Hijau
Bahan: 100 gram jambal roti, 200 gr cabai hijau, 50 gram bawang merah, 2 butir tomat hijau, minyak goreng.
Cara membuat:
Jambal roti dicuci, lalu iris persegi kecil, bawang merah diiris tipis, cabai hijau dan tomat diiris kasar. Jambal digoreng sampai kering, lalu angkat. Sisa minyak dipakai untuk menumis bawang merah sampai layu, masukkan cabai hijau, kacau-kacau sampai matang, masukkan tomatnya, aduk sebentar, lalu campurkan jambal goreng. Ratakan, angkat, lalu sajikan.
Ase Cabai Hijau
Bahan: 250 gram cabai hijau yang bentuknya besar, 150 gram tomat hijau, 4 siung bawang merah, 2 siung bawang putih, 3 butir kemiri, 1 potong gula jawa, garam sesedangnya, 2 sdm kecap, 2 batang serai, 1 iris lengkuas, 4 lembar daun salam, 2 cangkir santan, penyedap.
Cara membuat:
Cabai hijau digurat 4, jangan sampai putus, rebus sebentar, angkat, lalu tiriskan. Bumbu-bumbu, kecuali lengkuas, salam, dan serai, digerus, lalu ditumis dengan sedikit minyak sampai harum baunya, masukkan santan dan rempah-rempah serta cabai hijau. Didihkan beberapa saat, bubuhi kecap dan penyedap, rasakan, lalu angkat.
Teri Pedas dengan Cabai Hijau
Bahan: 100 gram teri medan, 200 gram cabai hijau, 1 papan petai, 5 siung bawang merah, 3 siung bawang putih, 1 sdm air asam, 1 sdm taoco, gula, garam, salam, lengkuas, minyak.
Cara membuat:
Teri dicuci bersih lalu digoreng hingga kering, petai dikupas, belah dua, cabai hijau diiris halus, cuci bersih. Dua macam bawang diiris tipis, tumis dengan sedikit minyak hingga harum baunya, masukkan rempah-rempah dan taoco, bubuhi kira-kira secangkir air, dan bumbu-bumbu. Aduk-aduk hingga airnya tinggal sedikit, masukkan teri, ratakan, lalu angkat.
Tumis Jagung Puntren dengan Cabai Hijau
Bahan: 200 gram jagung puntren, 200 gram cabai hijau, 100 gram udang, 4 siung bawang merah, 2 siung bawang putih, gula, garam, penyedap, minyak goreng.
Cara membuat:
Jagung dibelah dua memanjang, dua macam bawang diiris halus, cabai hijau dipotong kasar, cuci bersih. Dua macam bawang ditumis sampai layu, masukkan udang yang sudah dikupas dan digarami, aduk-aduk hingga udang berubah warna, masukkan jagung serta cabai hijau, bubuhi ½ cangkir air dan bumbu- bumbu. Didihkan beberapa saat, lalu angkat.
Resep: Nyonya Rumah
link http://female.kompas.com/read/2013/01/14/11411911/Jambal.Roti.Cabai.Hijau
Sunday, December 23, 2012
Ketika Proses Pembelajaran Kehilangan Humor
Oleh: Amri Ikhsan *)
Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)
Pendidikan
itu adalah proses berfikir perlu keseriusan apalagi proses
pembelajaran. Semua langkah sebelum, dalam dan sesudah proses
pembelajaran yang dilakukan guru adalah proses serius, penuh konsentrasi
dan harus terukur. Apapun tugas guru, apapun beban kerja sudah dipikir
dengan serius oleh pemerintah melalui UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang
Guru/Dosen, PP nomor 74 tentang guru. Ini pekerjaan serius
Tapi,
masalah yang sering muncul dalam proses pembelajaran adalah kejenuhan,
kebosanan, ketegangan siswa yang terjebak dalam rutinitas yang dijalani
setiap hari. Ditambah lagi dengan ‘penampilan’ guru kadang kadang
‘membunuh’ kreatifitas siswa, yaitu dengan menjadi ‘penguasa tunggal’
dalam kelas. Siswa ‘wajib’ mengikuti perintah penguasa tunggal ini tanpa
kecuali.
Dilain
pihak, ini bisa dimaklumi, tiap hari siswa dipaksa untuk menguasai
materi pelajaran tanpa terukur berapa kuat kemampuan mengingat,
menyimpan, dan menganalisa materi pelajaran. Setiap hari 4-5 materi,
mulai dari jam 07.15 sampai siang bahkan sore. Siswa biasanya merasa
sedikit fresh ketika hanya pada awal pelajaran, setelah itu
mereka akan kehilangan semangat belajar bukan karena tidak mau belajar
tapi karena proses pembelajaran yang monoton tanpa ketawa, tegang, penuh
tekanan.
Tidak
‘segarnya’ siswa dalam proses pembelajaran bisa jadi karena terlalu
serius guru dalam mengelola pembelajaran. Kelihatannya, guru begitu
antusias dalam menyampaikan materi pembelajaran seperti yang tertuang
dalam kurikulum dan buku pelajaran tanpa mempertimbangkan ‘perasaan’
siswa. Dalam hal ini, siswa ‘wajib’ duduk dalam kelas, memperhatikan
guru, tidak boleh ‘ribut’, tanpa memperhatikan apakah ia senang atau
tidak. Siswa tidak boleh keluar dari ‘aturan main’ yang ditetapkan oleh
guru itu sendiri.
“Kisah
nyata ini” diperparah oleh “persepsi” guru yang tidak peduli dan
sengaja membiarkan proses pembelajaran berjalan begitu saja, tanpa
inovasi, pokoknya guru sudah menyampaikan materi pembelajaran tanpa ada
gebrakan yang bisa ‘menghidupkan’ siswa untuk belajar. Sering sekali,
guru masuk kelas hanya untuk memberi tugas mengerjakan LKS (Lembar Kerja
Siswa) selama proses pembelajaran berlangsung. Guru juga dalam
berkomunikasi dengan siswa hanya diawali dengan ceramah dan diakhiri
dengan penugasan, begitu seterusnya. Tidak ada kata kata inspiratif,
ungkapan ungkapan yang merangsang siswa untuk tersenyum atau ketawa yang
mampu membangkitkan semangat peserta didik dalam belajar.
Berhubungan
dengan LKS, ada 7 (tujuh) ayat dosa LKS: (1) keberadaan LKS menumbuhkan
kejenuhan siswa dalam belajar. Guru saja banyak yang tidak suka LKS
apalagi siswa; (2) memunculkan ketidak-kreatifan guru dalam proses
pembelajaran; (3) menghambat guru dan siswa untuk berinovasi; (4)
membuat ‘enak’ bagi guru tapi membuat jenuh bagi siswa; (5) mengiritkan
bicara guru. Padahal bicara guru merupakan interaksi dengan siswa yang
merupakan inti proses pembelajaran; (6) “memaksa” siswa untuk tidak
membeli buku padahal buku itulah gudang ilmu; (7) LKS membuat guru
‘sedikit tersenyum’ mungkin karena dapat ‘fee”.
Akibatnya,
pembelajaran di kelas bukan membuat siswa riang, kreatif dan segar.
Tetapi justru menjadi momok yang cukup menakutkan, menegangkan dan
menciptakan kelesuan dan kebosanan. “Penderitaan panjang siswa” dalam
interaksi proses pembelajaran sering terjadi setiap jam pelajaran
berlangsung. Kelas tidak lagi kondusif, siswa enggan masuk kelas, siswa
diam ‘seribu bahasa’, kelas lesu, tidak ada diskusi, tanya jawab yang
segar akibat komunikasi guru dan siswa yang tidak dibingkai dalam
suasana keceriaan.
Ada
7 (tujuh) ayat yang mengindikasikan peserta didik tidak diajak senyum
atau tertawa oleh guru dalam proses pembelajaran: (1) siswa tidak suka
mata pelajaran yang diajarkan oleh guru itu; (2) siswa tidak memiliki
buku mata pelajaran yang diajarkan guru itu; (3) siswa tidak pernah
mengulang materi yang diajarkan oleh guru itu; (4) siswa sering bolos;
(5) catatan siswa untuk pelajaran itu tidak teratur; (6) setelah tamat,
tidak akan mengambil jurusan yang diajarkan guru itu; (7) ‘siswa
kelihatan lebih tua dari siswa yang sering tertawa’.
Kelas
yang tidak bergairah secepatnya di-reorganisasi secara holistik dengan ;
(1) menggunakan bahasa yang ‘dekat dengan siswa’ walaupun itu bahasa
ibu siswa: ‘apo cerito’, apo lokak’ dll; (2) ‘mengobral’ pujian
verbal: “bagus”, baik”, semua tugas bernilai baik, dll.; (3)
menggunakan tes dan nilai otentik, atau menilai teman sendiri. (4)
merangsang rasa ingin tahu dan hasrat eksplorasi dengan memberikan
pertanyaan yang ‘kontroversial’, yaitu pertanyaan yang bisa dipastikan
siswa memiliki jawaban atas pertanyaan itu: “ mana yang muncul terlebih
dulu, telor atau ayam”. (5) membuat kegiatan edukatif lain, siswa
diminta membuat soal sendiri dan menjawab sendiri; (6) mengeksplor
pengalaman pribadi siswa, dengan meminta siswa menceritakan hal hal
pernah mereka lakukan dimasa lalu, dll dan dihubungkan materi pelajaran;
(7) meyelipkan humor edukatif, permainan, simulasi, bernyanyi, dll.
Dihipotesakan,
salah satu cara untuk menciptakan suasana segar dalam proses
pembelajaran adalah dengan menciptakan humor edukatif. Keberadaan humor
dapat mencairkan situasi yang kaku, tegang, memecahkan kejenuhan,
kebosanan, membuat siswa ceria, tersenyum, tertawa.
Peran
guru dalam memunculkan humor edukatif bukan ingin mengubah penampilan
guru menjadi pelawak atau badut. Guru tetaplah guru. Humor guru haruslah
cerdas, kreatif dan inovatif dalam rangka merangsang siswa untuk
berfikir segar dan kritis sambil tertawa atau tersenyum. Tawa senyum
siswa bukan sekedar ketawa lepas tetapi tawa sarat makna, tawa akademik,
tawa yang membuat siswa segar untuk melanjutkan materi belajar
berikutnya.
Humor
edukatif tersebut bisa disampaikan secara langsung oleh guru, misalnya
dengan menanyangkan media ”film/slide” lucu yang sudah banyak tersedia
di internet melalui LCD, memberikan tebakan lucu, gambar lucu, dll.
Humor
tidak sekedar mengajak kita berhenti cuma pada ketawa. Humor yang
bermutu, sesudah terbahak-bahak yang sangat melegakan jiwa, nalar kita
berkembang menuju pemahaman lebih dalam lagi (Mohammad Sobary, 2000).
Humor yang ideal adalah membuat siswa terpancing untuk tersenyum dan
tertawa dan ini harus dimanfaatkan guru sebagai satu titik kembalinya
kesegaran siswa untuk melanjutkan proses pembelajaran dengan lebih
semangat.
Humor
tidak sama dengan tertawa murahan, ia lebih kaya dan lebih menuntut
dibandingkan bercanda (Ira Shor, 2001). Menurut Adrew How (2005), humor
yang sehat mampu mengurangi stress, memberi perspektif baru dan perasaan
lebih baik. Humor yang negatif bisa menyinggung perasaaan orang lain,
meningkatkan ketegangan dan perasaan lebih buruk.
Secara
konseptual, membuat siswa tersenyum dan tertawa dalam proses
pembelajaran tidak boleh terhenti pada terbangunnya kelas yang
menyenangkan, penuh keakraban, segar, dan penuh toleransi serta mampu
membangkitkan kembali motivasi siswa, tapi sebaiknya humor edukatif juga
menciptakan kegairahan kembali (remotivasi) siswa untuk belajar lebih
semangat dan rajin. Kelas yang penuh keterbukaan, penuh dengan senyum
dan ketawa edukatif, akrab, dan gairah, segar bisa dipastikan memberi
peluang bagi siswanya untuk lebih kreatif dibanding kelas yang kurang
bergairah, tegang, lesu dan tertekan.
Banyak
cara yang bisa dieksplor dalam pembelajaran untuk memancing siswa
tersenyum dan tertawa: membuat kalimat yang tidak biasa, mengkontaskan
kenyataan, memberi contoh yang dekat dengan siswa, menggunakan majas
majas kontradiktif, dll. Bentuknya bisa berupa cerita humor, anekdot,
sindiran, dan aksi dalam pembelajaran, atau dengan pantun jenaka atau
pengalaman hidup siswa. Guru secara kreatif dapat menciptakan humor
sesuai dengan kondisi dan situasi lingkungan pembelajaran agar lebih
kontekstual.
Ada
7 (tujuh) ayat yang bisa dilakukan guru dalam memunculkan humor
akademik: (1) teka teki lucu, misalnya (a) sebuah pohon kelapa
dibelakang rumah disambar petir, kenapa orang orang menebang pohon
kelapa itu?; (b) semakin dibuang isinya, semakin besar?, dll; (2)
memampilkan gambar gambar lucu; (3) menampilkan video video lucu. Ini
bisa di unduh di situs ‘youtube’; (4) tongue twister; (5) anekdot; (6) bermain angka; (7) membalikkan fakta, dll.
Semakin
sering siswa tersenyum dan tertawa tentu saja membuat proses
pembelajaran berlangsung dengan segar tanpa tekanan sekaligus membuat
siswa kelihatan ‘lebih muda’ dan usia mereka dan mestinya akan
melenjitkan prestasi siswa. Coba saja!
sumber http://edukasi.kompasiana.com/2012/12/21/ketika-proses-pembelajaran-kehilangan-humor-517906.html
Siswa Palestina Lebih Pintar Dibanding Siswa Indonesia
Anak-anak Palestina di Gaza City in seakan tak terimbas oleh serangan udara Israel pada Selasa malam hingga Rabu dini hari.
Ia menyatakan, yang membuat miris, Indonesia berada di bawah Palestina, negara yang didera konflik berkepanjangan. "Sungguh kita prihatin melihat urutan Indonesia. Di bawah kita negara-negara seperti Ghana, Suriah dan Oman," kata legislator asal daerah pemilihan Brebes-Tegal itu.
Karena itu, kata dia, pemerintah harus menjadikan publikasi TIMSS ini sebagai bahan dalam merumuskan kebijakan pendidikan nasional. Ia berharap hasil publikasi ini mendorong pemerintah lebih cermat dalam memotret persoalan pendidikan nasional.
"Saat ini pemerintah harus jeli melihat akar persoalan pendidikan nasional. Selama ini, akibat kesalahan mendefinisikan akar pendidikan menjadikan solusinya tidak bisa menjawab persolan yang ada," katanya.
Rohmani sendiri berpandangan episentrum perbaikan pendidikan nasional ada pada guru. Dia menilai, guru menjadi titik awal dalam menyelesaikan persoalan pendidikan.
Redaktur: Abdullah Sammy
Sumber: Antara
Guru Kreatif dan Tradisi Menyontek
Dalam setiap tahun kasus siswa menyontek selalu saja ada di setiap
sekolah di manapun berada. Tidak perduli tingkat pendidikan sekolah dasar,
menengah pertama ataukah menengah umum dan kejuruan, meski tidak pernah
diajarkan sebagai mata pelajaran wajib atau muatan lokal di sekolah
tampaknya ada saja oknum siswa yang sengaja menyontek. Entah sebuah
tabiat ataukah genetik, sebab kalau boleh berandai-andai bisa jadi
anak-anak yang menyontek hari ini adalah anak dari orang tua yang di masa
sekolahnya juga menyontek. Tetapi, meski tidak bisa dibuktikan secara
ilmiah dan uji laboratorium, seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi tanpa kita sadari keterampilan anak dalam menyontek semakin
saja terasah. Betapa tidak, sebut saja seorang siswa SD yang menyontek
di tahun pertama dia bersekolah dan hal tersebut dilakukan berulang, maka
setidaknya dia akan memiliki ketrampilan yang diasahnya sendiri dalam
waktu 6 tahun. Jika hal ini berlanjut di SMP maka akan bertambah 3
tahun, jika berlanjut lagi di SMA maka akan bertambah lagi 3 tahun.
Tanpa memandang tingkat pendidikan dan tanpa memandang label suatu sekolah, perilaku menyontek tetap saja ada. Seperti apa yang terjadi di tiap ujian sekolah di sebuah sekolah Rintisan Bertaraf Internasional. Dan tepatnya pada ulangan tengah semester tahun ini, sejak hari pertama selalu saja ditemukan siswa menyontek disetiap ruang ujian. Selain memberi bukti bahwa perilaku menyontek tidak memandang label sekolah, peristiwa ini juga memberi bukti bahwa label sekolah belum tentu mencerminkan kualitas siswa dan mutu pembelajaran didalamnya. Tentu hal ini bukan sebuah prestasi melainkan ironi dari sekolah yang menyatakan dirinya sebagai sekolah bertaraf internasional atau sekolah lain yang ada pada umumnya. Seperti menjadi kecenderungan umum atau tradisi, anak sekolah hari ini yang apabila tidak “menyontek” tidak trendy, dan mereka yang tidak memberikan “contekan” bukan hanya akan dimusuhi tetapi akan terancam tidak punya teman.
Menciptakan Pilihan
Tentu masih segar di ingatan kita dengan peristiwa yang dialami Ny. Siami dan Alifah Ahmad Maulana pada tahun 2011 lalu. Hanya karena membocorkan skenario pencontekan masal yang terjadi pada saat Ujian Nasional (UN) di SDN Gadel II Kecamatan Tandes Surabaya, tempat sekolah anaknya, Ny. Siami dan keluarganya terpaksa harus diusir dari rumahnya dan diancam dikeluarkan dari sekolah. Pengusiran dan teror tersebut dilakukan oleh para orang tua murid yang merasa tindakan Ny.Siami akan mengakibatkan diberlakukannya ujian ulang bagi anak-anak mereka.
Sebenarnya terdapat kasus menyontek bukan hal baru di Indonesia, penelitian yang menunjukkan bahwa perilaku menyontek dilakukan siswa diantaranya oleh Alma (dalam Kushartanti, 2009) yang mengungkapkan bahwa 100% siswa pernah menyontek dalam ujian. Lebih separuh diantaranya sering dan seringkali menyontek. Penelitian lain pada siswa SMA di Surabaya menyebutkan bahwa 80% siswa pernah menyontek, 52% sering dan 28% jarang. Media yang paling banyak digunakan sebagai sarana menyontek adalah teman 38% dan meja tulis 26% (Khotimah, 2009). Mengapa ini bisa terjadi ?
Kita semua pernah sekolah, demikian pula anak-anak kita. Diantara anak-anak itu tentu saja ada yang berotak encer dan tak banyak menemui masalah. Namun harus diakui semakin hari sekolah semakin menakutkan bila ujian tiba, bukan hanya murid yang stress, guru dan orang tua pun gelisah. Mungkinkah semua persoalan itu terletak pada sistem pendidikan yang disebut Vicki Abeles sebagai sebuah “Race to No Where”. Perlombaan besar yang muaranya, tidak jadi apa-apa juga. Hidup kita jadi terbalik-balik. Yang sekolahnya dilalui dengan penuh kesungguhan bisa tak jadi apa-apa sedangkan yang sekolahnya main-main malah bisa menjadi pejabat, politisi terkenal, atau bahkan pengusaha besar. Sulit kita melawan buku-buku populis yang mengajarkan cara-cara jalan pintas, cara “goblok”nya Bob Sadino berwirausaha atau bahkan keluguan seorang motivator yang menyebutnya dengan judul besar di cover depan buku karangannya: “The Power of Malas”. Sungguh, ini sangat sulit! Mengapa sulit? Tentu bukan karena sekolah tidak penting, melainkan ada yang salah.
Pengalaman saya sebagai pendidik menemukan, anak-anak yang pintar di sekolah belum tentu pintar di masyarakat. Dan kegagalan terbesar justru terjadi pada anak-anak yang dibesarkan dalam persekolahan menghafal. Padahal menurut Renald Kasali “memorizing is not a good thinking”. Menghafal bukanlah cara berpikir yang baik. Maka dari itu, mata pelajaran yang terlalu bersifat menghafal perlu kita renungkan kembali, dan guru-guru pun harus dilatih ulang. Sebab mereka sendiri telah dibentuk oleh sistem pendidikan menghafal yang sangat merisaukan. Guru dan murid harus berubah, dari menghafal menjadi berpikir.
Melatih manusia berpikir adalah masalah mendasar yang perlu dipecahkan dalam sistem pendidikan nasional. Berpikir yang baik akan menghasilkan karya-karya besar, meski beresiko tersesat. Tetapi bukankah hanya orang tersesat saja yang berpikir? Hanya orang-orang berpikirlah yang tidak mudah tertipu yang tidak menjadi manusia sempit yang picik, yang tidak memikirkan diri atau kelompoknya sendiri, dan tentu saja orang yang berpikir akan menjadi manusia kreatif. Pilihan yang harus dipilih bukan hanya mata ajaran yang harus diperbaiki, teknik mengajar dan isi mata pelajaran pun perlu disempurnakan serta termasuk cara berpikir guru dan orang tua.
Perubahan pola pikir guru dan orang tua dimulai dengan memandang persoalan menyontek bukan sebagai benar atau salah. Persoalan menyontek tidak ada akan selesai dengan memberikan sangsi atau sekedar membuat surat pernyataan yang kemudian ditempel di setiap dinding sekolah. Pola pikir guru dan orang tua tidak boleh meninggalkan dasar pendidikan sebagai proses kemanusiaan. Jika kita ingin merubah pola pikir kita maka menyontek jangan dianggap sebagai hal biasa dan sederhana. Terlebih dengan beragam fakta penelitian dan pemberitaan, maka lebih tepat apabila menyontek merupakan persoalan kompleks yang terbentuk karena minimnya pilihan dari proses pembelajaran yang serba seragam. Soal ujian yang lebih membutuhkan hafalan, dari sekedar penalaran yang merangkai beragam informasi harus diakui turut memberikan kontribusi. Sehingga, perubahan pola pendidikan dari menghafal menjadi berpikir dengan sendirinya akan memberikan pilihan baru bagi siswa untuk tidak menyontek pada tahap awal.
Kreatif dan bernilai
Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi hari ini tentunya pengetahuan sebagai keluaran proses pendidikan tidaklah cukup. Sebab, baik guru, sekolah dan orang tua tidak dapat memperkirakan dengan pasti pengetahuan apa yang dibutuhkan dimasa depan.
Hasil penelitian terakhir tentang masyarakat intelektual di tengah era informasi modern sekarang, menyebutkan bahwa seorang individu harus dapat menyerap informasi sebanyak 820.000 kata per minggu atau minimal setiap hari ia harus membaca antara 4—6 jam. Dengan dasar inilah mengapa “tradisi hafalan” dalam pendidikan kita menjadi tidak relevan pada hari ini. Anak-anak di sekolah harus dibekali dengan kemampuan untuk mengelola beragam informasi sebagai sebuah jawaban persoalan. Untuk itulah konsep pendidikan yang selama ini diterapkan sekolah yang hanya melibatkan elemen guru dan siswa harus dirubah. Menurut Yu Sien Lien (2011) konsep pendidikan yang harus coba diterapkan adalah konsep pendidikan kreatif (creative pedagogy).
Konsep pendidikan kreatif (creative pedagogy) berkembang seiring penelitian yang membuktikan bahwa kreativitas yang selama ini dipersepsikan sebagai bakat alam ternyata dapat dibentuk melalui beberapa strategi. Kreativitas yang dimaksud bukan saja kreativitas “seni’ tetapi juga kreatifitas penyelesaian masalah (problem solving). Oleh sebab itu dalam pendidikan kreatif (creative pedagogy) melibatkan tiga hal, pengajar yang kreatif (teaching for creativity), materi dan teknik pengajaran kreatif (creative teaching) dan pembelajaran kelas yang kreatif (creative learning). Sehingga pada gilirannya pembelajaran dan pengajaran tidak sebatas pada transfer pengetahuan tetapi transfer nilai dan keterampilan hidup (life skill). Merujuk pada komitmen pendidik masa depan untuk tidak memaksakan pembelajaran yang hanya bermuatan kognitif saja, namun lebih aplikatif sejalan dengan konsep pembelajaran UNESCO sebagai learning to learn critically, learning to do creatively, learning to work together constructively, dan learning how to be wise. Agar output pendidikannya tidak hanya mampu bersaing dimasa depan tetapi juga memberi kontribusi positif terhadap masyarakat.
Di sekolah kita, pendidikan kreatif tentu bukan hal yang baru, tetapi banyak di antara kita yang menganggap bahwa aspek kreatif hanya sebatas pada teknik, metode dan keterlibatan anak dalam pembelajaran. Padahal menurut Yu Sien Lien (2011), pendidikan kreatif berkaitan erat pula terhadap kualitas guru dan lingkungan sekolah. Dengan prinsip inilah sekolah harus memperlakukan anak-anak yang menyontek sebagai potensi kreatif yang perlu diarahkan. Sehingga sangsi yang diberikan jangan sampai meninggalkan trauma psikologis dengan mempermalukan siswa yang bersangkutan. Pemberian sanksi harus diubah lebih kreatif dengan tanpa meninggalkan proses transfer nilai dari guru, yang dapat ditempuh dalam beragam penugasan sebagai bentuk pendampingan perilaku. Untuk pelaku tindakan menyontek, guru harus mengingatkan siswa tentang pentingnya membangun integritas diri terkait kepercayaan orang lain kepada kita. Transfer nilai merupakan wujud peran penting sekolah dan guru sebagai penegak tatanan nilai didalam masyarakat.
Pendidikan kreatif membutuhkan lebih dari sekedar guru yang pandai dan tegas memberikan sanksi kepada siapa saja yang melanggarnya. Guru yang kreatif harus memiliki segudang cara untuk membangkitkan potensi anak didiknya. Pelaksanaan pendidikan kreatif harus syarat dengan nilai kemanusiaan, sebab hal yang tidak bisa diubah adalah setiap individu memiliki potensi yang sama untuk menjadi kreatif. Tidak terkecuali bagi pelaku tindakan menyontek, sebab prinsip kemanusian disekolah berarti memberikan ruang seluas-luasnya bagi setiap anak untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Referensi:
Robina Shaheen. 2010. Creativity and education. Creative Education 2010. Vol. 1. No. 3
Yanur Setyaningrum. 2011. Jihad Melawan Ketidakjujuran Akademik; Tantangan Guru Muhammadiyah http://yanursetyaningrum.guru-indonesia.net/artikel_detail-21399.html
Yu-Sien Lin. 2011. Fostering Creativity through Education-A Conceptual Framework of Creative Pedagogy. Creative Education 2011. Vol. 2. No. 3
sumber http://netsains.net/2012/12/guru-kreatif-dan-tradisi-menyontek/
Tanpa memandang tingkat pendidikan dan tanpa memandang label suatu sekolah, perilaku menyontek tetap saja ada. Seperti apa yang terjadi di tiap ujian sekolah di sebuah sekolah Rintisan Bertaraf Internasional. Dan tepatnya pada ulangan tengah semester tahun ini, sejak hari pertama selalu saja ditemukan siswa menyontek disetiap ruang ujian. Selain memberi bukti bahwa perilaku menyontek tidak memandang label sekolah, peristiwa ini juga memberi bukti bahwa label sekolah belum tentu mencerminkan kualitas siswa dan mutu pembelajaran didalamnya. Tentu hal ini bukan sebuah prestasi melainkan ironi dari sekolah yang menyatakan dirinya sebagai sekolah bertaraf internasional atau sekolah lain yang ada pada umumnya. Seperti menjadi kecenderungan umum atau tradisi, anak sekolah hari ini yang apabila tidak “menyontek” tidak trendy, dan mereka yang tidak memberikan “contekan” bukan hanya akan dimusuhi tetapi akan terancam tidak punya teman.
Menciptakan Pilihan
Tentu masih segar di ingatan kita dengan peristiwa yang dialami Ny. Siami dan Alifah Ahmad Maulana pada tahun 2011 lalu. Hanya karena membocorkan skenario pencontekan masal yang terjadi pada saat Ujian Nasional (UN) di SDN Gadel II Kecamatan Tandes Surabaya, tempat sekolah anaknya, Ny. Siami dan keluarganya terpaksa harus diusir dari rumahnya dan diancam dikeluarkan dari sekolah. Pengusiran dan teror tersebut dilakukan oleh para orang tua murid yang merasa tindakan Ny.Siami akan mengakibatkan diberlakukannya ujian ulang bagi anak-anak mereka.
Sebenarnya terdapat kasus menyontek bukan hal baru di Indonesia, penelitian yang menunjukkan bahwa perilaku menyontek dilakukan siswa diantaranya oleh Alma (dalam Kushartanti, 2009) yang mengungkapkan bahwa 100% siswa pernah menyontek dalam ujian. Lebih separuh diantaranya sering dan seringkali menyontek. Penelitian lain pada siswa SMA di Surabaya menyebutkan bahwa 80% siswa pernah menyontek, 52% sering dan 28% jarang. Media yang paling banyak digunakan sebagai sarana menyontek adalah teman 38% dan meja tulis 26% (Khotimah, 2009). Mengapa ini bisa terjadi ?
Kita semua pernah sekolah, demikian pula anak-anak kita. Diantara anak-anak itu tentu saja ada yang berotak encer dan tak banyak menemui masalah. Namun harus diakui semakin hari sekolah semakin menakutkan bila ujian tiba, bukan hanya murid yang stress, guru dan orang tua pun gelisah. Mungkinkah semua persoalan itu terletak pada sistem pendidikan yang disebut Vicki Abeles sebagai sebuah “Race to No Where”. Perlombaan besar yang muaranya, tidak jadi apa-apa juga. Hidup kita jadi terbalik-balik. Yang sekolahnya dilalui dengan penuh kesungguhan bisa tak jadi apa-apa sedangkan yang sekolahnya main-main malah bisa menjadi pejabat, politisi terkenal, atau bahkan pengusaha besar. Sulit kita melawan buku-buku populis yang mengajarkan cara-cara jalan pintas, cara “goblok”nya Bob Sadino berwirausaha atau bahkan keluguan seorang motivator yang menyebutnya dengan judul besar di cover depan buku karangannya: “The Power of Malas”. Sungguh, ini sangat sulit! Mengapa sulit? Tentu bukan karena sekolah tidak penting, melainkan ada yang salah.
Pengalaman saya sebagai pendidik menemukan, anak-anak yang pintar di sekolah belum tentu pintar di masyarakat. Dan kegagalan terbesar justru terjadi pada anak-anak yang dibesarkan dalam persekolahan menghafal. Padahal menurut Renald Kasali “memorizing is not a good thinking”. Menghafal bukanlah cara berpikir yang baik. Maka dari itu, mata pelajaran yang terlalu bersifat menghafal perlu kita renungkan kembali, dan guru-guru pun harus dilatih ulang. Sebab mereka sendiri telah dibentuk oleh sistem pendidikan menghafal yang sangat merisaukan. Guru dan murid harus berubah, dari menghafal menjadi berpikir.
Melatih manusia berpikir adalah masalah mendasar yang perlu dipecahkan dalam sistem pendidikan nasional. Berpikir yang baik akan menghasilkan karya-karya besar, meski beresiko tersesat. Tetapi bukankah hanya orang tersesat saja yang berpikir? Hanya orang-orang berpikirlah yang tidak mudah tertipu yang tidak menjadi manusia sempit yang picik, yang tidak memikirkan diri atau kelompoknya sendiri, dan tentu saja orang yang berpikir akan menjadi manusia kreatif. Pilihan yang harus dipilih bukan hanya mata ajaran yang harus diperbaiki, teknik mengajar dan isi mata pelajaran pun perlu disempurnakan serta termasuk cara berpikir guru dan orang tua.
Perubahan pola pikir guru dan orang tua dimulai dengan memandang persoalan menyontek bukan sebagai benar atau salah. Persoalan menyontek tidak ada akan selesai dengan memberikan sangsi atau sekedar membuat surat pernyataan yang kemudian ditempel di setiap dinding sekolah. Pola pikir guru dan orang tua tidak boleh meninggalkan dasar pendidikan sebagai proses kemanusiaan. Jika kita ingin merubah pola pikir kita maka menyontek jangan dianggap sebagai hal biasa dan sederhana. Terlebih dengan beragam fakta penelitian dan pemberitaan, maka lebih tepat apabila menyontek merupakan persoalan kompleks yang terbentuk karena minimnya pilihan dari proses pembelajaran yang serba seragam. Soal ujian yang lebih membutuhkan hafalan, dari sekedar penalaran yang merangkai beragam informasi harus diakui turut memberikan kontribusi. Sehingga, perubahan pola pendidikan dari menghafal menjadi berpikir dengan sendirinya akan memberikan pilihan baru bagi siswa untuk tidak menyontek pada tahap awal.
Kreatif dan bernilai
Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi hari ini tentunya pengetahuan sebagai keluaran proses pendidikan tidaklah cukup. Sebab, baik guru, sekolah dan orang tua tidak dapat memperkirakan dengan pasti pengetahuan apa yang dibutuhkan dimasa depan.
Hasil penelitian terakhir tentang masyarakat intelektual di tengah era informasi modern sekarang, menyebutkan bahwa seorang individu harus dapat menyerap informasi sebanyak 820.000 kata per minggu atau minimal setiap hari ia harus membaca antara 4—6 jam. Dengan dasar inilah mengapa “tradisi hafalan” dalam pendidikan kita menjadi tidak relevan pada hari ini. Anak-anak di sekolah harus dibekali dengan kemampuan untuk mengelola beragam informasi sebagai sebuah jawaban persoalan. Untuk itulah konsep pendidikan yang selama ini diterapkan sekolah yang hanya melibatkan elemen guru dan siswa harus dirubah. Menurut Yu Sien Lien (2011) konsep pendidikan yang harus coba diterapkan adalah konsep pendidikan kreatif (creative pedagogy).
Konsep pendidikan kreatif (creative pedagogy) berkembang seiring penelitian yang membuktikan bahwa kreativitas yang selama ini dipersepsikan sebagai bakat alam ternyata dapat dibentuk melalui beberapa strategi. Kreativitas yang dimaksud bukan saja kreativitas “seni’ tetapi juga kreatifitas penyelesaian masalah (problem solving). Oleh sebab itu dalam pendidikan kreatif (creative pedagogy) melibatkan tiga hal, pengajar yang kreatif (teaching for creativity), materi dan teknik pengajaran kreatif (creative teaching) dan pembelajaran kelas yang kreatif (creative learning). Sehingga pada gilirannya pembelajaran dan pengajaran tidak sebatas pada transfer pengetahuan tetapi transfer nilai dan keterampilan hidup (life skill). Merujuk pada komitmen pendidik masa depan untuk tidak memaksakan pembelajaran yang hanya bermuatan kognitif saja, namun lebih aplikatif sejalan dengan konsep pembelajaran UNESCO sebagai learning to learn critically, learning to do creatively, learning to work together constructively, dan learning how to be wise. Agar output pendidikannya tidak hanya mampu bersaing dimasa depan tetapi juga memberi kontribusi positif terhadap masyarakat.
Di sekolah kita, pendidikan kreatif tentu bukan hal yang baru, tetapi banyak di antara kita yang menganggap bahwa aspek kreatif hanya sebatas pada teknik, metode dan keterlibatan anak dalam pembelajaran. Padahal menurut Yu Sien Lien (2011), pendidikan kreatif berkaitan erat pula terhadap kualitas guru dan lingkungan sekolah. Dengan prinsip inilah sekolah harus memperlakukan anak-anak yang menyontek sebagai potensi kreatif yang perlu diarahkan. Sehingga sangsi yang diberikan jangan sampai meninggalkan trauma psikologis dengan mempermalukan siswa yang bersangkutan. Pemberian sanksi harus diubah lebih kreatif dengan tanpa meninggalkan proses transfer nilai dari guru, yang dapat ditempuh dalam beragam penugasan sebagai bentuk pendampingan perilaku. Untuk pelaku tindakan menyontek, guru harus mengingatkan siswa tentang pentingnya membangun integritas diri terkait kepercayaan orang lain kepada kita. Transfer nilai merupakan wujud peran penting sekolah dan guru sebagai penegak tatanan nilai didalam masyarakat.
Pendidikan kreatif membutuhkan lebih dari sekedar guru yang pandai dan tegas memberikan sanksi kepada siapa saja yang melanggarnya. Guru yang kreatif harus memiliki segudang cara untuk membangkitkan potensi anak didiknya. Pelaksanaan pendidikan kreatif harus syarat dengan nilai kemanusiaan, sebab hal yang tidak bisa diubah adalah setiap individu memiliki potensi yang sama untuk menjadi kreatif. Tidak terkecuali bagi pelaku tindakan menyontek, sebab prinsip kemanusian disekolah berarti memberikan ruang seluas-luasnya bagi setiap anak untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Referensi:
Robina Shaheen. 2010. Creativity and education. Creative Education 2010. Vol. 1. No. 3
Yanur Setyaningrum. 2011. Jihad Melawan Ketidakjujuran Akademik; Tantangan Guru Muhammadiyah http://yanursetyaningrum.guru-indonesia.net/artikel_detail-21399.html
Yu-Sien Lin. 2011. Fostering Creativity through Education-A Conceptual Framework of Creative Pedagogy. Creative Education 2011. Vol. 2. No. 3
sumber http://netsains.net/2012/12/guru-kreatif-dan-tradisi-menyontek/
Thursday, December 20, 2012
Puding Roti Pisang
Bahan :
- 6 lembar roti tawar, dipotong-potong
- 100 ml sirup melon
- 100 ml air
- 3 butir telur, dikocok lepas
- 200 gram pisang tanduk, dipotong kotak
- 30 gram meises cokelat
Cara Membuat :
1. Aduk rata potongan roti tawar, sirup melon, air, telur, potongan pisang tanduk, dan meises cokelat.
2. Tuang di pinggan tahan panas 18x18x5 cm yang dioles tipis margarin.
3. Kukus 25 menit di atas api kecil sampai matang.
sumber
Creamy Bolognese Fries
Creamy Bolognese FriesBaik
itu sebagai camilan menonton DVD, menonton pertandingan bola, atau saat
menjamu acara kumpul-kumpul di rumah, kentang goreng selalu jadi
pilihan yang oke. Selain membuatnya mudah, modalnya pun murah.
Namun jika Anda merasa kentang goreng terlalu biasa dan membosankan, coba variasi kentang goreng Creamy Bolognese Fries ini, yang biasa ditemukan di menu-menu berbagai kafe. Cara membuatnya juga mudah, bisa dilakukan bahkan oleh Anda yang tak biasa berada di dapur.
BAHAN-BAHAN:
600 gram kentang, diiris lurus
100 gram daging giling
60 gram jamur champignon (1 butir dipotong jadi 4)
5 sendok makan kacang merah
Krim keju secukupnya
1 sdk makan tomato paste
1 buah tomat segar, direbus, angkat, buang kulitnya, blender
4 sdk makan saus tomat
½ buah paprika dipotong dadu
40 gram bawang bombay dipotong dadu
10 gram bawang putih diiris tipis
1-2 sendok teh (sesuai selera) lada putih bubuk
Garam sesuai selera
Bubuk kaldu ayam sesuai selera
Minyak goreng secukupnya
Air secukupnya
CARA PEMBUATAN:
(Dimasak dengan api kecil dan wajan antilengket).
1. Masukkan minyak goreng secukupnya, jangan terlalu banyak, ke dalam wajan. Tunggu hingga agak panas, kemudian masukkan bawang bombay dan paprika yang sudah dipotong dadu, dan bawang putih yang sudah dicincang. Biarkan hingga harum.
2. Masukkan daging giling yang telah dicuci dan disaring, aduk hingga merata. Tambahkan garam secukupnya, lada bubuk, dan garam sesuai selera. Aduk hingga daging berubah warna.
3. Masukkan tomat segar yang telah direbus, dikupas kulitnya, dan diblender, dan masukkan pula tomato paste dan saus tomat botol. Aduk hingga rata dan masukkan air sekitar 500 ml, aduk hingga mengental dan paprika layu. Jika paprika belum layu, dapat dimasukkan air kembali.
4. Masukkan kacang merah, aduk hingga rata dan saus meletup-letup, kemudian matikan api kompor.
5. Goreng kentang hingga berwarna agak kekuningan, angkat, tiriskan, lalu taburi garam dan bubuk kaldu ayam sesuai selera. Setelah itu, lumuri bagian atas kentang dengan krim keju, lalu taburkan bumbu saus merah yang sudah jadi, dan berikan taburan bawang bombay yang dipotong dadu.
Resep ini untuk 3 porsi.
Namun jika Anda merasa kentang goreng terlalu biasa dan membosankan, coba variasi kentang goreng Creamy Bolognese Fries ini, yang biasa ditemukan di menu-menu berbagai kafe. Cara membuatnya juga mudah, bisa dilakukan bahkan oleh Anda yang tak biasa berada di dapur.
BAHAN-BAHAN:
600 gram kentang, diiris lurus
100 gram daging giling
60 gram jamur champignon (1 butir dipotong jadi 4)
5 sendok makan kacang merah
Krim keju secukupnya
1 sdk makan tomato paste
1 buah tomat segar, direbus, angkat, buang kulitnya, blender
4 sdk makan saus tomat
½ buah paprika dipotong dadu
40 gram bawang bombay dipotong dadu
10 gram bawang putih diiris tipis
1-2 sendok teh (sesuai selera) lada putih bubuk
Garam sesuai selera
Bubuk kaldu ayam sesuai selera
Minyak goreng secukupnya
Air secukupnya
CARA PEMBUATAN:
(Dimasak dengan api kecil dan wajan antilengket).
1. Masukkan minyak goreng secukupnya, jangan terlalu banyak, ke dalam wajan. Tunggu hingga agak panas, kemudian masukkan bawang bombay dan paprika yang sudah dipotong dadu, dan bawang putih yang sudah dicincang. Biarkan hingga harum.
2. Masukkan daging giling yang telah dicuci dan disaring, aduk hingga merata. Tambahkan garam secukupnya, lada bubuk, dan garam sesuai selera. Aduk hingga daging berubah warna.
3. Masukkan tomat segar yang telah direbus, dikupas kulitnya, dan diblender, dan masukkan pula tomato paste dan saus tomat botol. Aduk hingga rata dan masukkan air sekitar 500 ml, aduk hingga mengental dan paprika layu. Jika paprika belum layu, dapat dimasukkan air kembali.
4. Masukkan kacang merah, aduk hingga rata dan saus meletup-letup, kemudian matikan api kompor.
5. Goreng kentang hingga berwarna agak kekuningan, angkat, tiriskan, lalu taburi garam dan bubuk kaldu ayam sesuai selera. Setelah itu, lumuri bagian atas kentang dengan krim keju, lalu taburkan bumbu saus merah yang sudah jadi, dan berikan taburan bawang bombay yang dipotong dadu.
Resep ini untuk 3 porsi.
Monday, December 17, 2012
mitos Kecantikan Wanita
Bagi remaja di Korea, kecantikan adalah hasil usaha keras, bukan
bawaan lahir. Siapa saja yang wajahnya tak menarik, ia tidak akan
mendapat apa-apa dalam hidupnya. Mereka yang berwajah biasa-biasa saja,
mengubahnya dengan jalan operasi plastik sehingga jadi cantik dan
menarik. Efeknya, dia menjadi artis: terkenal dan kaya.
Impian para remaja ini mewabah ke segala penjuru. Kebanyakan wanita berlomba-lomba menjadikan dirinya cantik. Mulai dari sedot lemak, diet yang berlebihan, sampai mengoperasi plastik wajahnya dengan berbagai risiko tentu saja. Dan uang yang harus mereka keluarkan tidaklah sedikit. Lalu dengan semakin banyaknya orang yang mereparasi bentuk tubuh dan wajahnya apakah ini artinya Allah telah melakukan kesalahan dalam penciptaan manusia?
Seseorang yang diberikan rambut keriting, hidung tidak mancung, kulit tidak putih, badan besar, mata sipit, dagu tidak lancip dan sebagainya apakah lantas Allah tidak bisa menciptakan bentuk yang lebih sempurna agar manusia tak perlu bedah plastik segala?
Subhanallah, Allah adalah Sang Pencipta, yang telah menciptakan makhluk-Nya dalam sebaik-baik bentuk.
Allah swt begitu jelasnya menyatakan bahwa manusia telah diciptakan
dalam sebaik-baik bentuk. Sempurna, meski tidak sepatuh malaikat.
Artinya, bagaimanapun keadaan kita, itu sudah sempurna sesuai proporsi
masing-masing. Guru SMP saya pernah berkata kepada semua muridnya dalam
satu pertemuan, “bisa jadi kalau hidung kamu mancung, kamu jadi jelek.
Berarti kamu sudah pas begini.”
Mengubah bentuk tubuh dan wajah untuk alasan kecantikan adalah tindakan yang dibenci Allah, sebab itu adalah tanda bahwa kita tidak bersyukur atas anugrah yang telah diberikan oleh Allah swt. Bukankah hidup ini mudah kalau kita qonaah atas apa yang ada? Sebaliknya, hidup akan susah kalau terus memikirkan kepuasan diri. Sangat menyiksa diri, kalau untuk memutihkan kulit harus rela tubuhnya tersiksa dan mengeluarkan uang jutaan rupiah.
Selain itu, Allah melaknat siapa saja yang mengubah ciptaan-Nya.
Tenanglah, semua manusia kedudukannya tidak diukur dari kecantikan dan ketampanannya, melainkan ketaqwaannya.
Allah swt berfirman:
Cantik yang sifatnya lahiriah tidak akan bertahan lama. Ia akan
terkikis seiring berjalannya waktu. Wajah yang cantik akan luntur, dan
itu tiada berguna lagi. Hanya ketakwaan yang bisa menyelamatkan manusia
kelak di akhirat. Bukan kecantikan, kekayaan atau ketenaran.Wallahu
a’lam. [Yu.As]
sumber http://www.cintaquran.com/inspirasi-alquran/mitos-kecantikan-wanita/?utm_source=feedburner&utm_medium=twitter&utm_campaign=Feed%3A+CintaQuranID+%28Belajar+Baca+Quran+|+Terjemah+Quran+|+Bahasa+Arab%29
Impian para remaja ini mewabah ke segala penjuru. Kebanyakan wanita berlomba-lomba menjadikan dirinya cantik. Mulai dari sedot lemak, diet yang berlebihan, sampai mengoperasi plastik wajahnya dengan berbagai risiko tentu saja. Dan uang yang harus mereka keluarkan tidaklah sedikit. Lalu dengan semakin banyaknya orang yang mereparasi bentuk tubuh dan wajahnya apakah ini artinya Allah telah melakukan kesalahan dalam penciptaan manusia?
Seseorang yang diberikan rambut keriting, hidung tidak mancung, kulit tidak putih, badan besar, mata sipit, dagu tidak lancip dan sebagainya apakah lantas Allah tidak bisa menciptakan bentuk yang lebih sempurna agar manusia tak perlu bedah plastik segala?
Subhanallah, Allah adalah Sang Pencipta, yang telah menciptakan makhluk-Nya dalam sebaik-baik bentuk.
“Sungguh Kami menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk.” (QS. at-Tiin:4)
Mengubah bentuk tubuh dan wajah untuk alasan kecantikan adalah tindakan yang dibenci Allah, sebab itu adalah tanda bahwa kita tidak bersyukur atas anugrah yang telah diberikan oleh Allah swt. Bukankah hidup ini mudah kalau kita qonaah atas apa yang ada? Sebaliknya, hidup akan susah kalau terus memikirkan kepuasan diri. Sangat menyiksa diri, kalau untuk memutihkan kulit harus rela tubuhnya tersiksa dan mengeluarkan uang jutaan rupiah.
Selain itu, Allah melaknat siapa saja yang mengubah ciptaan-Nya.
“Allah melaknat wanita-wanita yang
mentato dan yang meminta untuk ditatokan, yang mencukur (menipiskan)
alis dan yang meminta dicukur, yang mengikir gigi supaya kelihatan
cantik dan merubah ciptaan Allah.” (H.R Muslim No:3966.)
Allah swt berfirman:
“Hai manusia. sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah
adalah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat:13)
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada fisik maupun bentuk kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim no. 1987)
sumber http://www.cintaquran.com/inspirasi-alquran/mitos-kecantikan-wanita/?utm_source=feedburner&utm_medium=twitter&utm_campaign=Feed%3A+CintaQuranID+%28Belajar+Baca+Quran+|+Terjemah+Quran+|+Bahasa+Arab%29
Subscribe to:
Posts (Atom)



