Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Friday, January 3, 2014

Berkumpul Keluarga di Surga


Sebagai hamba-Nya yang telah menikmati keindahan Islam, orang-orang beriman diberikan hiburan tentang kematian. Walaupun kenikmatan dunia hilang, sungguh kehidupan abadi telah menanti, dan kita antri menuju kesana. Insya Allah. Tidak seperti orang kafir yang selalu saja berusaha untuk menghindari kematian, mencari segala obat anti-penuaan, pil-pil berkhasiat panjang umur misalnya, naudzubillahi minzaliik, Orang beriman sangat dipengaruhi oleh pesan Baginda Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang bersabda, “Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan, yakni kematian.” (HR. Tirmidzi, No. 2229)

Satu keluarga itu bernyanyi riang gembira di musim semi tahun lalu, masuk ke mobil mereka, kemudian tampak anak-anak menikmati beberapa snacks, dan orang tuanya mengobrol mesra. Tak sampai semenit kemudian saat mereka memasuki jalan raya, “gedubraak!”, tabrakan maut terjadi, entah kenapa mobil itu menabrak tiang besar lalu ‘menyenggol’ bus panjang yang sedang melaju dari arah berlawanan. Pemandangan itu sangat meyeramkan, kami segera berlalu dari riuhnya situasi jalan raya tersebut, seraya menyebut nama-Mu, ya Allah…

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… tak ada suami yang mendampingi, juga anak dan keluarga lainnya, persis seperti nasehat ustadzahku dahulu, “Bahwa tak ada tempat kita bergantung setiap waktu, kecuali Allah SWT. Di kala maut menghampiri, kita harus menghadapinya sendirian, tiada mama papa, tiada suami, anak-anak, saudara, siapa pun tak dapat menolong, kita hanya ditemani oleh belaian-NYA.

Cuma Dia yang dapat memudahkan jalan menuju kesana, begitu pun saat memasuki alam kubur, hanya amalan di dunia yang kita bawa.”

Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, ”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” Dan dalam hadits lain disebutkan, ”Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” (HR. Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad hasan)

Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Nasai dengan sanad yang shahih dari Jabir bin Atik bahwa nabi saw bersabda,”Mati syahid itu ada tujuh macam—selain perang di jalan Allah—yaitu syahid karena penyakit tho’un, syahid karena tenggelam, syahid karena lumpuh, syahid karena sakit perut, syahid karena terbakar, orang yang mati karena tertimbun reruntuhan maka ia syahid, perempuan yang mati karena melahirkan maka ia syahid.”

Dalam sebuah hadist dinyatakan : “Seandainya dunia itu di mata Allah sebanding harganya dengan sayap nyamuk, pasti Dia tidak memberi orang kafir setetes air pun dari dunia itu”. (HR.at-Tirmidzi).

Orang beriman kalaupun turut berkompetisi atau berjuang di dunia hanyalah sebatas mengikuti secara disiplin aturan main yang telah Allah subhaanahu wa ta’aala gariskan. Mereka tidak mengharuskan apalagi memaksakan hasil. Sehingga bukanlah menang atau kalah yang menjadi isyu sentral, melainkan konsistensi (baca: istiqomah) di atas jalan Allah. Berbeda dengan orang-orang kafir dan para hamba dunia lainnya. Mereka tidak pernah peduli dengan aturan main Allah subhaanahu wa ta’aala. Yang penting harus menang. Prinsip hidup mereka adalah It’s now or never (Kalau tidak sekarang, kapan lagi…?!). Sedangkan prinsip hidup orang beriman adalah If it’s not now then it will be in the Hereafter

Banyak orang yang sangat ambisius mencapai kesuksesan duniawi, namun alih-alih berambisi mereka justru tak memikirkan bagaimana caranya menggapai kesuksesan ukhrawi. Mungkin mereka lupa bahwa kehidupan dunia hanyalah sekejap semata dan kehidupan yang hakiki adalah di akherat nanti.

Padahal bila kita ingat, kita akan berada di padang Mahsyar kelak selama satu hari dalam perhitungan akherat yang lamanya sama dengan 50.000 tahun perhitungan waktu dunia. Maka lamanya kehidupan kita di dunia ini menjadi tak ada artinya apa-apa dibanding lamanya kehidupan akherat bukan?

Maka di kehidupan kita yang sekejap ini manfaatkanlah sebaik mungkin agar kelak kita mendapatkan hasil yang memuaskan. Sudah selayaknya bila setiap nafas yang kita hembuskan adalah nafas ketakwaaan. Setiap jalan yang kita tuju adalah jalan menuju ketaatan kepada Allah swt.

Bayangkanlah kegembiraan kita kelak di yaumil hisab, setelah berpayah-payah melalui proses hisab yang jauh-jauh lebih menegangkan dibandingkan dengan sidang skripsi, ketika kita berhasil menerima catatan amal kita dari tangan kanan, yang artinya kita termasuk golongan orang-orang yang selamat dan berhak mendapatkan surga.

Betapa bahagianya kita, apalagi bila keluarga kita, orangtua kita (yang sama-sama telah menerima catatan dari tangan kanan) telah menunggu kita untuk bersama-sama bergabung dalam kebahagiaan.

“Ayah…Ibu… aku menyusulmu….”

Duhai indahnya…

Subhanallah, inilah kemenangan yang agung itu yang semoga kita semua kelak bisa memperolehnya. Namun ingat bahwa kemenangan agung itu hanya bisa dicapai dengan sebuah kerja keras yang nyata.

“Wahai Manusia…sesungguhnya kamu sudah berkerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.Maka adapun orang yang catatanya diberikan dari sebelah kanan, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. Dan dia akan kembali kepada kelurganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira “ (QS Al-Insyiqaq ayat 6-9.)
sumber  silakan klik di sini

Tuesday, January 29, 2013

Bahtera Keluarga Muslim

Kehidupan rumah tangga tidak akan lepas dari badai dan ombak, ia menerjang silih berganti tiada henti. Kadang harus miring kekanan dan kekiri, tak sedikit yang terhempas ketepi atau hancur di tengah samudra nan sepi.

Tapi jangan berkecil hati, islam nan agung mengajarkan kita untuk mempertahankan diri. Disaat badai meninggi dan angin kencang menghampiri. Masih besar harapan untuk mempert ahankan keluarga.
Berikut ini tips dari seorang sahabat Abu Dzar Al Ghifari. Marilah kita resapi dan renungi , semoga bermanfaat untuk keberlangsungan rumah tangga nanti.

Rasulullah ` pernah bersabda kepada Abu Dzar : “Perkokohlah bahteramu karena samudra ini amat dalam. Perbanyaklah bekalmu karena perjalanan ini amat panjang. Ikhlaskanlah amalmu karena pencatatmu sungguh amat jeli” [ HR. Bukhori Muslim ].

Amal ibadah mempunyai 3 syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
1. Lillah : hanya karena Allah Ta’ala.
2. Billah : bersama Allah Ta’ala, artinya mengikuti apa yang perintah Allah Ta’ala.
3. Illallaah : tujuan akhir hanya mencari keridhaan Allah Ta’ala.


Membangun sebuah rumah tangga muslim juga merupakan ibadah yang harus memenuhi ketiga syarat tersebut. Dasar membangun rumah tangga adalah keikhlasan karena perintah Allah Ta’ala dan mengikuti sunnah Rasulullah saw., bukan hanya ingin mendapatkan pasangan hidup. Dalam pelaksanaannya pun seperti apa yang dicontohkan Rasulullahsaw. , bukan dengan cara-cara lain yang dilarang. Sedangkan tujuan akhir dari pembentukannya adalah hanya untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala bukan kedudukan, harta atau keridhaan manusia.


Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas telah mensinyalir, bahwa samudra yang akan diarungi oleh bahtera rumah tangga amatlah dalam dan perjalanannya pun amat panjang. Karena itulah perlu adanya usaha ekstra, baik dalam mempersiapkan, memasuki gerbangnya dan berjalan diatas keagungan nilainya.

Bagaimana Memperkokoh Bahtera ? 

Kehidupan sebuah rumah tangga dapat diumpamakan sebagai sebuah bahtera. Keselamatan bahtera itu sangat tergantung dari kewaspadaan para penumpang diatasnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan gambaran bagaimana seharusnya hidup bersama dalam berrumah tangga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Perumpamaan orang-orang yang menjaga batas-batas Allah swt dengan mereka yang melanggarnya, bagaikan satu kaum yang menaiki sebuah bahtera. Sebagian mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bawah. Mereka yang di bawah jika ingin air (terpaksa) melewati orang-orang yang di atas, lalu berkata, „Seandainya kita lubangi (bahtera ini) untuk mendapatkan air, tentu kita tidak lagi mengganggu orang-orang yang di atas.” Jika orang yang diatas membiarkan keinginan mereka yang di bawah, tentu semua akan binasa. Jika mereka menghalanginya, mereka akan selamat dan selamatlah semuanya.” (HR Bukhari dan Tarmidzi) 

Dalam mengarungi samudra kehidupan kadang bahtera itu miring ke kiri dan ke kanan. Satu saat tenang, dan di saat lain dihempas gelombang. Untuk itulah sejak awal bahtera harus dipersiapkan dan diperkuat di segala sisinya. Caranya ialah dengan selalu menjaga langkah agar tidak keluar dari tujuan asasinya serta selalu menjaga keutuhan dan kesejahteraan keluarga.

Musthafa Masyur mengungkapkan bahwa kesejahteraan keluarga bukanlah terletak pada aspek fisik materi, tapi keterikatan anggota keluarga dengan aqidah, ibadah, akhlaq dan pergaulan Islam, hingga seluruh kehidupan terwarnai dengan identitas Islam secara utuh. Bagaimana kehidupan yang islami, dapat kita lihat dari suri tauladan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena Allah Ta’ala sendiri telah menyatakan dalam Al-Qur’an

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah." (QS.33:21) 

Kita mencontoh bagaimana Beliau shalat dan beribadah, makan, minum, tidur, menjalin sillaturrahmi dengan para shahabatnya, dsb. Selain itu ada 3 hal penting yang harus diperhatikan dan dipersiapkan oleh pasangan baru, yaitu : 

1. Rumahku surgaku
Yaitu keluarga sakinah yang didalamnya terdapat ketentraman dan ketenangan, baik bagi suami, istri ataupun anak-anak. Dimana masing-masing berusaha melakukan perannya dengan sebaik mungkin dan saling meringankan beban satu sama lain (bukan membebani).

2. Rumah adalah madrasah kecil
Yaitu adanya proses belajar mengajar. Semua anggota keluarga saling mengisi dan memperbaiki kekurangan dan kelemahan yang ada, bukan hanya sekedar memaklumi. Faktor penunjang yang penting demi lancarnya proses belajar mengajar ini adalah komunikasi dan sikap keterbukaan sesama anggota keluarga, saling menasehati dan rela untuk dinasehati serta berjalannya fungsi saling membantu antara suami istri.

3. Hiasi rumah dengan shalat, salam, doa dan tilawah Al-Qur’an
Ibadah-ibadah tersebut akan lebih terasa indah dan nikmat jika dilakukan secara berjamaah. Hal inilah yang akan memberikan suasana islami yang segar di dalam rumah.

Bagaimana Memperbanyak Bekal ? 

Ilmu dan harta adalah dua bekal yang harus dipersiapkan sebelum seseorang memasuki gerbang pernikahan. Bekal ilmu untuk persiapan mental dan bekal harta untuk persiapan fisik. Mengapa harus dipersiapkan sebelumnya ? Jodoh adalah ketentuan Allah Ta’ala yang kita tidak tahu kapan datangnya. Jika kedua bekal tersebut sudah dipersiapkan dengan baik sebelumnya, maka seseorang tidak akan menjadi „kelabakan” ketika jodoh tiba di depan mata. Tanpa persiapan yang baik atau bahkan tanpa bekal sama sekali hanya akan menimbulkan kesulitan kelak dalam kehidupan rumah tangga. Namun dalam hal harta, bukan sedikit atau banyaknya penghasilan yang didapatkan, tetapi nilai usaha dan barokah (kebaikan) yang ada di dalamnya. Dalam hal ini Allah berfirman :

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 24:32) 

Hindarilah rasa ketakutan yang berlebihan (takut akan kemiskinan dan kekurangan), karena itu adalah godaan syetan yang hanya akan menimbulkan keputusasaan.

Dan sebagai muslimah, sebaiknya membekali diri dengan pendidikan ketrampilan untuk dapat menyempurnakan kewajibannya dalam rumah tangga. Misalnya ilmu tentang berrumah tangga, mengurus anak, tata boga, tata busana, bagaimana mengelola ekonomi rumah tangga, perpustakaan rumah dsb. Tujuan dari pembekalan ilmu tersebut adalah agar kelak ia tidak canggung dalam menjalankan fungsinya sebagai istri bagi suaminya dan sebagai ibu bagi anak-anaknya.

Bagaimana Mengihklaskan Amal ? 

Dengan selalu mengingat,menjaga dan memelihara tujuan pembentukan rumah tangga, yaitu mencari ridho Allah Ta’ala akan menghasilkan keikhlasan dalam beramal.

Dasar dalam membangun rumah tangga adalah karena takwa kepada Allah Ta’ala, yaitu adanya muroqobatullah (kesertaan Allah Ta’ala dalam setiap gerak langkah), mengutamakan keridhaan Allah Ta’ala menjauhi kebencianNya serta komitmen terhadap pengarahan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw serta adanya keyakinan bahwa berrumah tangga adalah ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah swt.

Takwa inilah yang akan menghasilkan kebahagiaan dalam keluarga dimana masing-masing anggota dalam keluarga berusaha menjalankan tugas dan kewajibannya untuk menggapai ridha Allah Ta’ala.

Dan yang terakhir, kebahagiaan keluarga hanyalah bagi mereka yang mendasarkan kehidupan keluarganya pada ibadah karena Allah Ta’ala.

link  http://evisambi.wordpress.com/2011/04/15/bahtera-keluarga-muslim/

Tuesday, December 11, 2012

... CATATAN SEDIH SEORANG B.J HABIBIE ...



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya, Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN.

Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan………………

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

“Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..

“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara.

Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara.

Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia.

Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN”.

“Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini.

Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?”

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

“Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….”

“Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….”

“Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?”

“Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun”.

“Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas…………………..

***

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang).

Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin.

Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG).

Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop.

N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

***

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………

“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar.

Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam…………… seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………

“Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!

2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus……………

3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia…….

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).

Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….”

***
Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012

Salam,
Capt. Novianto Herupratomo

***
Cerita itu saya kutip dari notes facebook disini, sebuah renungan yang seharusnya menjadi perhatian bagi kita. Betapa menyedihkan sebuah bangsa yang tak pernah menghargai orang berilmu! Tak pernah memberi kesempatan kepada anak bangsa untuk menjadikan bangsanya mandiri! Entah ada apa dengan negara ini…! Entah dimana mata dan telinga para penguasa diletakkan!

Saya seorang peneliti, yang tahu betul bagaimana kami dilatih untuk bertindak. Bahwa kami harus melakukan segala macam upaya agar output yang dihasilkan adalah output yang QCD!

Tak sekali dua kali proposal yang sudah kami susun berhari-hari bahkan berminggu-minggu mengalami pernyempurnaan di segala sisi? Tak sekali dua kali para evaluator selalu menjadi pendamping kami dalam melaksanakan serangkaian percobaan.

Tak sedikit pikiran dan tenaga kami habis untuk bagaimana selalu menyempurnakan metode hingga output tercapai. Kami juga kadang tak berontak saat kerja bertahun-tahun tapi gaji yang kami dapat hanya setara dengan goyangan ngebor Inul satu jam! dan yang lebih menyedihkan, karya kami hanya mendapat cibiran, jika tidak akhirnya dipinggirkan!

Entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini! sepertinya posisi orang berilmu memang sudah tak lagi mendapat tempat, jadi siapa yang salah jika akhirnya mereka mencari tempat lain?

Dan saya perempuan, dan seorang muslimah. Maka apapun profesi saya, saya tetaplah muslimah dan perempuan. Seseorang yang mendapat kehormatan dan kemuliaan menjadi seorang Ummu warobatul bait, Istri sekaligus Ibu dan pengatur rumah tangga.

Maka jika aktivitas dan profesi yang kutekuni menjadikanku abai terhadap peranku, aku akan meninggalkannya dan memilih tempat yang lebih memuliakanku, yaitu menjadi Ibu dan pengatur rumah tangga. Bukan seorang Ibu semu, yang hanya berperan melahirkan dan memberi makan, tanpa pernah menjadi teladan, pengajar, pendengar dan teman untuk anak-anaknya…

Dan entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini, jika RUU Kesetaraan Gender lalu diketok palu menjadi UU!… bersiaplah menjadi orang-orang yang menggoreskan catatan sedih, dengan kebijakan negeri ini…

***
.... Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ....

Thursday, October 25, 2012

*mengungkapkan kemarahan, menjaga kemesraan*

oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Suatu saat seorang suami datang kepada saya. Belum saya persilakan masuk, laki‐laki muda ini segera duduk dan berbicara panjang lebar, bahkan sebelum memperkenalkan diri dan bertanya apakah saya punya waktu saat itu. Ia terus saja berbicara. Ketika hand‐phone saya berdering dan kemudian saya berbicara dengan penelpon, lelaki ini tetap saja bercerita dengan meluap‐luap. Tak terkendali ia bicara. Saya ke dapur mengambilkan minum untuknya, ia tetap berbicara sendirian. Akhirnya, saya berkesimpulan tamu saya kali ini pastilah mempunyai beban emosi yang sangat berat. Begitu beratnya sehingga ia sudah kehilangan kendali. Ia tak lagi membutuhkan pendengar yang mau mengerti perkataannya. Ia hanya butuh kesempatan untuk menumpahkan isi hati dan kekesalannya dengan tuntas.

Pertemuan pertama hampir tak ada yang bisa digali, kecuali bahwa ia mempunyai konflik berat dengan istrinya. Meski waktu masih memungkinkan untuk berbincang panjang dengannya, tetapi saya melihat bukan saat yang tepat. Baru saja ia menumpahkan secara meluap‐luap beban emosinya. Ibarat komputer, sistemnya perlu direstart dulu agar bisa melihat masalah sendiri dengan baik. Kali ini, yang paling penting ia bisa menata kembali pikirannya, menyusun kembali kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan juga kerapuhan jiwanya dengan baik. Bahasa komputernya, kesempatan pertama lebih banyak saya manfaatkan untuk memberi kesempatan kepadanya melakukan defragmentasi pikiran‐pikiran dan emosinya sehingga ia bisa menempatkannya secara lebih teratur.

Pertemuan berikutnya, saudara kita ini sudah bisa menceritakan secara lebih jelas masalah apa yang ia hadapi. Meski masih melompat‐lompat dan banyak yang berulang‐ulang, saya mulai bisa menangkap akar masalahnya. Pada pertemuan berikutnya lagi, mulailah kelihatan penyebab konflik rumah‐tangganya yang berlarut‐larut. Di antara penyebab utama per­tikaian yang menimbulkan kekerasan fisik satu sama lain–istrinya sering bertindak sangat kasar sampai melukai suaminya—adalah kegagalan komunikasi (communication breakdown). Kedua‐duanya keras, mudah tersinggung sekaligus mudah terbakar emosinya menjadi peri­laku yang membahayakan.

Sebenarnya, tidak masalah suami‐istri sama‐sama memiliki sifat mudah tersinggung, keras dan mudah marah, sejauh keduanya saling menyadari tentang sifat buruk mereka.Berawal dari saling menyadarii ni, mereka belajar untuk saling mengenali penanda‐penanda emosi dari kedua belah pihak. Istri saya misalnya, tahu saya sedang marah, bad mood (suasana hati sedang negatif) atau pikiran sedang tegang dari rambut saya. Diam‐diam ia rupanya menandai bahwa setiap kali satu dari tiga situasi buruk itu muncul, rambut di ubun‐ubun saya berdiri. Alhasil begitu melihat penanda emosi itu muncul, istri saya segera mengambil langkah yang perlu. Misalnya bertanya apa yang sedang saya alami atau sejenak mengajak anak­-anak agar tidak gaduh.

Dari sejarah kita belajar, kisah romantis antara Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dengan istri beliau, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tak lepas dari kepekaan Rasulullahsaw. Mengenal penanda suka dan marahnya hati ‘Aisyah.

Diriwayatkan dari‘ Aisyah, ia berkata, “Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Sungguh aku dapat mengetahui kapan engkau sedang suka padaku dan bila engkau lagi marah.”

‘Aisyah bertanya, “Darimana engkau tahu?”

Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bila engkau sedang suka padaku, engkau berkata, “Demi Tuhannya Muhammad.” Dan apabila engkau sedang marah padaku, engkau berkata, “Sungguh, demi Tuhannya Ibrahim.”

‘Aisyah berkata, “Demi Allah, memang benar ya Rasulullah, yang tidak kusebut hanyalah namamu.”(HR. Bukhari & Muslim).

Apa yang bisa kita petik dari hadis ini? Kepekaan untuk mengenali penanda emosi istri. Berpijak dari mengenali penanda ini, kita bisa menentukan sikap dengan lebih tepat dan menahan diri dari perilaku yang bisa memperkeruh. Jadi, bukan justru menyulut emosi. Inilah yang sering saya sebut sebagai kedewasaan emosi; kemampuan untuk mengenali, mema­hami dan menerima dengan baik.

Selanjutnya, mereka bisa belajar untuk saling mengkomunikasikan emosi negatifnya dengan cara positif. Tidak saling marah, tidak saling memojokkan dan tidak saling menyakiti. Emosi negatif bisa berupa rasa kesal, marah maupun rasa tidak suka. Semuanya ini bisa mengganggu hubungan suami dan istri. Jika dibiarkan, komunikasi antar kita akan sangat rentan salah paham dan pertikaian. Tetapi emosi negatif itu bisa diungkapkan dengan cara yang nyaman. Kita mengungkapkan perasaan yang sedang kita alami. Bukan meluapkannya.

Kita bisa mengatakan,“Maaf, saya lagi marah. Emosi saya lagi negatif.”

Atau kita bisa berterus‐terang, “Mas, saya lagi tersinggung. Maafkan saya, ya… sua­sana hati saya sedang buruk.”

Jika situasinya memungkinkan, suami‐istrinya bisa mengungkapkan emosi negatifnya dengan setuntas‐tuntasnya. Ia bicara secara terbuka sekaligus dengan hati‐hati apa saja yang membuat kita marah atau sakit hati. Tetapi kita harus menahan diri untuk tidak menyalahkan. Kita harus ingat bahwa semarah apapun kita, komunikasi suami‐istri bertujuan untuk mencapai titik temu terbaik; titik temu yang saling memberi kelegaan, perasaan dihargai dan didengar.

Sampai di sini, kita masih perlu menahan diri untuk tidak terburu‐buru mencari jalan keluar atas masalah yang sedang menyelimuti. Ada kecenderungan, dalam situasi seperti ini kita masih belum bisa berpikir secara jernih. Sebaliknya, kita cenderung masih ingin saling memenangkan pendapat dan bahkan saling memojokkan. Kalau kita sendiri masih belum bisa berpikir jernih, sebaik apapun jalan keluar yang diajukan oleh suami atau istri kita, tetap saja sulit kita terima apa adanya. Itu sebabnya, kita perlu menahan diri sejenak. Yang paling penting untuk kita raih bersama adalah masing‐masing pihak merasakan adanya ikti­kad baik, sehingga hati akan mudah menemukan kedamaian.

Kalau sekiranya pasangan kita masih meluap‐luap emosinya dan bahkan cenderung memuncak, maka belajar dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam kita perlu menahan diri sejenak. Biarlah emosinya reda. Jangan menyalahkan. Jangan pula menuntut. Bahkan andaikan kesalahan itu jelas ada padanya, tahan diri sejenak. Bukankah ketika ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sedang cemburu dan bahkan sebegitu cemburunya sampai memecahkan mangkok, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam tidak sibuk menasehatinya? Barulah setelah tenang, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan untuk mengganti mangkok orang yang sudah dipecahkan.

Di saat emosinya masih meluap‐luap, boleh jadi obat yang paling tepat untuk menahan emosi agar tidak semakin menghebat adalah kesediaan untuk mendengar. Kita ikhlaskan diri untuk mendengar luapan emosinya tanpa berkomentar. Kita terima apa adanya tanpa menyalahkan. Kalaupun ada yang salah, kita bisa meluruskannya. Bukan menyalahkan. Itu pun harus menunggu hingga secara emosi, keadaannya menjadi lebih baik.

Kalau emosi sudah reda, masing‐masing sudah saling tahu apa yang tidak mengenakkan hati, kita bisa merencanakan waktu dan tempat yang tepat untuk membicarakan. Barangkali memilih waktu yang tepat sama pentingnya dengan menemukan jalan keluar yang baik. Membicarakan masalah di saat suami baru saja terjaga dari tidur misalnya, merupakan waktu yang rawan terhadap kesalahpahaman dan mudah menimbulkan letupan emosi.

Bicarakanlah masalah yang ada dengan santai. Diskusikanlah apa yang sebaiknya kita lakukan dengan tenang dan dari hati ke hati. Bukan apa yang kemarin seharusnya tidak dilakukan. Sebab ini hanya akan menambah api kemarahan.

Wallahua’lambishawab.

sumber  http://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/mengungkapkan-kemarahan-menjaga-kemesraan/419544404761360

Monday, September 24, 2012

Kebahagiaan sebuah pernikahan, otomatis atau perlu perjuangan ?


Kalau kita mendengar nama bung Tomo..apa yang ada di pikiran anda? Pahlawan yang berapi-api membakar semangat arek Suroboyo untuk rela memperjuangkan jiwa raga. Ternyata seorang bung Tomo memiliki sisi lain yang jarang kita dengar. Dibalik sosoknya yang terkenal dengan “Singa Podium”, beliau adalah pribadi yang sangat lembut, dan dengan luar biasa selalu menjaga hubungan yang tetap harmonis dengan sang istri, ibu Sulistina Sutomo. Dalam bukunya, ibu Lies, begitu dia dipanggil, menuturkan dengan tulus : “Mas Tom selalu membukakan pintu mobil untukku. Dan itu mas Tom lakukan sejak kami mulai berkenalan sampai menjelang akhir hayatnya..”
Ibu Lies, sungguh sangat bangga kepada suaminya, begitu pula anak-anaknya.. Apakah kita sudah menjadi sosok yang dibanggakan dalam keluarga?

Seperti yang diungkapkan ‘quotes’ favorit saya : “You are replaceable in your job..but you are irreplaceable in your family..” Kalau kita renungkan dengan khusyuk, pesan ini mengandung sebuah pesan yang dalam. Sebuah ‘quotes’ yang layak mendapat perhatian dari setiap anggota keluarga. Inilah yg mendasari saya dan suami tercinta untuk saling memberikan yang terbaik satu sama lain. Karena masing-masing dari setiap anggota keluarga memang memiliki tempat khusus yang tak tergantikan.

Awalnya, sama seperti sebagian besar kehidupan pernikahan yang tidak luput diguncang prahara, kehidupan hampir 7 tahun di awal pernikahan kami mengalami ‘turbulence’ yang cukup dahsyat, sehingga sudah beberapa kali mencapai titik nadir yg seolah tanpa harapan. Disitulah kami mendapat pengalaman berharga untuk membentuk sebuah keluarga dengan seluruh esensinya. Saya sungguh beruntung.. memiliki seorang suami yang sangat menjunjung tinggi nilai sebuah keluarga. Dari sang suami saya belajar banyak bagaimana memainkan peran saya tidak hanya sebagai ibu dan  istri tetapi juga menjadi sosok sahabat, partner dan juga kekasih bagi pasangan.  Buat kami berdua, sebuah keluarga harus menjadi tempat berteduh yang paling nyaman bagi setiap anggotanya. Kami tahu, sesuatu yang berharga harus diperjuangkan. Keluarga yang penuh kehangatan juga harus diperjuangkan oleh setiap anggotanya.Dan bertahun-tahun kami berjuang bahu membahu.. karena kami percaya, rumah yang hangat adalah surga dunia.

Dalam perjuangan itu kami membangun impian bersama.
Ya, sebuah keluarga dengan impian akan memiliki daya juang untuk menjadi keluarga yang diidamkan.
Kami berjuang membangun saling memahami diantara kami karena kami percaya bahwa soul-mate bukan ditemukan tapi diciptakan.
Kami menciptakan diri masing-masing untuk saling menjadi soul-mate. Dalam kesibukan yang sangat, kami selalu membangun komunikasi yang sehat. “Ngopi bareng” itu yang kami lakukan untuk memastikan kami selalu “on track”.
Pada saat ngopi bareng di cafe itulah kami membangun ‘chemistry’ di antara kami. Ya. Kamipun percaya, chemistry diantara sepasang suami istri bukan sebuah anugerah yang datang dari langit. Chemistry pun perlu diperjuangkan.

Hasilnya sekarang.. puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Pemurah, kami bisa memiliki tempat berteduh dan berlabuh yang kami impikan. Kami bisa selalu pacaran dan jatuh cinta… pada orang yang sama..
Puji syukur, sekarang kami sudah menikmati hasil perjuangan kami karena satu hal yang kami ingat : “Sebuah pernikahan yang berbahagia tidak diantar malaikat ke hadapan anda di sebuah piring emas. Anda harus memperjuangkannya”

 Artikel ini merupakan hasil tulisan istri saya, Nunik Noveldy yang saat tulisan ini dimasukkan, sedang menjadi finalis lomba menulis yang diadakan oleh Hotel Papandayan. Jika artikel ini cukup menarik dan bermanfaat buat anda, mohon kesediaan anda untuk mau memberikan dukungan dengan ikut voting untuk tulisan ini.

@noveldy

sumber  http://www.indranoveldy.com/artikel/pernikahan/kebahagiaan-sebuah-pernikahan-otomatis-atau-perlu-perjuangan/