Showing posts with label keluarga Islami. Show all posts
Showing posts with label keluarga Islami. Show all posts
Friday, January 3, 2014
Tuesday, January 29, 2013
Bahtera Keluarga Muslim
Kehidupan rumah tangga tidak akan lepas dari badai dan ombak, ia
menerjang silih berganti tiada henti. Kadang harus miring kekanan dan
kekiri, tak sedikit yang terhempas ketepi atau hancur di tengah samudra
nan sepi.
Tapi jangan berkecil hati, islam nan agung mengajarkan kita untuk mempertahankan diri. Disaat badai meninggi dan angin kencang menghampiri. Masih besar harapan untuk mempert ahankan keluarga.
Berikut ini tips dari seorang sahabat Abu Dzar Al Ghifari. Marilah kita resapi dan renungi , semoga bermanfaat untuk keberlangsungan rumah tangga nanti.
Rasulullah ` pernah bersabda kepada Abu Dzar : “Perkokohlah bahteramu karena samudra ini amat dalam. Perbanyaklah bekalmu karena perjalanan ini amat panjang. Ikhlaskanlah amalmu karena pencatatmu sungguh amat jeli” [ HR. Bukhori Muslim ].
Amal ibadah mempunyai 3 syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
1. Lillah : hanya karena Allah Ta’ala.
2. Billah : bersama Allah Ta’ala, artinya mengikuti apa yang perintah Allah Ta’ala.
3. Illallaah : tujuan akhir hanya mencari keridhaan Allah Ta’ala.
Membangun sebuah rumah tangga muslim juga merupakan ibadah yang harus memenuhi ketiga syarat tersebut. Dasar membangun rumah tangga adalah keikhlasan karena perintah Allah Ta’ala dan mengikuti sunnah Rasulullah saw., bukan hanya ingin mendapatkan pasangan hidup. Dalam pelaksanaannya pun seperti apa yang dicontohkan Rasulullahsaw. , bukan dengan cara-cara lain yang dilarang. Sedangkan tujuan akhir dari pembentukannya adalah hanya untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala bukan kedudukan, harta atau keridhaan manusia.
Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas telah mensinyalir, bahwa samudra yang akan diarungi oleh bahtera rumah tangga amatlah dalam dan perjalanannya pun amat panjang. Karena itulah perlu adanya usaha ekstra, baik dalam mempersiapkan, memasuki gerbangnya dan berjalan diatas keagungan nilainya.
Bagaimana Memperkokoh Bahtera ?
Kehidupan sebuah rumah tangga dapat diumpamakan sebagai sebuah bahtera. Keselamatan bahtera itu sangat tergantung dari kewaspadaan para penumpang diatasnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan gambaran bagaimana seharusnya hidup bersama dalam berrumah tangga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Perumpamaan orang-orang yang menjaga batas-batas Allah swt dengan mereka yang melanggarnya, bagaikan satu kaum yang menaiki sebuah bahtera. Sebagian mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bawah. Mereka yang di bawah jika ingin air (terpaksa) melewati orang-orang yang di atas, lalu berkata, „Seandainya kita lubangi (bahtera ini) untuk mendapatkan air, tentu kita tidak lagi mengganggu orang-orang yang di atas.” Jika orang yang diatas membiarkan keinginan mereka yang di bawah, tentu semua akan binasa. Jika mereka menghalanginya, mereka akan selamat dan selamatlah semuanya.” (HR Bukhari dan Tarmidzi)
Dalam mengarungi samudra kehidupan kadang bahtera itu miring ke kiri dan ke kanan. Satu saat tenang, dan di saat lain dihempas gelombang. Untuk itulah sejak awal bahtera harus dipersiapkan dan diperkuat di segala sisinya. Caranya ialah dengan selalu menjaga langkah agar tidak keluar dari tujuan asasinya serta selalu menjaga keutuhan dan kesejahteraan keluarga.
Musthafa Masyur mengungkapkan bahwa kesejahteraan keluarga bukanlah terletak pada aspek fisik materi, tapi keterikatan anggota keluarga dengan aqidah, ibadah, akhlaq dan pergaulan Islam, hingga seluruh kehidupan terwarnai dengan identitas Islam secara utuh. Bagaimana kehidupan yang islami, dapat kita lihat dari suri tauladan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena Allah Ta’ala sendiri telah menyatakan dalam Al-Qur’an
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah." (QS.33:21)
Kita mencontoh bagaimana Beliau shalat dan beribadah, makan, minum, tidur, menjalin sillaturrahmi dengan para shahabatnya, dsb. Selain itu ada 3 hal penting yang harus diperhatikan dan dipersiapkan oleh pasangan baru, yaitu :
1. Rumahku surgaku
Yaitu keluarga sakinah yang didalamnya terdapat ketentraman dan ketenangan, baik bagi suami, istri ataupun anak-anak. Dimana masing-masing berusaha melakukan perannya dengan sebaik mungkin dan saling meringankan beban satu sama lain (bukan membebani).
2. Rumah adalah madrasah kecil
Yaitu adanya proses belajar mengajar. Semua anggota keluarga saling mengisi dan memperbaiki kekurangan dan kelemahan yang ada, bukan hanya sekedar memaklumi. Faktor penunjang yang penting demi lancarnya proses belajar mengajar ini adalah komunikasi dan sikap keterbukaan sesama anggota keluarga, saling menasehati dan rela untuk dinasehati serta berjalannya fungsi saling membantu antara suami istri.
3. Hiasi rumah dengan shalat, salam, doa dan tilawah Al-Qur’an
Ibadah-ibadah tersebut akan lebih terasa indah dan nikmat jika dilakukan secara berjamaah. Hal inilah yang akan memberikan suasana islami yang segar di dalam rumah.
Bagaimana Memperbanyak Bekal ?
Ilmu dan harta adalah dua bekal yang harus dipersiapkan sebelum seseorang memasuki gerbang pernikahan. Bekal ilmu untuk persiapan mental dan bekal harta untuk persiapan fisik. Mengapa harus dipersiapkan sebelumnya ? Jodoh adalah ketentuan Allah Ta’ala yang kita tidak tahu kapan datangnya. Jika kedua bekal tersebut sudah dipersiapkan dengan baik sebelumnya, maka seseorang tidak akan menjadi „kelabakan” ketika jodoh tiba di depan mata. Tanpa persiapan yang baik atau bahkan tanpa bekal sama sekali hanya akan menimbulkan kesulitan kelak dalam kehidupan rumah tangga. Namun dalam hal harta, bukan sedikit atau banyaknya penghasilan yang didapatkan, tetapi nilai usaha dan barokah (kebaikan) yang ada di dalamnya. Dalam hal ini Allah berfirman :
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 24:32)
Hindarilah rasa ketakutan yang berlebihan (takut akan kemiskinan dan kekurangan), karena itu adalah godaan syetan yang hanya akan menimbulkan keputusasaan.
Dan sebagai muslimah, sebaiknya membekali diri dengan pendidikan ketrampilan untuk dapat menyempurnakan kewajibannya dalam rumah tangga. Misalnya ilmu tentang berrumah tangga, mengurus anak, tata boga, tata busana, bagaimana mengelola ekonomi rumah tangga, perpustakaan rumah dsb. Tujuan dari pembekalan ilmu tersebut adalah agar kelak ia tidak canggung dalam menjalankan fungsinya sebagai istri bagi suaminya dan sebagai ibu bagi anak-anaknya.
Bagaimana Mengihklaskan Amal ?
Dengan selalu mengingat,menjaga dan memelihara tujuan pembentukan rumah tangga, yaitu mencari ridho Allah Ta’ala akan menghasilkan keikhlasan dalam beramal.
Dasar dalam membangun rumah tangga adalah karena takwa kepada Allah Ta’ala, yaitu adanya muroqobatullah (kesertaan Allah Ta’ala dalam setiap gerak langkah), mengutamakan keridhaan Allah Ta’ala menjauhi kebencianNya serta komitmen terhadap pengarahan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw serta adanya keyakinan bahwa berrumah tangga adalah ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah swt.
Takwa inilah yang akan menghasilkan kebahagiaan dalam keluarga dimana masing-masing anggota dalam keluarga berusaha menjalankan tugas dan kewajibannya untuk menggapai ridha Allah Ta’ala.
Dan yang terakhir, kebahagiaan keluarga hanyalah bagi mereka yang mendasarkan kehidupan keluarganya pada ibadah karena Allah Ta’ala.
link http://evisambi.wordpress.com/2011/04/15/bahtera-keluarga-muslim/
Tapi jangan berkecil hati, islam nan agung mengajarkan kita untuk mempertahankan diri. Disaat badai meninggi dan angin kencang menghampiri. Masih besar harapan untuk mempert ahankan keluarga.
Berikut ini tips dari seorang sahabat Abu Dzar Al Ghifari. Marilah kita resapi dan renungi , semoga bermanfaat untuk keberlangsungan rumah tangga nanti.
Rasulullah ` pernah bersabda kepada Abu Dzar : “Perkokohlah bahteramu karena samudra ini amat dalam. Perbanyaklah bekalmu karena perjalanan ini amat panjang. Ikhlaskanlah amalmu karena pencatatmu sungguh amat jeli” [ HR. Bukhori Muslim ].
Amal ibadah mempunyai 3 syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
1. Lillah : hanya karena Allah Ta’ala.
2. Billah : bersama Allah Ta’ala, artinya mengikuti apa yang perintah Allah Ta’ala.
3. Illallaah : tujuan akhir hanya mencari keridhaan Allah Ta’ala.
Membangun sebuah rumah tangga muslim juga merupakan ibadah yang harus memenuhi ketiga syarat tersebut. Dasar membangun rumah tangga adalah keikhlasan karena perintah Allah Ta’ala dan mengikuti sunnah Rasulullah saw., bukan hanya ingin mendapatkan pasangan hidup. Dalam pelaksanaannya pun seperti apa yang dicontohkan Rasulullahsaw. , bukan dengan cara-cara lain yang dilarang. Sedangkan tujuan akhir dari pembentukannya adalah hanya untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala bukan kedudukan, harta atau keridhaan manusia.
Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas telah mensinyalir, bahwa samudra yang akan diarungi oleh bahtera rumah tangga amatlah dalam dan perjalanannya pun amat panjang. Karena itulah perlu adanya usaha ekstra, baik dalam mempersiapkan, memasuki gerbangnya dan berjalan diatas keagungan nilainya.
Bagaimana Memperkokoh Bahtera ?
Kehidupan sebuah rumah tangga dapat diumpamakan sebagai sebuah bahtera. Keselamatan bahtera itu sangat tergantung dari kewaspadaan para penumpang diatasnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan gambaran bagaimana seharusnya hidup bersama dalam berrumah tangga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Perumpamaan orang-orang yang menjaga batas-batas Allah swt dengan mereka yang melanggarnya, bagaikan satu kaum yang menaiki sebuah bahtera. Sebagian mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bawah. Mereka yang di bawah jika ingin air (terpaksa) melewati orang-orang yang di atas, lalu berkata, „Seandainya kita lubangi (bahtera ini) untuk mendapatkan air, tentu kita tidak lagi mengganggu orang-orang yang di atas.” Jika orang yang diatas membiarkan keinginan mereka yang di bawah, tentu semua akan binasa. Jika mereka menghalanginya, mereka akan selamat dan selamatlah semuanya.” (HR Bukhari dan Tarmidzi)
Dalam mengarungi samudra kehidupan kadang bahtera itu miring ke kiri dan ke kanan. Satu saat tenang, dan di saat lain dihempas gelombang. Untuk itulah sejak awal bahtera harus dipersiapkan dan diperkuat di segala sisinya. Caranya ialah dengan selalu menjaga langkah agar tidak keluar dari tujuan asasinya serta selalu menjaga keutuhan dan kesejahteraan keluarga.
Musthafa Masyur mengungkapkan bahwa kesejahteraan keluarga bukanlah terletak pada aspek fisik materi, tapi keterikatan anggota keluarga dengan aqidah, ibadah, akhlaq dan pergaulan Islam, hingga seluruh kehidupan terwarnai dengan identitas Islam secara utuh. Bagaimana kehidupan yang islami, dapat kita lihat dari suri tauladan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena Allah Ta’ala sendiri telah menyatakan dalam Al-Qur’an
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah." (QS.33:21)
Kita mencontoh bagaimana Beliau shalat dan beribadah, makan, minum, tidur, menjalin sillaturrahmi dengan para shahabatnya, dsb. Selain itu ada 3 hal penting yang harus diperhatikan dan dipersiapkan oleh pasangan baru, yaitu :
1. Rumahku surgaku
Yaitu keluarga sakinah yang didalamnya terdapat ketentraman dan ketenangan, baik bagi suami, istri ataupun anak-anak. Dimana masing-masing berusaha melakukan perannya dengan sebaik mungkin dan saling meringankan beban satu sama lain (bukan membebani).
2. Rumah adalah madrasah kecil
Yaitu adanya proses belajar mengajar. Semua anggota keluarga saling mengisi dan memperbaiki kekurangan dan kelemahan yang ada, bukan hanya sekedar memaklumi. Faktor penunjang yang penting demi lancarnya proses belajar mengajar ini adalah komunikasi dan sikap keterbukaan sesama anggota keluarga, saling menasehati dan rela untuk dinasehati serta berjalannya fungsi saling membantu antara suami istri.
3. Hiasi rumah dengan shalat, salam, doa dan tilawah Al-Qur’an
Ibadah-ibadah tersebut akan lebih terasa indah dan nikmat jika dilakukan secara berjamaah. Hal inilah yang akan memberikan suasana islami yang segar di dalam rumah.
Bagaimana Memperbanyak Bekal ?
Ilmu dan harta adalah dua bekal yang harus dipersiapkan sebelum seseorang memasuki gerbang pernikahan. Bekal ilmu untuk persiapan mental dan bekal harta untuk persiapan fisik. Mengapa harus dipersiapkan sebelumnya ? Jodoh adalah ketentuan Allah Ta’ala yang kita tidak tahu kapan datangnya. Jika kedua bekal tersebut sudah dipersiapkan dengan baik sebelumnya, maka seseorang tidak akan menjadi „kelabakan” ketika jodoh tiba di depan mata. Tanpa persiapan yang baik atau bahkan tanpa bekal sama sekali hanya akan menimbulkan kesulitan kelak dalam kehidupan rumah tangga. Namun dalam hal harta, bukan sedikit atau banyaknya penghasilan yang didapatkan, tetapi nilai usaha dan barokah (kebaikan) yang ada di dalamnya. Dalam hal ini Allah berfirman :
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 24:32)
Hindarilah rasa ketakutan yang berlebihan (takut akan kemiskinan dan kekurangan), karena itu adalah godaan syetan yang hanya akan menimbulkan keputusasaan.
Dan sebagai muslimah, sebaiknya membekali diri dengan pendidikan ketrampilan untuk dapat menyempurnakan kewajibannya dalam rumah tangga. Misalnya ilmu tentang berrumah tangga, mengurus anak, tata boga, tata busana, bagaimana mengelola ekonomi rumah tangga, perpustakaan rumah dsb. Tujuan dari pembekalan ilmu tersebut adalah agar kelak ia tidak canggung dalam menjalankan fungsinya sebagai istri bagi suaminya dan sebagai ibu bagi anak-anaknya.
Bagaimana Mengihklaskan Amal ?
Dengan selalu mengingat,menjaga dan memelihara tujuan pembentukan rumah tangga, yaitu mencari ridho Allah Ta’ala akan menghasilkan keikhlasan dalam beramal.
Dasar dalam membangun rumah tangga adalah karena takwa kepada Allah Ta’ala, yaitu adanya muroqobatullah (kesertaan Allah Ta’ala dalam setiap gerak langkah), mengutamakan keridhaan Allah Ta’ala menjauhi kebencianNya serta komitmen terhadap pengarahan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw serta adanya keyakinan bahwa berrumah tangga adalah ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah swt.
Takwa inilah yang akan menghasilkan kebahagiaan dalam keluarga dimana masing-masing anggota dalam keluarga berusaha menjalankan tugas dan kewajibannya untuk menggapai ridha Allah Ta’ala.
Dan yang terakhir, kebahagiaan keluarga hanyalah bagi mereka yang mendasarkan kehidupan keluarganya pada ibadah karena Allah Ta’ala.
link http://evisambi.wordpress.com/2011/04/15/bahtera-keluarga-muslim/
Thursday, December 13, 2012
Membina Keluarga Sakinah-Mawaddah-Warahmah (Kisah inspiratif Kang Aher & Teh Netty)
Contoh keluarga idaman Pengalaman pribadi Ahmad
Heryawan dan Netty Prasetiyani membangun keluarga yang sekarang masuk 21 tahun
perjalanannya (diceritakan oleh ibu Netty Prasetiyani di twitternya Tweet on 01
Desember 2011:
1, Pernikahan yang kami bangun berdiri di atas visi bahwa pernikahan yang dilakukan berdimensi dunia dan akhirat.
2, Artinya, pasangan (suami/istri) di dunia harus menjadi pasangan (suami/istri) di akhirat/kehidupan setelah kematian kelak.
3, Dengan prinsip itu, kami berpikir bahwa tidak boleh ada masalah besar apalagi masalah kecil yang mampu memporakporandakan keluarga kami.
4, Apakah tidak pernah ada masalah? Pasti ada, hanya kita punya kesepakatan bahwa satu sama lain harus berusaha menyelesaikan masalah.
5, Caranya, apapun masalahnya serta siapapun yang memulai, masing-masing harus proaktif mengakhiri dengan cara saling berlomba menyapa lebih dulu.
6, Jadi, tidak ada yang pernah kuat berlama-lama mendiamkan/bermusuhan apalagi dituntaskan sampai 3 hari sebagaimana yang dibolehkan.
7, Suami saya berprinsip bahwa menikah bukan untuk membuat istri sengsara, sedih, tertekan, dan sebagainya. Justru berniat ingin membahagiakan.
8, Akhirnya, pola relasi yang dibangun adalah kemitraan atau taawun (prinsip saling tolong-menolong) sebagaimana yang disebut di dalam Al-Quran.
9, Oleh karena itu, kelancaran komunikasi selalu dibangun. Tidak boleh ada hambatan berkomunikasi antara suami-istri.
10, Ehem, makanya tidak pernah berlalu satu haripun, kecuali ungkapan "I love you" dari mulut masing-masing baik dari saya maupun suami.
11, Ada fleksibilitas dalam membagi peran di rumah. Tatkala tidak ada yang membantu saya mengerjakan pekerjaan RT, suami turun tangan.
12, Setiap pulang beraktivitas/mengajar malam hari, suami mencucikan pakaian kami sekeluarga. Esok hari, saya tinggal menjemurnya.
13, Ketika saya sakit atau sibuk menyiapkan keperluan anak-anak bersekolah, suami langsung mengantri bersama ibu-ibu di tukang sayur untuk berbelanja.
14, Suami juga terbiasa memandikan dan menyuapi anak-anak di pagi hari. Anak-anak suka disuapi bapaknya karena potongan lauknya besar.
15, Setiap kali saya melahirkan, suami saya dengan setia mendampingi di sisi, baik mengusap saat kontraksi atau membesarkan hati.
16. Suami berpendapat bahwa mendampingi istri saat melahirkan akan menambah rasa cinta dan hormat kepada istri dan kaum perempuan lainnya.
17, Termasuk dalam mengasuh dan membesarkan anak, saya dan suami biasa berbagi tugas. Jika saya sibuk, suami yang kontak dan memantau anak-anak.
18. Sebagai bapak, suami punya prinsip yang sangat melegakan bahwa anak terus tumbuh dan berkembang. Jangan pernah underestimate terhadap anak.
19, Anak-anak tak pernah dibebani dengan prestasi akademis lewat urutan ranking. Jika ambil rapor yang ditanya bagaimana akhlak anak di sekolah.
20, Prinsip kami dalam membesarkan dan mendidik anak dengan 3 pendekatan: otoritatif, demokratis, dan edukatif.
21, Otoritatif: sesekali kami gunakan otoritas sebagai orang tua tapi tidak semua urusan harus diselesaikan dengan gaya atasan-bawahan.
22, Demokratis: sesekali kami berikan kebebasan kepada anak untuk menentukan pilihan-pilihannya secara sadar dan bertanggungjawab.
23, Tapi perlu juga pendekatan edukatif; kami harus memberikan penjelasan, pengertian, dan alasan mengapa ini boleh, itu tdk boleh, dan lain-lain.
24, Jadi, tradisi berdiskusi, berdialog, sudah terbangun diantara anggota keluarga, suami, istri, orang tua dan anak sejak dini.
25, Sebagai contoh, si sulung memutuskan masuk IPS (waktu SMA), bapaknya tidak setuju, ia menjelaskan dengan detil alasannya, akhirnya kami menerima.
26, Dengan nilai-nilai (agama) yang ditanamkan, anak-anak pun tumbuh menjadi anak-anak yang sederhana, mandiri, dan terlibat dalam kegiatan orang tuanya.
27, Saya dan suami belajar dari karakter anak-anak yang satu sama lain berbeda, yang laki dan perempuan, yang sulung, tengah, dan bungsu.
28, Anak-anak tidak pernah memaksa untuk dibelikan sesuatu karena tuntutan status atau lingkungan pergaulan. Mereka menerima uang saku sesuai kesepakatan.
29, Jika diberikan lebih, mereka menolak. Setiap kali diberi tambahan oleh si bapak, anak-anak bertanya apakah asal uang tersebut halal? >>> subhanallah..
30. Suami sangat mendukung aktualisasi diri untuk saya, istrinya sehingga sampai hari ini saya didorong untuk menyelesaikan studi S3.
31, Saya dan suami saling belajar, suami tak sungkan bertanya dan meminta pendapat karena yang terpenting satu sama lain saling menghormati.
32, Begitulah selama ini perjalanan keluarga kami, tak ada yang istimewa namun semua kami jalani dengan satu harapan terindah.
33, Yaitu, berkumpulnya kembali saya, suami, dan anak-anak sebagai satu keluarga utuh di akhirat kelak. >>> Aamiiin
34, Masih banyak sebenarnya sisi-sisi lain dari bangunan keluarga kami, insya Allah akan saya sambung dengan topik yang berbeda.
35, Sebagai introduksi saja, si sulung sekarang menimba ilmu di Fisip UI jurusan Ilmu Politik, yang kedua di ITB Jurusan SBM, adiknya di SMA 3.
36, Yang lainnya, di SMP dan SD Mutiara Bunda. Hatur nuhun sudah menyimak. Mohon nasihat dan masukan untuk keharmonisan yang lebih indah.
37, Masih banyak pasangan/ortu yang senior/sepuh, harmonis, dan berhasil mendidik anak, kami masih harus terus belajar.
1, Pernikahan yang kami bangun berdiri di atas visi bahwa pernikahan yang dilakukan berdimensi dunia dan akhirat.
2, Artinya, pasangan (suami/istri) di dunia harus menjadi pasangan (suami/istri) di akhirat/kehidupan setelah kematian kelak.
3, Dengan prinsip itu, kami berpikir bahwa tidak boleh ada masalah besar apalagi masalah kecil yang mampu memporakporandakan keluarga kami.
4, Apakah tidak pernah ada masalah? Pasti ada, hanya kita punya kesepakatan bahwa satu sama lain harus berusaha menyelesaikan masalah.
5, Caranya, apapun masalahnya serta siapapun yang memulai, masing-masing harus proaktif mengakhiri dengan cara saling berlomba menyapa lebih dulu.
6, Jadi, tidak ada yang pernah kuat berlama-lama mendiamkan/bermusuhan apalagi dituntaskan sampai 3 hari sebagaimana yang dibolehkan.
7, Suami saya berprinsip bahwa menikah bukan untuk membuat istri sengsara, sedih, tertekan, dan sebagainya. Justru berniat ingin membahagiakan.
8, Akhirnya, pola relasi yang dibangun adalah kemitraan atau taawun (prinsip saling tolong-menolong) sebagaimana yang disebut di dalam Al-Quran.
9, Oleh karena itu, kelancaran komunikasi selalu dibangun. Tidak boleh ada hambatan berkomunikasi antara suami-istri.
10, Ehem, makanya tidak pernah berlalu satu haripun, kecuali ungkapan "I love you" dari mulut masing-masing baik dari saya maupun suami.
11, Ada fleksibilitas dalam membagi peran di rumah. Tatkala tidak ada yang membantu saya mengerjakan pekerjaan RT, suami turun tangan.
12, Setiap pulang beraktivitas/mengajar malam hari, suami mencucikan pakaian kami sekeluarga. Esok hari, saya tinggal menjemurnya.
13, Ketika saya sakit atau sibuk menyiapkan keperluan anak-anak bersekolah, suami langsung mengantri bersama ibu-ibu di tukang sayur untuk berbelanja.
14, Suami juga terbiasa memandikan dan menyuapi anak-anak di pagi hari. Anak-anak suka disuapi bapaknya karena potongan lauknya besar.
15, Setiap kali saya melahirkan, suami saya dengan setia mendampingi di sisi, baik mengusap saat kontraksi atau membesarkan hati.
16. Suami berpendapat bahwa mendampingi istri saat melahirkan akan menambah rasa cinta dan hormat kepada istri dan kaum perempuan lainnya.
17, Termasuk dalam mengasuh dan membesarkan anak, saya dan suami biasa berbagi tugas. Jika saya sibuk, suami yang kontak dan memantau anak-anak.
18. Sebagai bapak, suami punya prinsip yang sangat melegakan bahwa anak terus tumbuh dan berkembang. Jangan pernah underestimate terhadap anak.
19, Anak-anak tak pernah dibebani dengan prestasi akademis lewat urutan ranking. Jika ambil rapor yang ditanya bagaimana akhlak anak di sekolah.
20, Prinsip kami dalam membesarkan dan mendidik anak dengan 3 pendekatan: otoritatif, demokratis, dan edukatif.
21, Otoritatif: sesekali kami gunakan otoritas sebagai orang tua tapi tidak semua urusan harus diselesaikan dengan gaya atasan-bawahan.
22, Demokratis: sesekali kami berikan kebebasan kepada anak untuk menentukan pilihan-pilihannya secara sadar dan bertanggungjawab.
23, Tapi perlu juga pendekatan edukatif; kami harus memberikan penjelasan, pengertian, dan alasan mengapa ini boleh, itu tdk boleh, dan lain-lain.
24, Jadi, tradisi berdiskusi, berdialog, sudah terbangun diantara anggota keluarga, suami, istri, orang tua dan anak sejak dini.
25, Sebagai contoh, si sulung memutuskan masuk IPS (waktu SMA), bapaknya tidak setuju, ia menjelaskan dengan detil alasannya, akhirnya kami menerima.
26, Dengan nilai-nilai (agama) yang ditanamkan, anak-anak pun tumbuh menjadi anak-anak yang sederhana, mandiri, dan terlibat dalam kegiatan orang tuanya.
27, Saya dan suami belajar dari karakter anak-anak yang satu sama lain berbeda, yang laki dan perempuan, yang sulung, tengah, dan bungsu.
28, Anak-anak tidak pernah memaksa untuk dibelikan sesuatu karena tuntutan status atau lingkungan pergaulan. Mereka menerima uang saku sesuai kesepakatan.
29, Jika diberikan lebih, mereka menolak. Setiap kali diberi tambahan oleh si bapak, anak-anak bertanya apakah asal uang tersebut halal? >>> subhanallah..
30. Suami sangat mendukung aktualisasi diri untuk saya, istrinya sehingga sampai hari ini saya didorong untuk menyelesaikan studi S3.
31, Saya dan suami saling belajar, suami tak sungkan bertanya dan meminta pendapat karena yang terpenting satu sama lain saling menghormati.
32, Begitulah selama ini perjalanan keluarga kami, tak ada yang istimewa namun semua kami jalani dengan satu harapan terindah.
33, Yaitu, berkumpulnya kembali saya, suami, dan anak-anak sebagai satu keluarga utuh di akhirat kelak. >>> Aamiiin
34, Masih banyak sebenarnya sisi-sisi lain dari bangunan keluarga kami, insya Allah akan saya sambung dengan topik yang berbeda.
35, Sebagai introduksi saja, si sulung sekarang menimba ilmu di Fisip UI jurusan Ilmu Politik, yang kedua di ITB Jurusan SBM, adiknya di SMA 3.
36, Yang lainnya, di SMP dan SD Mutiara Bunda. Hatur nuhun sudah menyimak. Mohon nasihat dan masukan untuk keharmonisan yang lebih indah.
37, Masih banyak pasangan/ortu yang senior/sepuh, harmonis, dan berhasil mendidik anak, kami masih harus terus belajar.
Wednesday, December 12, 2012
:: Anak Kecil yang takut Neraka ::
Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, pada saat dia berjalan-jalan dia melihat seorang anak kecil sedang mengambil wudhu' sambil menangis.
Lalu orang tua itu mendatangi anak kecil yang menangis tadi, dia pun berkata, "Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?"
Maka berkata anak kecil itu, "Wahai paman, saya telah membaca ayat al-Qur'an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum" yang bermaksud, " Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu." Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka."
Berkata orang tua itu, "Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalam api neraka."
Berkata anak kecil itu, "Wahai paman, paman adalah orang yang berakal, tidakkah paman lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar terlebih dahulu sebelum orang dewasa yang dibakar."
Berkata orang tua itu, sambil menangis, "Sesungguhnya anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?"
:: Kebanggaan AYAH ::
Oleh: Ustadz Bobby HerwibowoBakri diundang ke sekolah anaknya untuk menghadiri peringatan 'Hari Ayah'. Sebenarnya, dia sangat enggan untuk datang karena merasa sudah tua dan memiliki empat anak.
Bahkan, anak tertuanya sudah masuk kuliah. Namun, istri dan anaknya yang keempat mendesaknya untuk datang ke sekolah.
Setiba di sekolah, para ayah kemudian dikumpulkan di sebuah ruangan untuk menyaksikan penampilan anak-anak mereka menunjukkan kemampuannya. Ada yang menyanyi, menari, menulis, baca puisi, pidato dalam bahasa asing, dan lainnya.
Setiap selesai penampilan, para ayah ini bertepuk tangan sebagai tanda kegembiraan atas kemampuan anaknya. Bakri hanya membatin bahwa dia juga demikian, saat anak pertamanya melakukan hal itu.
Karenanya, ketika tiba giliran anaknya yang bernama Umar, Bakri tampak biasa-biasa saja. Ia menduga, Umar akan menampilkan hal serupa dengan penampilan kawan-kawannya. Namun, dugaannya meleset.
Saat ibu guru sekolah menanyakan kepada Umar akan penampilannya, Umar menjawab bahwa dia ingin tampil bersama Ustaz Amir, guru ekstrakurikuler membaca Alquran di sekolah itu.
Umar mengatakan, ia akan membaca Surah al-Kahfi. Sadar akan jumlahnya banyak (110 ayat), ia meminta Ustaz Amir memilihkan ayat yang akan dibacanya. Saat diminta membaca ayat 1-5, dengan lancar Umar membaca. Dan yang luar biasa lagi, ternyata bacaan Umar sangat indah.
Ia meniru Muhammad Taha al-Junaid, seorang qari cilik yang terkenal dan sering didengar suaranya oleh Umar. Bacaannya begitu tenang dan penuh kedamaian. Kemudian, Ustaz Amir memintanya untuk membaca ayat ke-60. Dan dengan lancar, Umar membaca dengan suara yang juga sangat merdu serta menenangkan jiwa.
Kini, semua mata para ayah tertuju pada Umar. Mereka semua sangat kagum akan kemampuan Umar. Mata para ayah tampak berkaca-kaca. Seolah mereka penuh harap anak-anak mereka bisa seperti Umar. Demikian pula dengan Bakri, ayah Umar. Ia yang tadinya tak sepenuh hati datang ke sekolah, kini tampak bersemangat.
Belum selesai, Umar lagi-lagi diminta Ustaz Amir untuk membacakan ayat 107-110 Surah al-Kahfi sebagai penutup penampilannya. Maka, Umar pun membacanya tanpa kesalahan. Begitu selesai, Bakri langsung bangkit dan memeluk Umar. Ia begitu bangga dengan buah hatinya. Para ayah yang menyaksikan hal itu pun tampak terharu dengan derai air mata yang membasahi pipi.
Menyudahi suasana haru itu, ibu guru bertanya kepada Umar tentang alasan dia membaca Alquran untuk ayahnya. Umar menjawab, "Ustaz Amir pernah mengajarkan kepadaku agar rajin membaca Alquran. Dan kalau hafal, orang tuanya akan mulia di akhirat. Aku ingin ayah dan ibuku mendapat kemuliaan seperti itu," jawabnya. Semua yang hadir pun memuji kebesaran Allah.
Bakri kemudian meminta izin untuk memberikan sambutan. "Kita menyekolahkan anak-anak di sekolah terbaik agar bisa mengejar kemajuan dunia. Aku juga demikian. Dengan ambisi duniawi, aku menyekolahkan Umar dengan harapan ia akan memiliki masa depan gemilang. Hari ini aku sadar. Anakku justru telah membuat masa depanku gemilang dengan mempelajari dan menghafal Alquran. Terima kasih, anakku. Maafkan ayah yang lupa mendidikmu untuk mempelajari Alquran."
sumber http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/12/12/mewxmp-kebanggaan-ayah
Wednesday, November 28, 2012
:: Pendidikan QUR'ANI ::
Oleh: Hasan Basri Tanjung
Setiap anak yang dilahirkan adalah fitrah (suci). Kedua orang tua yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR Bukhari Muslim).
Hadis ini mengajarkan betapa peran orang tua sangat penting dalam membentuk karakter anak. Orang tua adalah guru utama dan keluarga sebagai sekolah pertama untuk melahirkan generasi terbaik. (QS [98]: 7).
Alquran mengingatkan umat Islam agar tidak meninggalkan generasi yang lemah (dzurriyyatan dhi’afan) (QS [4]: 9), tapi generasi yang kuat, cerdas, penyejuk mata dan hati serta pemimpin orang bertakwa. (QS [25]: 74).
Karenanya, pendidikan Islam harus berorientasi Qur’ani yakni pembentukan karakter Islami. Bukan berorientasi nilai (angka) akademik dan kelulusan, apalagi mengabaikan akhlak (moralitas).
Khalid Bin Hamid al-Hazimy, penulis buku, “Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah”, menjelaskan tiga orientasi pendidikan Qur’ani. Pertama, orientasi penanaman. Ibarat pohon, ia bermula dari bibit pilihan, ditanam dengan kesungguhan dan keikhlasan, hingga tumbuh dan berkembang menjadi pohon yang kokoh, rindang dan berbuah.
Begitu pula dengan manusia. Dari jutaan sperma, hanya satu yang berhasil membuahi sel telur dengan benih terbaik. (QS [76]: 1-2). Dalam kandungan, ia ditiupkan ruh Ilahi dengan potensi tauhid (QS [7]: 172). Ketika lahir, ia diazankan dan diiqamatkan agar mendengar kalimah tauhid dan thayyibah.
Pendidik Sejati, Luqman al-Hakim, telah memberikan teladan dalam mendidik anak yang benar yakni penanaman akidah lebih dahulu. Jika akidah tauhidnya kuat, maka kepribadiannya pun akan baik. (QS [31]: 12-19).
Kalimah thayyibah itu, laksana pohon yang akarnya menghunjam ke bumi dan dahannya menjulang ke langit, dengan buah yang banyak. (QS [14]: 24-25). Pepatah Arab mengatakan, “man yazra’ yahsud” (siapa menanam dia akan memanen).
Kedua, orientasi pemeliharaan. Ia mesti dijaga (evaluasi) dengan baik agar tumbuh menjadi pohon yang kokoh, sekaligus memperkuatnya dengan pupuk yang berisi akhlak mulia, agar tidak terjerumus pada hal-hal negatif.
Nabi Ya’qub AS bertanya kepada anak-anaknya, “Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?”
Mereka menjawab, “Kami akan menyembah tuhanmu, tuhan nenek moyangmu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, yakni Tuhan yang Mahaesa.” (QS [2]: 133). Kalau kita, sering menanyakan, “Apa yang akan kalian makan setelah aku mati?”
Ketiga, orientasi penyembuhan. Pohon yang tumbuh akan terus menghadapi bala dan hama. Ia harus diberi obat penawar untuk melawan hama. Jika tidak, ia bisa mati atau hidup segan mati tak mau.
Begitu pula perkembangan anak-anak di tengah tatanan sosial yang bobrok ini. Upaya-upaya sistematis dan massif untuk merusak akidah, pemikiran dan akhlak anak-anak sangat deras dan bertubi-tubi, termasuk pada siaran televisi TV yang memberitakan kekerasan, pornografi, serta pornoaksi.
Mereka harus dirangkul dan dibimbing menuju jalan yang benar. Jangan tinggalkan dalam kesesatan. Kita bimbing mereka dengan membaca dan merenungi Alquran, karena ia adalah obat dan penyejuk hati (QS [17]: 82), bertaubat dan istighfar (QS [66]: 8), mengerjakan kebaikan dan muhasabah. (HR Tirmidzi). Wallahu a’lam.
sumber http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/11/27/me5dxq-pendidikan-qurani
Thursday, October 25, 2012
*mengungkapkan kemarahan, menjaga kemesraan*
oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Suatu saat seorang suami datang kepada saya. Belum saya persilakan masuk, laki‐laki muda ini segera duduk dan berbicara panjang lebar, bahkan sebelum memperkenalkan diri dan bertanya apakah saya punya waktu saat itu. Ia terus saja berbicara. Ketika hand‐phone saya berdering dan kemudian saya berbicara dengan penelpon, lelaki ini tetap saja bercerita dengan meluap‐luap. Tak terkendali ia bicara. Saya ke dapur mengambilkan minum untuknya, ia tetap berbicara sendirian. Akhirnya, saya berkesimpulan tamu saya kali ini pastilah mempunyai beban emosi yang sangat berat. Begitu beratnya sehingga ia sudah kehilangan kendali. Ia tak lagi membutuhkan pendengar yang mau mengerti perkataannya. Ia hanya butuh kesempatan untuk menumpahkan isi hati dan kekesalannya dengan tuntas.
Pertemuan pertama hampir tak ada yang bisa digali, kecuali bahwa ia mempunyai konflik berat dengan istrinya. Meski waktu masih memungkinkan untuk berbincang panjang dengannya, tetapi saya melihat bukan saat yang tepat. Baru saja ia menumpahkan secara meluap‐luap beban emosinya. Ibarat komputer, sistemnya perlu direstart dulu agar bisa melihat masalah sendiri dengan baik. Kali ini, yang paling penting ia bisa menata kembali pikirannya, menyusun kembali kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan juga kerapuhan jiwanya dengan baik. Bahasa komputernya, kesempatan pertama lebih banyak saya manfaatkan untuk memberi kesempatan kepadanya melakukan defragmentasi pikiran‐pikiran dan emosinya sehingga ia bisa menempatkannya secara lebih teratur.
Pertemuan berikutnya, saudara kita ini sudah bisa menceritakan secara lebih jelas masalah apa yang ia hadapi. Meski masih melompat‐lompat dan banyak yang berulang‐ulang, saya mulai bisa menangkap akar masalahnya. Pada pertemuan berikutnya lagi, mulailah kelihatan penyebab konflik rumah‐tangganya yang berlarut‐larut. Di antara penyebab utama pertikaian yang menimbulkan kekerasan fisik satu sama lain–istrinya sering bertindak sangat kasar sampai melukai suaminya—adalah kegagalan komunikasi (communication breakdown). Kedua‐duanya keras, mudah tersinggung sekaligus mudah terbakar emosinya menjadi perilaku yang membahayakan.
Sebenarnya, tidak masalah suami‐istri sama‐sama memiliki sifat mudah tersinggung, keras dan mudah marah, sejauh keduanya saling menyadari tentang sifat buruk mereka.Berawal dari saling menyadarii ni, mereka belajar untuk saling mengenali penanda‐penanda emosi dari kedua belah pihak. Istri saya misalnya, tahu saya sedang marah, bad mood (suasana hati sedang negatif) atau pikiran sedang tegang dari rambut saya. Diam‐diam ia rupanya menandai bahwa setiap kali satu dari tiga situasi buruk itu muncul, rambut di ubun‐ubun saya berdiri. Alhasil begitu melihat penanda emosi itu muncul, istri saya segera mengambil langkah yang perlu. Misalnya bertanya apa yang sedang saya alami atau sejenak mengajak anak-anak agar tidak gaduh.
Dari sejarah kita belajar, kisah romantis antara Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dengan istri beliau, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tak lepas dari kepekaan Rasulullahsaw. Mengenal penanda suka dan marahnya hati ‘Aisyah.
Diriwayatkan dari‘ Aisyah, ia berkata, “Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Sungguh aku dapat mengetahui kapan engkau sedang suka padaku dan bila engkau lagi marah.”
‘Aisyah bertanya, “Darimana engkau tahu?”
Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bila engkau sedang suka padaku, engkau berkata, “Demi Tuhannya Muhammad.” Dan apabila engkau sedang marah padaku, engkau berkata, “Sungguh, demi Tuhannya Ibrahim.”’
‘Aisyah berkata, “Demi Allah, memang benar ya Rasulullah, yang tidak kusebut hanyalah namamu.”(HR. Bukhari & Muslim).
Apa yang bisa kita petik dari hadis ini? Kepekaan untuk mengenali penanda emosi istri. Berpijak dari mengenali penanda ini, kita bisa menentukan sikap dengan lebih tepat dan menahan diri dari perilaku yang bisa memperkeruh. Jadi, bukan justru menyulut emosi. Inilah yang sering saya sebut sebagai kedewasaan emosi; kemampuan untuk mengenali, memahami dan menerima dengan baik.
Selanjutnya, mereka bisa belajar untuk saling mengkomunikasikan emosi negatifnya dengan cara positif. Tidak saling marah, tidak saling memojokkan dan tidak saling menyakiti. Emosi negatif bisa berupa rasa kesal, marah maupun rasa tidak suka. Semuanya ini bisa mengganggu hubungan suami dan istri. Jika dibiarkan, komunikasi antar kita akan sangat rentan salah paham dan pertikaian. Tetapi emosi negatif itu bisa diungkapkan dengan cara yang nyaman. Kita mengungkapkan perasaan yang sedang kita alami. Bukan meluapkannya.
Kita bisa mengatakan,“Maaf, saya lagi marah. Emosi saya lagi negatif.”
Atau kita bisa berterus‐terang, “Mas, saya lagi tersinggung. Maafkan saya, ya… suasana hati saya sedang buruk.”
Jika situasinya memungkinkan, suami‐istrinya bisa mengungkapkan emosi negatifnya dengan setuntas‐tuntasnya. Ia bicara secara terbuka sekaligus dengan hati‐hati apa saja yang membuat kita marah atau sakit hati. Tetapi kita harus menahan diri untuk tidak menyalahkan. Kita harus ingat bahwa semarah apapun kita, komunikasi suami‐istri bertujuan untuk mencapai titik temu terbaik; titik temu yang saling memberi kelegaan, perasaan dihargai dan didengar.
Sampai di sini, kita masih perlu menahan diri untuk tidak terburu‐buru mencari jalan keluar atas masalah yang sedang menyelimuti. Ada kecenderungan, dalam situasi seperti ini kita masih belum bisa berpikir secara jernih. Sebaliknya, kita cenderung masih ingin saling memenangkan pendapat dan bahkan saling memojokkan. Kalau kita sendiri masih belum bisa berpikir jernih, sebaik apapun jalan keluar yang diajukan oleh suami atau istri kita, tetap saja sulit kita terima apa adanya. Itu sebabnya, kita perlu menahan diri sejenak. Yang paling penting untuk kita raih bersama adalah masing‐masing pihak merasakan adanya iktikad baik, sehingga hati akan mudah menemukan kedamaian.
Kalau sekiranya pasangan kita masih meluap‐luap emosinya dan bahkan cenderung memuncak, maka belajar dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam kita perlu menahan diri sejenak. Biarlah emosinya reda. Jangan menyalahkan. Jangan pula menuntut. Bahkan andaikan kesalahan itu jelas ada padanya, tahan diri sejenak. Bukankah ketika ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sedang cemburu dan bahkan sebegitu cemburunya sampai memecahkan mangkok, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam tidak sibuk menasehatinya? Barulah setelah tenang, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan untuk mengganti mangkok orang yang sudah dipecahkan.
Di saat emosinya masih meluap‐luap, boleh jadi obat yang paling tepat untuk menahan emosi agar tidak semakin menghebat adalah kesediaan untuk mendengar. Kita ikhlaskan diri untuk mendengar luapan emosinya tanpa berkomentar. Kita terima apa adanya tanpa menyalahkan. Kalaupun ada yang salah, kita bisa meluruskannya. Bukan menyalahkan. Itu pun harus menunggu hingga secara emosi, keadaannya menjadi lebih baik.
Kalau emosi sudah reda, masing‐masing sudah saling tahu apa yang tidak mengenakkan hati, kita bisa merencanakan waktu dan tempat yang tepat untuk membicarakan. Barangkali memilih waktu yang tepat sama pentingnya dengan menemukan jalan keluar yang baik. Membicarakan masalah di saat suami baru saja terjaga dari tidur misalnya, merupakan waktu yang rawan terhadap kesalahpahaman dan mudah menimbulkan letupan emosi.
Bicarakanlah masalah yang ada dengan santai. Diskusikanlah apa yang sebaiknya kita lakukan dengan tenang dan dari hati ke hati. Bukan apa yang kemarin seharusnya tidak dilakukan. Sebab ini hanya akan menambah api kemarahan.
Wallahua’lambishawab.
sumber http://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/mengungkapkan-kemarahan-menjaga-kemesraan/419544404761360
Suatu saat seorang suami datang kepada saya. Belum saya persilakan masuk, laki‐laki muda ini segera duduk dan berbicara panjang lebar, bahkan sebelum memperkenalkan diri dan bertanya apakah saya punya waktu saat itu. Ia terus saja berbicara. Ketika hand‐phone saya berdering dan kemudian saya berbicara dengan penelpon, lelaki ini tetap saja bercerita dengan meluap‐luap. Tak terkendali ia bicara. Saya ke dapur mengambilkan minum untuknya, ia tetap berbicara sendirian. Akhirnya, saya berkesimpulan tamu saya kali ini pastilah mempunyai beban emosi yang sangat berat. Begitu beratnya sehingga ia sudah kehilangan kendali. Ia tak lagi membutuhkan pendengar yang mau mengerti perkataannya. Ia hanya butuh kesempatan untuk menumpahkan isi hati dan kekesalannya dengan tuntas.
Pertemuan pertama hampir tak ada yang bisa digali, kecuali bahwa ia mempunyai konflik berat dengan istrinya. Meski waktu masih memungkinkan untuk berbincang panjang dengannya, tetapi saya melihat bukan saat yang tepat. Baru saja ia menumpahkan secara meluap‐luap beban emosinya. Ibarat komputer, sistemnya perlu direstart dulu agar bisa melihat masalah sendiri dengan baik. Kali ini, yang paling penting ia bisa menata kembali pikirannya, menyusun kembali kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan juga kerapuhan jiwanya dengan baik. Bahasa komputernya, kesempatan pertama lebih banyak saya manfaatkan untuk memberi kesempatan kepadanya melakukan defragmentasi pikiran‐pikiran dan emosinya sehingga ia bisa menempatkannya secara lebih teratur.
Pertemuan berikutnya, saudara kita ini sudah bisa menceritakan secara lebih jelas masalah apa yang ia hadapi. Meski masih melompat‐lompat dan banyak yang berulang‐ulang, saya mulai bisa menangkap akar masalahnya. Pada pertemuan berikutnya lagi, mulailah kelihatan penyebab konflik rumah‐tangganya yang berlarut‐larut. Di antara penyebab utama pertikaian yang menimbulkan kekerasan fisik satu sama lain–istrinya sering bertindak sangat kasar sampai melukai suaminya—adalah kegagalan komunikasi (communication breakdown). Kedua‐duanya keras, mudah tersinggung sekaligus mudah terbakar emosinya menjadi perilaku yang membahayakan.
Sebenarnya, tidak masalah suami‐istri sama‐sama memiliki sifat mudah tersinggung, keras dan mudah marah, sejauh keduanya saling menyadari tentang sifat buruk mereka.Berawal dari saling menyadarii ni, mereka belajar untuk saling mengenali penanda‐penanda emosi dari kedua belah pihak. Istri saya misalnya, tahu saya sedang marah, bad mood (suasana hati sedang negatif) atau pikiran sedang tegang dari rambut saya. Diam‐diam ia rupanya menandai bahwa setiap kali satu dari tiga situasi buruk itu muncul, rambut di ubun‐ubun saya berdiri. Alhasil begitu melihat penanda emosi itu muncul, istri saya segera mengambil langkah yang perlu. Misalnya bertanya apa yang sedang saya alami atau sejenak mengajak anak-anak agar tidak gaduh.
Dari sejarah kita belajar, kisah romantis antara Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dengan istri beliau, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tak lepas dari kepekaan Rasulullahsaw. Mengenal penanda suka dan marahnya hati ‘Aisyah.
Diriwayatkan dari‘ Aisyah, ia berkata, “Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Sungguh aku dapat mengetahui kapan engkau sedang suka padaku dan bila engkau lagi marah.”
‘Aisyah bertanya, “Darimana engkau tahu?”
Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bila engkau sedang suka padaku, engkau berkata, “Demi Tuhannya Muhammad.” Dan apabila engkau sedang marah padaku, engkau berkata, “Sungguh, demi Tuhannya Ibrahim.”’
‘Aisyah berkata, “Demi Allah, memang benar ya Rasulullah, yang tidak kusebut hanyalah namamu.”(HR. Bukhari & Muslim).
Apa yang bisa kita petik dari hadis ini? Kepekaan untuk mengenali penanda emosi istri. Berpijak dari mengenali penanda ini, kita bisa menentukan sikap dengan lebih tepat dan menahan diri dari perilaku yang bisa memperkeruh. Jadi, bukan justru menyulut emosi. Inilah yang sering saya sebut sebagai kedewasaan emosi; kemampuan untuk mengenali, memahami dan menerima dengan baik.
Selanjutnya, mereka bisa belajar untuk saling mengkomunikasikan emosi negatifnya dengan cara positif. Tidak saling marah, tidak saling memojokkan dan tidak saling menyakiti. Emosi negatif bisa berupa rasa kesal, marah maupun rasa tidak suka. Semuanya ini bisa mengganggu hubungan suami dan istri. Jika dibiarkan, komunikasi antar kita akan sangat rentan salah paham dan pertikaian. Tetapi emosi negatif itu bisa diungkapkan dengan cara yang nyaman. Kita mengungkapkan perasaan yang sedang kita alami. Bukan meluapkannya.
Kita bisa mengatakan,“Maaf, saya lagi marah. Emosi saya lagi negatif.”
Atau kita bisa berterus‐terang, “Mas, saya lagi tersinggung. Maafkan saya, ya… suasana hati saya sedang buruk.”
Jika situasinya memungkinkan, suami‐istrinya bisa mengungkapkan emosi negatifnya dengan setuntas‐tuntasnya. Ia bicara secara terbuka sekaligus dengan hati‐hati apa saja yang membuat kita marah atau sakit hati. Tetapi kita harus menahan diri untuk tidak menyalahkan. Kita harus ingat bahwa semarah apapun kita, komunikasi suami‐istri bertujuan untuk mencapai titik temu terbaik; titik temu yang saling memberi kelegaan, perasaan dihargai dan didengar.
Sampai di sini, kita masih perlu menahan diri untuk tidak terburu‐buru mencari jalan keluar atas masalah yang sedang menyelimuti. Ada kecenderungan, dalam situasi seperti ini kita masih belum bisa berpikir secara jernih. Sebaliknya, kita cenderung masih ingin saling memenangkan pendapat dan bahkan saling memojokkan. Kalau kita sendiri masih belum bisa berpikir jernih, sebaik apapun jalan keluar yang diajukan oleh suami atau istri kita, tetap saja sulit kita terima apa adanya. Itu sebabnya, kita perlu menahan diri sejenak. Yang paling penting untuk kita raih bersama adalah masing‐masing pihak merasakan adanya iktikad baik, sehingga hati akan mudah menemukan kedamaian.
Kalau sekiranya pasangan kita masih meluap‐luap emosinya dan bahkan cenderung memuncak, maka belajar dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam kita perlu menahan diri sejenak. Biarlah emosinya reda. Jangan menyalahkan. Jangan pula menuntut. Bahkan andaikan kesalahan itu jelas ada padanya, tahan diri sejenak. Bukankah ketika ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sedang cemburu dan bahkan sebegitu cemburunya sampai memecahkan mangkok, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam tidak sibuk menasehatinya? Barulah setelah tenang, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan untuk mengganti mangkok orang yang sudah dipecahkan.
Di saat emosinya masih meluap‐luap, boleh jadi obat yang paling tepat untuk menahan emosi agar tidak semakin menghebat adalah kesediaan untuk mendengar. Kita ikhlaskan diri untuk mendengar luapan emosinya tanpa berkomentar. Kita terima apa adanya tanpa menyalahkan. Kalaupun ada yang salah, kita bisa meluruskannya. Bukan menyalahkan. Itu pun harus menunggu hingga secara emosi, keadaannya menjadi lebih baik.
Kalau emosi sudah reda, masing‐masing sudah saling tahu apa yang tidak mengenakkan hati, kita bisa merencanakan waktu dan tempat yang tepat untuk membicarakan. Barangkali memilih waktu yang tepat sama pentingnya dengan menemukan jalan keluar yang baik. Membicarakan masalah di saat suami baru saja terjaga dari tidur misalnya, merupakan waktu yang rawan terhadap kesalahpahaman dan mudah menimbulkan letupan emosi.
Bicarakanlah masalah yang ada dengan santai. Diskusikanlah apa yang sebaiknya kita lakukan dengan tenang dan dari hati ke hati. Bukan apa yang kemarin seharusnya tidak dilakukan. Sebab ini hanya akan menambah api kemarahan.
Wallahua’lambishawab.
sumber http://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/mengungkapkan-kemarahan-menjaga-kemesraan/419544404761360
Monday, September 24, 2012
KIat-Kiat Memiliki Anak yang Shaleh(ah)
Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan banyak nikmat yang sangat
besar atas hamba-hambaNya , dan diantara nikmat tersebut adalah anak
yang shalih, ia merupakan amalan shalih bagi kedua orang tuanya semasa
hidup dan setelah mereka meninggal, sebagaimana yang dikabarkan oleh
Nabi shallallahu dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
2. Memperbaiki diri sendiri
3. Memilih istri yang Shalehah atau suami yang shalih.
4. Membaca doa sebelum melakukan hubungan suami istri
5. Mendidik anak dengan amalan shalih
“jika seorang hamba telah meninggal dunia maka terputuslah
seluruh amalannya kecuali tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang
bermanfaat atau anak shalih yang mendoakannya” (riwayat Muslim no.1631)
Oleh karena itu para nabi dan orang-orang shalih terdahulu
memiliki perhatian khusus dalam perkara ini, karena didalamnya terdapat
kebaikan yang sangat besar.
Allah Ta’ala berfirman menghikayatkan tentang keadaan mereka :
“Di sanalah Zakariya berdo’a kepada Tuhannya seraya
berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang
baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a”. (Ali-Imran : 38)
Juga firmanNya :
“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami,
anugeraahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami
sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang
yang bertakwa.” (Al-Furqaan : 74)
Sudah sepantasnya bagi kita untuk turut berusaha dan
memperhatikan hal ini, dan diantara kiat-kiat untuk memiliki anak yang
shalih sebagai berikut :
1. Berdoa kepada Allah agar diberikan keturunan yang shalih
Karena Allah Ta’ala telah memerintahkan hamba-hambaNya
untuk berdoa dan meminta kepadaNya, serta memberi jaminan akan
mengabulkan doa mereka :
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan
Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri
dari berdoa kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina
dina”. (Al-Mu’min : 60).
Allah Ta’ala berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
(At-Tahrim : 6)
Allah Ta’ala memerintahkan diri kita terlebih dahulu agar
terhindar dari api neraka kemudian keluarga kita, dan baiknya ayah dan
ibu merupakan sebab yang sangat berpengaruh terhadap seorang anak karena
mereka adalah panutan bagi anak-anaknya, dan anak-anak akan mengikuti
dan mencontohi kedua orang tuanya, anak laki-laki akan mencontohi
ayahnya dan anak perempuan akan mencontohi ibunya, Allah Ta’ala
berfirman :
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka
mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan
mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.
Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath-Thuur :
21)
Barangsiapa yang ingin memiliki hasil panen yang baik dan
berkualitas maka hendaknya ia mencari tanah yang baik dan berkualitas
pula. Diantara hikmah yang besar dari sebuah pernikahan adalah untuk
menghasilkan keturunan yang shalih yang hanya menyembah Allah Ta’ala dan
berbakti kepada kedua orang tuanya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Wanita itu dinikahi karena empat perkara : karena harta,
nasab, kecantikan dan agamanya, maka pilihlah yang memiliki agama pasti
kalian akan beruntung.” (riwayat Al-Bukhary no.5090 dan Muslim no.1466).
Juga sabdanya :
“Maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang paling baik dimiliki oleh seseorang? : wanita shalihah.”
(riwayat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2/363 no.3281 dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu)
Demikian pula sebaliknya, seorang wanita mencari dan memilih suami yang shalih.
Tentunya yang berperan penting dalam hal ini adalah kedua
orang tua si wanita, merekalah yang akan menjadi sebab terwujudnya
keturunan shalih yang akan keluar dari rahim putrinya, oleh karena itu
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menasehatkan dan mewasiatkan kepada
kedua orang tua agar memilih bagi putri mereka seorang pria yang shalih.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Jika orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang
melamar, maka nikahkanlah ia (dengan anak perempuan kalian), jika kalian
tidak melakukannya, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar
di bumi.” (riwayat At-Tirmidziy no.1084 dan Ibnu Majah no.1967).
Demikianlah tuntunan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi salam dalam memilih calon menantu, yang dilihat adalah agama dan
akhlaknya walaupun ia datang tanpa kendaraan dan pakaian yang mewah,
karena harta yang banyak tidaklah bermanfaat jika pemiliknya adalah
seorang yang tidak memiliki agama dan berakhlak buruk.
Berdoa sebelum melakukan hubungan suami istri diantara
sebab yang membantu untuk mendapatkan keturunan yang shalih, sebagaimana
sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu ‘anhu :
“jika salah seorang diantara kalian membaca :
باسم الله, اللهم جنَبْنا الشيطان, و جنَبِ الشيطان ما رزقْتَنا
“Bismillah, ya Allah jauhkanlah setan dari kami, dan
jauhkanlah setan dari rizki yang engkau berikan kepada kami”, maka
keduanya diberikan seorang anak yang tidak akan di ganggu oleh setan
selama-lamanya.” (riwayat Al-Bukhariy no.141 dan Muslim no.1434).
Yang dimaksud dengan kalimat “tidak akan diganggu oleh
setan” adalah anak itu tidak terfitnah sehingga keluar dari agamanya
menuju kekufuran dan tidak dimaksud dengannya ia maksum dari berbuat
maksiat, hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar
dalam Fathul Baary (9/285-286).
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Perintahkanlah anak kecil untuk shalat ketika ia berumur
tujuh tahun, dan jika ia berumur sepuluh tahun maka pukullah (kalau ia
meninggalkan shalat).” (riwayat Abu Dawud no.494 dan At-Tirmdziy no.407
dan berkata : “ini dalah hadits yang hasan”).
Berkata Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah tatkala mengomentari hadits ini :
“para ahli fiqih mengatakan : demikian pula puasa, agar hal
itu menjadi latihan baginya untuk mengerjakan ibadah, supaya nantinya
ia tumbuh dewasa dalam keadaan senantiasa di atas peribadahan dan
ketaatan, dan menjauhi kemaksiatan dan meninggalkan kemungkaran, hanya
Allah yang memberi taufik” (tafsir Ibnu Katsir 8/167 tafsir surah
At-Tahriim : 6).
Wallahu Ta’ala a’lam bishshawaab. (MT)
sumber http://al-atsariyyah.com/kiat-kiat-memiliki-anak-shalih.html
Subscribe to:
Posts (Atom)




