Showing posts with label pernikahan. Show all posts
Showing posts with label pernikahan. Show all posts

Wednesday, December 11, 2013

Sebelum memutuskan untuk bercerai...

ditulis oleh Roni Nuryusmansyah

Meski perceraian itu tak selamanya dilarang atau dianggap buruk, tapi efek buruknya selalu ada. Bukan hanya satu efek, tapi bahkan berbagai efek yang bisa jadi terakumulasi sehingga menjadi derita yang tak tertanggungkan. 


Maka, tak ada kata yang lebih indah dari anjuran untuk berupaya mencegah terjadinya perceraian. Bila piring dan gelaspun selalu dijaga agar tidak pecah, maka rumah tangga tentu harus juga dijaga agar tidak menyerpih bercerai-berai.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan kebajikan dan ketakwaan apa saja yang kaum kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.” (QS. An-Nisa’: 128)

Seberapa banyakkah kebaikan yang telah kita lakukan selama kita hidup berumah tangga?
Kesan terbaik apa yang bisa kita banggakan saat kita harus meninggalkan panggung kehidupan indah bersama istri kita yang tercinta?

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa’: 129)

Adakah jaminan bahwa kita telah berlaku baik terhadap pasangan kita dalam kehidupan berumah tangga? Bila perceraian itu terjadi, sebagai seorang suami, sudahkah kita berani bertanggung jawab telah menjadi suami yang baik?

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Janganlah kalian lupakan keutamaan di antara kamu, sesungguhnya Allah Maha Melihat atas apa yang kalian kerjakan…” (QS. Al-Baqarah: 237)

Bila tenun perkawinan telah terurai benang-benangnya, masihkah ada pengakuan dalam diri kita terhadap kebaikan dan kelebihan mantan pasangan kita? Atau kita akan menjadi mantan suami yang hatinya terbalut seribu satu dendam?

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan perdamaian itu lebih baik.” (QS. An-Nisa’: 128)

Sudahkah kita melakukan segala cara untuk mencapai perdamaian dengan pasangan kita?

Ataukah perceraian itu mengalir sedemikian cepatnya sampai kita tidak mengetahui bahwa hidup bersama masih jauh lebih indah daripada perpisahan selamanya?

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Kalau kalian harus menceraikan istri-istri kalian, lalu datang masa iddah, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf pula.” (QS. Al-Baqarah: 231)

Kalaupun perceraian harus terjadi, seyogyanya tindakan monumental itu dilakukan secara baik, menurut adab, etika, dan petunjuk Islam. Bila masih ada kesempatan untuk kembali, dan hal itu terlihat lebih baik, maka kembalilah dengan cara yang baik pula.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang terbaik di antaramu adalah yang terbaik perlakuannya terhadap istrinya, dan aku adalah yang terbaik perlakuannya terhadap istri.” (HR. Tirmidzi)

Saat jalan menuju perceraian kita kuakkan, maka predikat sebagai yang terbaik tetap harus kita raih. Sebagai suami misalnya, hanya dianggap yang terbaik bia ia mempergauli istrinya dengan cara terbaik. Kalaupun terpaksa menceraikannya, tetap harus dengan cara yang terbaik. Coba pikirkan juga nasib yang akan dijalani oleh sang istri bila perceraian itu terjadi, seperti halnya kita memikirkan nasib yang akan kita alami kelak.

Dalam hadis Umar, diceritakan, “Kami dari kalangan Quraisy, biasa mengalahkan wanita-wanita kami. Ketika kami datang ke kota Al-Madinah berjumpa dengan kaum Al-Anshar, tiba-tiba kami dapati mereka adalah kaum yang dikuasai oleh kaum wanita. Hampir-hampir saja wanita-wanita kami meniru kebiasaan wanita-wanita Al-Anshar. Aku pernah membentak istriku, namun ia melawan. Aku menyalahkan perbuatannya yang melawan diriku.
‘Kenapa engkau menyalahkan diriku yang melawan kepadamu? Demi Allah, sesungguhnya istri-istri Nabipun melawan beliau. Sampai ada salah satu istri beliau yang meninggalkan beliau sehari semalam,’ jawab istriku.
Pernyataan istriku itu sungguh membuat diriku terkejut. ‘Sungguh celaka wanita yang melakukan perbuatan seperti itu,’ ujarku.” (HR. Bukhari)

Cobalah perhatikan. Ternyata kejadian itupun pernah terjadi dalam rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan rumah tangga para Sahabat beliau. Maka cobalah untuk bersabar untuk mempertahankan mahligai rumah tangga. Meskipun sebagai suami, kita mendapatkan perlakuan yang tidak sewajarnya. Bisa jadi sebagian dari hak kita hilang, tapi apakah sepadan bila dengan gantinya kita harus membayarnya dengan perceraian? Dan apakah dengan perceraian itu hak kitapun bisa kita peroleh?

Selain itu, kaum wanita juga patut merenungi kembali bayangan hitam perceraian dengan melongok lembaran sejarah kehidupan Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Suatu hari Abu Bakar meminta izin menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba-tiba ia mendengar Aisyah bersuara dengan keras. Ketika ia sudah masuk, ia segera menemui Aisyah untuk menamparnya, “Sungguh aku menyaksikan sendiri engkau berteriak keras melebihi suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Namun Nabi justru mencegahnya. Abu Bakarpun keluar dalam keadaan penuh amarah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam langsung bertanya kepada Aisyah, “Bagaimana sikapmu sekarang setelah engaku melihatku menyelamatkan dirimu dari kemarahan laki-laki (ayahmu) tadi?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan teguran yang sungguh menyentuh hati Aisyah. Beliau tidak membalas pekikan Aisyah dengan bentakan yang lebih keras, atau teguran dengan suara menyentak-nyentak. Beliau hanya diam, bahkan saat Abu Bakar, yang notabene adalah ayah dari Aisyah sendiri, sudah begitu murkan terhadap putrinya sendiri. Wajar, karena yang dihadapi Aisyah adalah Rasulullah. Tapi, lihatlah, bagaimana sikap beliau?
Hanya kepribadian beliau nan agung sebagai seorang nabi dan keberadaan beliau sebagai suri teladan utama dalam Islam yang menghalangi beliau untuk membiarkan Abu Bakar melabrak putrinya sendiri. Karena pandangan Abu Bakar tidaklah salah. Tak seorangpun berhak berteriak melebihi suara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, termasuk istri beliau sendiri. Namun ini juga merupakan pembelajaran bagi para suami agar bersikap sabar. Toh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bersabar, meskipun beliau lebih berhak untuk marah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalau aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada sesamanya, niscaya sudah aku perintahkan seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi)

Sejauh manakah sebagai istri kita telah berbakti terhadap suami kita?
Akankah panggung rumah tangga ini akan kita tutup tirainya dengan peran akhir kita sebagai istri durhaka?

Tidak malukah kita menghadap Allah dengan wajah tercoreng moreng?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap kali seorang wanita menyakiti suaminya di dunia ini, pasti istri suaminya itu dari kalangan bidadari Surga akan berkata, ‘Janganlah engkau menyakitinya, semoga Allah membunuhmu. Ia hanya titipan buat dirimu, sebentar lagi ia akan meninggalkanmu dan menemui kami.” (HR. Tirmidzi)

Sebagai istri, sejauh mana pula kita telah berupaya membahagiakan suami kita selama ini?

Akankah kita membiarkan terjadinya perceraian dengan status sebagai pecundang?

Saat sekian bidadari menyambut kehadiran suami kita, bukankah kita hanya memiliki sekilas kenangan yang suatu saat tidak akan berarti lagi?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah tidak akan melihat wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, padahal ia betul-betul membutuhkannya.” (lihat Al-Mustadrak)

Kepada istri, suami, dan siapapun yang terlibat dalam kasus perceraian pasangan suami istri yang sebelumnya hidup dengan tentram, cobalah sejenak berpikir lebih mendalam:

Sederetan bocah-bocah tak bersalah akan menjadi anak-anak terlantar.
Sekumpulan para wanita suci akan termenung membayangkan kenangan manisnya.
Sekian pria menduda terpaksa mengurus diri sendiri, terlepas dari sentuhan lembut istri dan anak-anak tercinta.

Cobalah pikirkan, saat sepasang makhluk hidup yang hidup penuh cinta kasih, akan berubah menjadi para musuh yang memperlihatkan dirinya sebagai orang yang terbebas dari salah?

Di sisi lain, banyak orang tua yang akan menonton kesedihan anak-anaknya, saat mereka meratapi perpisahan dengan buah hati mereka!! Sebelum itu terjadi, berupayalah sebaik mungkin agar kepedihan itu tidak pernah terjadi.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan bertolong-tolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah bertolong-tolongan dalam dosa dan permusuhan. Sesungguhnys Allah Maha Hebat siksa-Nya.” (QS.Al-Maidah: 2)

Suami maupun istri, masih memegang kendali keputusan, selama mereka masih mau bertolong-tolongan dalam ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang beriman.” (QS. Al-Anfal: 1)

Akad pernikahan adalah ikatan persaudaraan, sementara perceraian adalah pemutus cinta kasih dan kebersamaan.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan wanita, sebagian mereka adalah penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mukmin yang satu dengan mukmin yang lain ibarat satu bangunan yang saling menguatkan. Kemudian beliau menganyam jari-jari tangannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

sumber  silakan klik di sini

Tuesday, June 11, 2013

:: cinta & PERNIKAHAN ::




Cinta dan pernikahan sering menjadi dua hal yang terpisah dan tidak ada hubungannya sama sekali.

Orang-orang yang saling mencintai belum tentu disatukan dalam pernikahan yang mereka rindukan.

Mereka yang sudah menikah hanya bertengkar dan saling tidak setia, seperti mereka dulu tidak pernah saling jatuh cinta kepada satu sama lain.

Itu sebabnya marilah kita berhati-hati dengan kelumpuhan logika yang disebabkan oleh cinta, dan tidak menjadi korban ketergesaan.

Dan marilah kita memutuskan untuk setia kepada janji pernikahan, agar kedamaian, kegembiraan, dan kesejahteraan yang menjadi doa pernikahan kita diwujudkan di dalam keluarga kita.

Kehidupan di dunia ini hanya sekali, dan tidak bisa diulangi jika kita salah menghidupinya.

Marilah kita hidup ikhlas dalam kebaikan, dan tidak menjual jiwa kita kepada Setan hanya untuk uang, kekuasaan, dan ketenaran sesaat yang kenikmatan palsunya hanya sementara, tapi yang deritanya panjang di dunia dan di akhirat.


Mario Teguh – Loving you all as always

Tuesday, January 29, 2013

Bahtera Keluarga Muslim

Kehidupan rumah tangga tidak akan lepas dari badai dan ombak, ia menerjang silih berganti tiada henti. Kadang harus miring kekanan dan kekiri, tak sedikit yang terhempas ketepi atau hancur di tengah samudra nan sepi.

Tapi jangan berkecil hati, islam nan agung mengajarkan kita untuk mempertahankan diri. Disaat badai meninggi dan angin kencang menghampiri. Masih besar harapan untuk mempert ahankan keluarga.
Berikut ini tips dari seorang sahabat Abu Dzar Al Ghifari. Marilah kita resapi dan renungi , semoga bermanfaat untuk keberlangsungan rumah tangga nanti.

Rasulullah ` pernah bersabda kepada Abu Dzar : “Perkokohlah bahteramu karena samudra ini amat dalam. Perbanyaklah bekalmu karena perjalanan ini amat panjang. Ikhlaskanlah amalmu karena pencatatmu sungguh amat jeli” [ HR. Bukhori Muslim ].

Amal ibadah mempunyai 3 syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
1. Lillah : hanya karena Allah Ta’ala.
2. Billah : bersama Allah Ta’ala, artinya mengikuti apa yang perintah Allah Ta’ala.
3. Illallaah : tujuan akhir hanya mencari keridhaan Allah Ta’ala.


Membangun sebuah rumah tangga muslim juga merupakan ibadah yang harus memenuhi ketiga syarat tersebut. Dasar membangun rumah tangga adalah keikhlasan karena perintah Allah Ta’ala dan mengikuti sunnah Rasulullah saw., bukan hanya ingin mendapatkan pasangan hidup. Dalam pelaksanaannya pun seperti apa yang dicontohkan Rasulullahsaw. , bukan dengan cara-cara lain yang dilarang. Sedangkan tujuan akhir dari pembentukannya adalah hanya untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala bukan kedudukan, harta atau keridhaan manusia.


Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas telah mensinyalir, bahwa samudra yang akan diarungi oleh bahtera rumah tangga amatlah dalam dan perjalanannya pun amat panjang. Karena itulah perlu adanya usaha ekstra, baik dalam mempersiapkan, memasuki gerbangnya dan berjalan diatas keagungan nilainya.

Bagaimana Memperkokoh Bahtera ? 

Kehidupan sebuah rumah tangga dapat diumpamakan sebagai sebuah bahtera. Keselamatan bahtera itu sangat tergantung dari kewaspadaan para penumpang diatasnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan gambaran bagaimana seharusnya hidup bersama dalam berrumah tangga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Perumpamaan orang-orang yang menjaga batas-batas Allah swt dengan mereka yang melanggarnya, bagaikan satu kaum yang menaiki sebuah bahtera. Sebagian mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bawah. Mereka yang di bawah jika ingin air (terpaksa) melewati orang-orang yang di atas, lalu berkata, „Seandainya kita lubangi (bahtera ini) untuk mendapatkan air, tentu kita tidak lagi mengganggu orang-orang yang di atas.” Jika orang yang diatas membiarkan keinginan mereka yang di bawah, tentu semua akan binasa. Jika mereka menghalanginya, mereka akan selamat dan selamatlah semuanya.” (HR Bukhari dan Tarmidzi) 

Dalam mengarungi samudra kehidupan kadang bahtera itu miring ke kiri dan ke kanan. Satu saat tenang, dan di saat lain dihempas gelombang. Untuk itulah sejak awal bahtera harus dipersiapkan dan diperkuat di segala sisinya. Caranya ialah dengan selalu menjaga langkah agar tidak keluar dari tujuan asasinya serta selalu menjaga keutuhan dan kesejahteraan keluarga.

Musthafa Masyur mengungkapkan bahwa kesejahteraan keluarga bukanlah terletak pada aspek fisik materi, tapi keterikatan anggota keluarga dengan aqidah, ibadah, akhlaq dan pergaulan Islam, hingga seluruh kehidupan terwarnai dengan identitas Islam secara utuh. Bagaimana kehidupan yang islami, dapat kita lihat dari suri tauladan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena Allah Ta’ala sendiri telah menyatakan dalam Al-Qur’an

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah." (QS.33:21) 

Kita mencontoh bagaimana Beliau shalat dan beribadah, makan, minum, tidur, menjalin sillaturrahmi dengan para shahabatnya, dsb. Selain itu ada 3 hal penting yang harus diperhatikan dan dipersiapkan oleh pasangan baru, yaitu : 

1. Rumahku surgaku
Yaitu keluarga sakinah yang didalamnya terdapat ketentraman dan ketenangan, baik bagi suami, istri ataupun anak-anak. Dimana masing-masing berusaha melakukan perannya dengan sebaik mungkin dan saling meringankan beban satu sama lain (bukan membebani).

2. Rumah adalah madrasah kecil
Yaitu adanya proses belajar mengajar. Semua anggota keluarga saling mengisi dan memperbaiki kekurangan dan kelemahan yang ada, bukan hanya sekedar memaklumi. Faktor penunjang yang penting demi lancarnya proses belajar mengajar ini adalah komunikasi dan sikap keterbukaan sesama anggota keluarga, saling menasehati dan rela untuk dinasehati serta berjalannya fungsi saling membantu antara suami istri.

3. Hiasi rumah dengan shalat, salam, doa dan tilawah Al-Qur’an
Ibadah-ibadah tersebut akan lebih terasa indah dan nikmat jika dilakukan secara berjamaah. Hal inilah yang akan memberikan suasana islami yang segar di dalam rumah.

Bagaimana Memperbanyak Bekal ? 

Ilmu dan harta adalah dua bekal yang harus dipersiapkan sebelum seseorang memasuki gerbang pernikahan. Bekal ilmu untuk persiapan mental dan bekal harta untuk persiapan fisik. Mengapa harus dipersiapkan sebelumnya ? Jodoh adalah ketentuan Allah Ta’ala yang kita tidak tahu kapan datangnya. Jika kedua bekal tersebut sudah dipersiapkan dengan baik sebelumnya, maka seseorang tidak akan menjadi „kelabakan” ketika jodoh tiba di depan mata. Tanpa persiapan yang baik atau bahkan tanpa bekal sama sekali hanya akan menimbulkan kesulitan kelak dalam kehidupan rumah tangga. Namun dalam hal harta, bukan sedikit atau banyaknya penghasilan yang didapatkan, tetapi nilai usaha dan barokah (kebaikan) yang ada di dalamnya. Dalam hal ini Allah berfirman :

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 24:32) 

Hindarilah rasa ketakutan yang berlebihan (takut akan kemiskinan dan kekurangan), karena itu adalah godaan syetan yang hanya akan menimbulkan keputusasaan.

Dan sebagai muslimah, sebaiknya membekali diri dengan pendidikan ketrampilan untuk dapat menyempurnakan kewajibannya dalam rumah tangga. Misalnya ilmu tentang berrumah tangga, mengurus anak, tata boga, tata busana, bagaimana mengelola ekonomi rumah tangga, perpustakaan rumah dsb. Tujuan dari pembekalan ilmu tersebut adalah agar kelak ia tidak canggung dalam menjalankan fungsinya sebagai istri bagi suaminya dan sebagai ibu bagi anak-anaknya.

Bagaimana Mengihklaskan Amal ? 

Dengan selalu mengingat,menjaga dan memelihara tujuan pembentukan rumah tangga, yaitu mencari ridho Allah Ta’ala akan menghasilkan keikhlasan dalam beramal.

Dasar dalam membangun rumah tangga adalah karena takwa kepada Allah Ta’ala, yaitu adanya muroqobatullah (kesertaan Allah Ta’ala dalam setiap gerak langkah), mengutamakan keridhaan Allah Ta’ala menjauhi kebencianNya serta komitmen terhadap pengarahan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw serta adanya keyakinan bahwa berrumah tangga adalah ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah swt.

Takwa inilah yang akan menghasilkan kebahagiaan dalam keluarga dimana masing-masing anggota dalam keluarga berusaha menjalankan tugas dan kewajibannya untuk menggapai ridha Allah Ta’ala.

Dan yang terakhir, kebahagiaan keluarga hanyalah bagi mereka yang mendasarkan kehidupan keluarganya pada ibadah karena Allah Ta’ala.

link  http://evisambi.wordpress.com/2011/04/15/bahtera-keluarga-muslim/

Thursday, December 13, 2012

Membina Keluarga Sakinah-Mawaddah-Warahmah (Kisah inspiratif Kang Aher & Teh Netty)



Contoh keluarga idaman Pengalaman pribadi Ahmad Heryawan dan Netty Prasetiyani membangun keluarga yang sekarang masuk 21 tahun perjalanannya (diceritakan oleh ibu Netty Prasetiyani di twitternya Tweet on 01 Desember 2011:

1, Pernikahan yang kami bangun berdiri di atas visi bahwa pernikahan yang dilakukan berdimensi dunia dan akhirat.
2, Artinya, pasangan (suami/istri) di dunia harus menjadi pasangan (suami/istri) di akhirat/kehidupan setelah kematian kelak.
3, Dengan prinsip itu, kami berpikir bahwa tidak boleh ada masalah besar apalagi masalah kecil yang mampu memporakporandakan keluarga kami.
4, Apakah tidak pernah ada masalah? Pasti ada, hanya kita punya kesepakatan bahwa satu sama lain harus berusaha menyelesaikan masalah.
5, Caranya, apapun masalahnya serta siapapun yang memulai, masing-masing harus proaktif mengakhiri dengan cara saling berlomba menyapa lebih dulu.
6, Jadi, tidak ada yang pernah kuat berlama-lama mendiamkan/bermusuhan apalagi dituntaskan sampai 3 hari sebagaimana yang dibolehkan.
7, Suami saya berprinsip bahwa menikah bukan untuk membuat istri sengsara, sedih, tertekan, dan sebagainya. Justru berniat ingin membahagiakan.
8, Akhirnya, pola relasi yang dibangun adalah kemitraan atau taawun (prinsip saling tolong-menolong) sebagaimana yang disebut di dalam Al-Quran.
9, Oleh karena itu, kelancaran komunikasi selalu dibangun. Tidak boleh ada hambatan berkomunikasi antara suami-istri.
10, Ehem, makanya tidak pernah berlalu satu haripun, kecuali ungkapan "I love you" dari mulut masing-masing baik dari saya maupun suami.
11, Ada fleksibilitas dalam membagi peran di rumah. Tatkala tidak ada yang membantu saya mengerjakan pekerjaan RT, suami turun tangan.
12, Setiap pulang beraktivitas/mengajar malam hari, suami mencucikan pakaian kami sekeluarga. Esok hari, saya tinggal menjemurnya.
13, Ketika saya sakit atau sibuk menyiapkan keperluan anak-anak bersekolah, suami langsung mengantri bersama ibu-ibu di tukang sayur untuk berbelanja.
14, Suami juga terbiasa memandikan dan menyuapi anak-anak di pagi hari. Anak-anak suka disuapi bapaknya karena potongan lauknya besar.
15, Setiap kali saya melahirkan, suami saya dengan setia mendampingi di sisi, baik mengusap saat kontraksi atau membesarkan hati.
16. Suami berpendapat bahwa mendampingi istri saat melahirkan akan menambah rasa cinta dan hormat kepada istri dan kaum perempuan lainnya.
17, Termasuk dalam mengasuh dan membesarkan anak, saya dan suami biasa berbagi tugas. Jika saya sibuk, suami yang kontak dan memantau anak-anak.
18. Sebagai bapak, suami punya prinsip yang sangat melegakan bahwa anak terus tumbuh dan berkembang. Jangan pernah underestimate terhadap anak.
19, Anak-anak tak pernah dibebani dengan prestasi akademis lewat urutan ranking. Jika ambil rapor yang ditanya bagaimana akhlak anak di sekolah.
20, Prinsip kami dalam membesarkan dan mendidik anak dengan 3 pendekatan: otoritatif, demokratis, dan edukatif.
21, Otoritatif: sesekali kami gunakan otoritas sebagai orang tua tapi tidak semua urusan harus diselesaikan dengan gaya atasan-bawahan.
22, Demokratis: sesekali kami berikan kebebasan kepada anak untuk menentukan pilihan-pilihannya secara sadar dan bertanggungjawab.
23, Tapi perlu juga pendekatan edukatif; kami harus memberikan penjelasan, pengertian, dan alasan mengapa ini boleh, itu tdk boleh, dan lain-lain.
24, Jadi, tradisi berdiskusi, berdialog, sudah terbangun diantara anggota keluarga, suami, istri, orang tua dan anak sejak dini.
25, Sebagai contoh, si sulung memutuskan masuk IPS (waktu SMA), bapaknya tidak setuju, ia menjelaskan dengan detil alasannya, akhirnya kami menerima.
26, Dengan nilai-nilai (agama) yang ditanamkan, anak-anak pun tumbuh menjadi anak-anak yang sederhana, mandiri, dan terlibat dalam kegiatan orang tuanya.
27, Saya dan suami belajar dari karakter anak-anak yang satu sama lain berbeda, yang laki dan perempuan, yang sulung, tengah, dan bungsu.
28, Anak-anak tidak pernah memaksa untuk dibelikan sesuatu karena tuntutan status atau lingkungan pergaulan. Mereka menerima uang saku sesuai kesepakatan.
29, Jika diberikan lebih, mereka menolak. Setiap kali diberi tambahan oleh si bapak, anak-anak bertanya apakah asal uang tersebut halal? >>> subhanallah..
30. Suami sangat mendukung aktualisasi diri untuk saya, istrinya sehingga sampai hari ini saya didorong untuk menyelesaikan studi S3.
31, Saya dan suami saling belajar, suami tak sungkan bertanya dan meminta pendapat karena yang terpenting satu sama lain saling menghormati.
32, Begitulah selama ini perjalanan keluarga kami, tak ada yang istimewa namun semua kami jalani dengan satu harapan terindah.
33, Yaitu, berkumpulnya kembali saya, suami, dan anak-anak sebagai satu keluarga utuh di akhirat kelak. >>> Aamiiin
34, Masih banyak sebenarnya sisi-sisi lain dari bangunan keluarga kami, insya Allah akan saya sambung dengan topik yang berbeda.
35, Sebagai introduksi saja, si sulung sekarang menimba ilmu di Fisip UI jurusan Ilmu Politik, yang kedua di ITB Jurusan SBM, adiknya di SMA 3.
36, Yang lainnya, di SMP dan SD Mutiara Bunda. Hatur nuhun sudah menyimak. Mohon nasihat dan masukan untuk keharmonisan yang lebih indah.
37, Masih banyak pasangan/ortu yang senior/sepuh, harmonis, dan berhasil mendidik anak, kami masih harus terus belajar.


Monday, September 24, 2012

Kebahagiaan sebuah pernikahan, otomatis atau perlu perjuangan ?


Kalau kita mendengar nama bung Tomo..apa yang ada di pikiran anda? Pahlawan yang berapi-api membakar semangat arek Suroboyo untuk rela memperjuangkan jiwa raga. Ternyata seorang bung Tomo memiliki sisi lain yang jarang kita dengar. Dibalik sosoknya yang terkenal dengan “Singa Podium”, beliau adalah pribadi yang sangat lembut, dan dengan luar biasa selalu menjaga hubungan yang tetap harmonis dengan sang istri, ibu Sulistina Sutomo. Dalam bukunya, ibu Lies, begitu dia dipanggil, menuturkan dengan tulus : “Mas Tom selalu membukakan pintu mobil untukku. Dan itu mas Tom lakukan sejak kami mulai berkenalan sampai menjelang akhir hayatnya..”
Ibu Lies, sungguh sangat bangga kepada suaminya, begitu pula anak-anaknya.. Apakah kita sudah menjadi sosok yang dibanggakan dalam keluarga?

Seperti yang diungkapkan ‘quotes’ favorit saya : “You are replaceable in your job..but you are irreplaceable in your family..” Kalau kita renungkan dengan khusyuk, pesan ini mengandung sebuah pesan yang dalam. Sebuah ‘quotes’ yang layak mendapat perhatian dari setiap anggota keluarga. Inilah yg mendasari saya dan suami tercinta untuk saling memberikan yang terbaik satu sama lain. Karena masing-masing dari setiap anggota keluarga memang memiliki tempat khusus yang tak tergantikan.

Awalnya, sama seperti sebagian besar kehidupan pernikahan yang tidak luput diguncang prahara, kehidupan hampir 7 tahun di awal pernikahan kami mengalami ‘turbulence’ yang cukup dahsyat, sehingga sudah beberapa kali mencapai titik nadir yg seolah tanpa harapan. Disitulah kami mendapat pengalaman berharga untuk membentuk sebuah keluarga dengan seluruh esensinya. Saya sungguh beruntung.. memiliki seorang suami yang sangat menjunjung tinggi nilai sebuah keluarga. Dari sang suami saya belajar banyak bagaimana memainkan peran saya tidak hanya sebagai ibu dan  istri tetapi juga menjadi sosok sahabat, partner dan juga kekasih bagi pasangan.  Buat kami berdua, sebuah keluarga harus menjadi tempat berteduh yang paling nyaman bagi setiap anggotanya. Kami tahu, sesuatu yang berharga harus diperjuangkan. Keluarga yang penuh kehangatan juga harus diperjuangkan oleh setiap anggotanya.Dan bertahun-tahun kami berjuang bahu membahu.. karena kami percaya, rumah yang hangat adalah surga dunia.

Dalam perjuangan itu kami membangun impian bersama.
Ya, sebuah keluarga dengan impian akan memiliki daya juang untuk menjadi keluarga yang diidamkan.
Kami berjuang membangun saling memahami diantara kami karena kami percaya bahwa soul-mate bukan ditemukan tapi diciptakan.
Kami menciptakan diri masing-masing untuk saling menjadi soul-mate. Dalam kesibukan yang sangat, kami selalu membangun komunikasi yang sehat. “Ngopi bareng” itu yang kami lakukan untuk memastikan kami selalu “on track”.
Pada saat ngopi bareng di cafe itulah kami membangun ‘chemistry’ di antara kami. Ya. Kamipun percaya, chemistry diantara sepasang suami istri bukan sebuah anugerah yang datang dari langit. Chemistry pun perlu diperjuangkan.

Hasilnya sekarang.. puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Pemurah, kami bisa memiliki tempat berteduh dan berlabuh yang kami impikan. Kami bisa selalu pacaran dan jatuh cinta… pada orang yang sama..
Puji syukur, sekarang kami sudah menikmati hasil perjuangan kami karena satu hal yang kami ingat : “Sebuah pernikahan yang berbahagia tidak diantar malaikat ke hadapan anda di sebuah piring emas. Anda harus memperjuangkannya”

 Artikel ini merupakan hasil tulisan istri saya, Nunik Noveldy yang saat tulisan ini dimasukkan, sedang menjadi finalis lomba menulis yang diadakan oleh Hotel Papandayan. Jika artikel ini cukup menarik dan bermanfaat buat anda, mohon kesediaan anda untuk mau memberikan dukungan dengan ikut voting untuk tulisan ini.

@noveldy

sumber  http://www.indranoveldy.com/artikel/pernikahan/kebahagiaan-sebuah-pernikahan-otomatis-atau-perlu-perjuangan/