Roti tidak hanya enak dicampur dengan selai atau
cokelat, tapi juga enak dijadikan puding lho. Sangat menyenangkan
menjadikan puding roti kukus untuk sarapan di pagi hari.
Penasaran dengan resep puding roti kukus yang sangat menggoda selera? Yuk, langsung lihat saja resepnya:
Bahan:
- 5 lembar roti tawar, sobek-sobek
- 700 ml susu cair
- 2 butir telur ayam, kocok lepas
- 1/2 sendok teh vanili
- 125 gr gula pasir
- 100 gr margarin, cairkan
- 100 gr kismis
- 100 gr keju parut
Cara Membuat :
1. Campur roti tawar, susu cair, telur, vanili, dan gula pasir. Aduk rata hingga gula larut.
2. Tambahkan margarin cair, kismis dan setengah bagian keju parut, aduk rata kembali.
3.
Tuang adonan roti ke dalam cetakan mangkuk foil yang telah diolesi
margarin, beri taburan keju parut, kukus hingga matang. Angkat.
4. Resep Puding Roti siap dinikmati
sumber http://id.she.yahoo.com/lezatnya-puding-roti-kukus-003000305.html
Wednesday, October 17, 2012
Tuesday, October 16, 2012
:: mencari sekolah ISLAMI yang ISLAMI ::
oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Jika sekolah Islam tak lagi bersungguh-sungguh menanamkan iman sejak hari pertama masuk sekolah, dan menguatinya hingga mereka lulus, maka apakah yang membedakannya dengan sekolah-sekolah umum?
Jika sekolah-sekolah Islam tak lagi berserius menumbuhkan kecintaan shalat semenjak awal anak belajar, dan tidak mendampingi mereka satu per satu untuk mampu melakukan wudhu dan shalat dengan benar, tertib dan bersungguh-sunggguh, masih adakah alasan bagi kita untuk memasukkan anak kita di sana?
Sekolah-sekolah Islam harus sepenuhnya sadar bahwa kuatnya penanaman iman dan ibadah inilah yang menjadi pembeda penting dari sekolah-sekolah lainnya. Berawal dari iman yang kuat, mereka kita pacu untuk berprestasi. Artinya, justru iman itulah yang menjadi pemacunya sekaligus penjaga arah dari niat mereka belajar. Bukan menjadikan agama hanya sekedar fungsi instrumental. Kalau mau ujian, baru kita berserius mengajak mereka melakukan do'a bersama. Bukan pula bersibuk dengan prestasi akademik, tapi hal pokok justru terlupakan. Sebagaimana, sangat tidak tepat menjadikan iman dan prestasi sebagai dua hal yang bertentangan. Justru, mereka yang beriman harusnya lebih bersemangat belajar.
Ini yang perlu dilihat kembali oleh sekolah-sekolah Islam. Sudah adakah? Ataukah kita bahkan tidak resah manakala SD kelas 4 shalatnya masih berantakan? Apalagi jika sudah kelas 6.
Wahai para guru, kelak Allah Ta'ala akan bertanya kepadamu atas amanah yang engkau bersedia memikulnya hari ini!
Jika sekolah Islam tak lagi bersungguh-sungguh menanamkan iman sejak hari pertama masuk sekolah, dan menguatinya hingga mereka lulus, maka apakah yang membedakannya dengan sekolah-sekolah umum?
Jika sekolah-sekolah Islam tak lagi berserius menumbuhkan kecintaan shalat semenjak awal anak belajar, dan tidak mendampingi mereka satu per satu untuk mampu melakukan wudhu dan shalat dengan benar, tertib dan bersungguh-sunggguh, masih adakah alasan bagi kita untuk memasukkan anak kita di sana?
Sekolah-sekolah Islam harus sepenuhnya sadar bahwa kuatnya penanaman iman dan ibadah inilah yang menjadi pembeda penting dari sekolah-sekolah lainnya. Berawal dari iman yang kuat, mereka kita pacu untuk berprestasi. Artinya, justru iman itulah yang menjadi pemacunya sekaligus penjaga arah dari niat mereka belajar. Bukan menjadikan agama hanya sekedar fungsi instrumental. Kalau mau ujian, baru kita berserius mengajak mereka melakukan do'a bersama. Bukan pula bersibuk dengan prestasi akademik, tapi hal pokok justru terlupakan. Sebagaimana, sangat tidak tepat menjadikan iman dan prestasi sebagai dua hal yang bertentangan. Justru, mereka yang beriman harusnya lebih bersemangat belajar.
Ini yang perlu dilihat kembali oleh sekolah-sekolah Islam. Sudah adakah? Ataukah kita bahkan tidak resah manakala SD kelas 4 shalatnya masih berantakan? Apalagi jika sudah kelas 6.
Wahai para guru, kelak Allah Ta'ala akan bertanya kepadamu atas amanah yang engkau bersedia memikulnya hari ini!
Wednesday, October 10, 2012
Hanya 33% orangtua yang masih sempat mendongeng untuk anak...
Saat ini, mendongeng sepertinya jadi aktivitas yang sudah jarang
dilakukan orangtua terhadap anak-anak mereka. Survei yang diadakan
Disney di Inggris pun membuktikannya. Survei diikuti oleh 1.000 orangtua
dan kakek-nenek yang memiliki anak atau cucu berusia di bawah enam
tahun. Dari survei tersebut terungkap hanya 1/3 orangtua di Inggris yang
masih sempat membacakan cerita pada anak sebelum tidur.
Mereka yang sempat membacakan dongeng sebelum tidur itu, sesuai survei, paling banyak adalah para ibu, kemudian ayah dan disusul kakek-nenek. Sedangkan fakta di lapangan, anak-anak lebih suka jika mereka dibacakan dongeng oleh ibu, lalu kakek-nenek dan terakhir ayah.
Meskipun jumlah orangtua yang sempat membacakan cerita itu sedikit, setengah dari responden percaya mendongeng adalah saat yang tepat untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama anak-anak mereka. 47% orangtua juga tahu bahwa anak-anak sebenarnya senang dibacakan dongeng oleh orangtuanya
Sayangnya sesuai survei tersebut, sekarang ini sebagian besar orangtua kehabisan waktu untuk membacakan anak-anak mereka sebuah dongeng. Hampir sepertiga orangtua yang menjadi responden mengaku terlalu lelah untuk bercerita, terlebih ketika mereka terlambat pulang kantor dan harus melakukan pekerjaan rumah lainnya. Dari survei Disney tersebut juga terungkap, di era digital seperti sekarang ini, 2/3 dari orangtua dan kakek-nenek merasa bahwa teknologi modern sudah menghilangkan tradisi mendongeng.
Salah satu penyebab menurunnya aktivitas dongeng sebelum tidur ini adalah karena kurangnya kepercayaan diri orangtua ketika membacakan cerita untuk anak. Lebih dari 1/3 orangtua dan kakek-nenek berharap mereka bisa menjadi pendongeng yang baik baik.
Dalam urusan membacakan cerita ini, hanya setengah dari kaum pria yang merasa mereka bisa mendongeng dengan baik. Wanita dianggap lebih baik dalam aktivitas dongeng tersebut karena mereka lebih banyak membaca ketika masih anak-anak.
Survei Disney juga menunjukkan bahwa kemampuan mendongeng ditentukan oleh faktor usia, 81% orang yang pandai mendongeng berusia lebih dari 55 tahun, dan 44% dari usia 18-24 tahun. Selain itu, cerita tradisional tetap paling populer karena sebagian besar (84%) dari responden bercerita tentang apa yang mereka baca saat masih anak-anak.
Kelompok usia muda yang bernostalgia ini, yaitu yang berusia 18-24 tahun, yang sering membacakan anak-anak cerita serupa ketika mereka masa kecil. Sementara lebih dari seperempatnya memilih untuk menceritakan kisah-kisah klasik seperti Winnie the Pooh, dan hanya sedikit yang memilih untuk membuat cerita mereka sendiri.
sumber http://wolipop.detik.com/read/2012/10/10/070850/2058848/857/hanya-33-orangtua-yang-masih-sempat-mendongeng-untuk-anak?w991101857
Mereka yang sempat membacakan dongeng sebelum tidur itu, sesuai survei, paling banyak adalah para ibu, kemudian ayah dan disusul kakek-nenek. Sedangkan fakta di lapangan, anak-anak lebih suka jika mereka dibacakan dongeng oleh ibu, lalu kakek-nenek dan terakhir ayah.
Meskipun jumlah orangtua yang sempat membacakan cerita itu sedikit, setengah dari responden percaya mendongeng adalah saat yang tepat untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama anak-anak mereka. 47% orangtua juga tahu bahwa anak-anak sebenarnya senang dibacakan dongeng oleh orangtuanya
Sayangnya sesuai survei tersebut, sekarang ini sebagian besar orangtua kehabisan waktu untuk membacakan anak-anak mereka sebuah dongeng. Hampir sepertiga orangtua yang menjadi responden mengaku terlalu lelah untuk bercerita, terlebih ketika mereka terlambat pulang kantor dan harus melakukan pekerjaan rumah lainnya. Dari survei Disney tersebut juga terungkap, di era digital seperti sekarang ini, 2/3 dari orangtua dan kakek-nenek merasa bahwa teknologi modern sudah menghilangkan tradisi mendongeng.
Salah satu penyebab menurunnya aktivitas dongeng sebelum tidur ini adalah karena kurangnya kepercayaan diri orangtua ketika membacakan cerita untuk anak. Lebih dari 1/3 orangtua dan kakek-nenek berharap mereka bisa menjadi pendongeng yang baik baik.
Dalam urusan membacakan cerita ini, hanya setengah dari kaum pria yang merasa mereka bisa mendongeng dengan baik. Wanita dianggap lebih baik dalam aktivitas dongeng tersebut karena mereka lebih banyak membaca ketika masih anak-anak.
Survei Disney juga menunjukkan bahwa kemampuan mendongeng ditentukan oleh faktor usia, 81% orang yang pandai mendongeng berusia lebih dari 55 tahun, dan 44% dari usia 18-24 tahun. Selain itu, cerita tradisional tetap paling populer karena sebagian besar (84%) dari responden bercerita tentang apa yang mereka baca saat masih anak-anak.
Kelompok usia muda yang bernostalgia ini, yaitu yang berusia 18-24 tahun, yang sering membacakan anak-anak cerita serupa ketika mereka masa kecil. Sementara lebih dari seperempatnya memilih untuk menceritakan kisah-kisah klasik seperti Winnie the Pooh, dan hanya sedikit yang memilih untuk membuat cerita mereka sendiri.
sumber http://wolipop.detik.com/read/2012/10/10/070850/2058848/857/hanya-33-orangtua-yang-masih-sempat-mendongeng-untuk-anak?w991101857
Monday, October 8, 2012
Imunisasi MMR Bisa Sebabkan Autis?
Orang tua sering khawatir akan autisme yang disebabkan vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella). Akibatnya? Banyak anak yang tidak memperoleh perlindungan dari penyakit campak, campak Jerman, dan penyakit gondong. Padahal, penyakit-penyakit tersebut terbilang berbahaya, lho!
Dan sebenarnya, keamanan vaksin MMR telah dibuktikan melalui berbagai penelitian di luar negeri. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pemberantasan Penyakit Menular Dunia (CDC) juga sudah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa tidak ada bukti yang bisa mengaitkan pemberian imunisasi dengan timbulnya autisme pada anak.
Kadar thimerosal (zat pengawet mengandung merkuri) yang digunakan dalam vaksin MMR juga amat rendah dan akan segera dikeluarkan dari tubuh melalui feses. WHO juga menekankan, jenis merkuri yang terkandung di dalam thimerosal bukanlah merkuri aktif yang bersifat toksik (racun) serta bisa merusak ginjal, saraf, dan otak.
Setelah divaksinasi, terbukti pula bahwa kadar merkuri dalam darah pasien tidak mengalami peningkatan. Jadi, bila anak sehat dan Anda mampu secara finansial, imunisasi ini bisa dilakukan, Ma.
http://www.parenting.co.id/article/mode/imunisasi.mmr.bisa.sebabkan.autis/001/003/280
[mari mengenal] 7 Imunisasi Tambahan
Selain imunisasi wajib (vaksin BCG, polio tetes minum (polio oral), DPT,
hepatitis B dan campak) yang direkomendasi Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Anda juga perlu tahu imunisasi yang dianjurkan.
Imunisasi yang dianjurkan ini diteliti bisa mencegah berbagai penyakit, antara lain: radang paru-paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis), campak Jerman, Hepatitis A, dan kanker mulut rahim.
Vaksin tersebut belum masuk dalam daftar imunisasi PPI dan tidak disubsidi pemerintah –sehingga disebut tidak wajib atau ‘hanya’ dianjurkan saja. Jadi perbedaannya bukan masalah perlu atau tidak perlu, lho, Ma.
Jadi? Imunisasi wajib adalah vaksin minimal yang harus didapat anak dengan fasilitas disediakan pemerintah. Sedang tambahannya, bila mampu, baik sekali jika juga diberikan pada anak. Apa saja imunisasi yang dianjurkan?
- Hib
Manfaat: Melindungi tubuh dari virus Haemophilus influenza type B, yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan epiglotitis (infeksi pada katup pita suara dan tabung suara).
Waktu pemberian: Umur 2, 4, 6, dan 15 bulan.
Catatan khusus: Bisa diberikan secara terpisah atau kombinasi.
- Pneumokokus (PCV)
Manfaat: Melindungi tubuh dari bakteri pnemukokus yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan infeksi telinga.
Waktu pemberian: Umur 2, 4, 6 bulan, serta antara 12 - 15 bulan.
Catatan khusus: Kalau mama belum memberikannya hingga usia anak di atas 1 tahun, PCV hanya diberikan dua kali dengan interval 2 bulan. Jika usia anak sudah 2 - 5 tahun, PCV hanya diberikan 1 kali.
- Influenza
Manfaat: Melindungi tubuh dari beberapa jenis virus influenza.
Waktu pemberian: Setahun sekali sejak usia 6 bulan. Bisa terus diberikan hingga dewasa.
Catatan khusus: Untuk usia di atas 2 tahun, vaksin bisa diberikan dalam bentuk semprotan pada saluran pernapasan.
- MMR (Measles, Mumps, Rubella)
Manfaat: Melindungi tubuh dari virus campak, gondok, dan rubella (campak Jerman).
Waktu pemberian: Usia 15 bulan, dan diulang saat anak berusia 6 tahun.
Catatan khusus: Bisa diberikan pada umur 12 bulan, jika belum mendapat campak di usia 9 bulan.
- Tifoid
Manfaat: Melindungi tubuh dari bakteri Salmonella typhi yang menyebabkan demam tifoid (tifus).
Waktu pemberian: Pada umur di atas 2 tahun, dan diulang setiap 3 tahun.
Catatan khusus: Terdapat dua jenis, yaitu oral dan suntik. Tifoid oral diberikan pada anak di atas 6 tahun.
- Hepatitis A
Manfaat: Melindungi tubuh dari virus Hepatitis A, yang menyebabkan penyakit hati.
Waktu pemberian: Pada umur di atas 2 tahun, dua kali dengan interval 6 - 12 bulan.
- Varisela
Manfaat: Melindungi tubuh dari cacar air
Waktu pemberian: Pada umur di atas 5 tahun.
- HPV (Humanpapilloma Virus)
Manfaat: Melindungi tubuh dari Humanpapilloma Virus yang menyebabkan kanker mulut rahim.
Waktu pemberian: Pada anak umur di atas 10 tahun, diberikan 3 kali dengan jadwal 0, 1-2 bulan kemudian, serta 6 bulan kemudian.
sumber >> http://www.parenting.co.id/article/bayi/kenali.7.imunisasi.tambahan/001/002/251
Imunisasi yang dianjurkan ini diteliti bisa mencegah berbagai penyakit, antara lain: radang paru-paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis), campak Jerman, Hepatitis A, dan kanker mulut rahim.
Vaksin tersebut belum masuk dalam daftar imunisasi PPI dan tidak disubsidi pemerintah –sehingga disebut tidak wajib atau ‘hanya’ dianjurkan saja. Jadi perbedaannya bukan masalah perlu atau tidak perlu, lho, Ma.
Jadi? Imunisasi wajib adalah vaksin minimal yang harus didapat anak dengan fasilitas disediakan pemerintah. Sedang tambahannya, bila mampu, baik sekali jika juga diberikan pada anak. Apa saja imunisasi yang dianjurkan?
- Hib
Manfaat: Melindungi tubuh dari virus Haemophilus influenza type B, yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan epiglotitis (infeksi pada katup pita suara dan tabung suara).
Waktu pemberian: Umur 2, 4, 6, dan 15 bulan.
Catatan khusus: Bisa diberikan secara terpisah atau kombinasi.
- Pneumokokus (PCV)
Manfaat: Melindungi tubuh dari bakteri pnemukokus yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan infeksi telinga.
Waktu pemberian: Umur 2, 4, 6 bulan, serta antara 12 - 15 bulan.
Catatan khusus: Kalau mama belum memberikannya hingga usia anak di atas 1 tahun, PCV hanya diberikan dua kali dengan interval 2 bulan. Jika usia anak sudah 2 - 5 tahun, PCV hanya diberikan 1 kali.
- Influenza
Manfaat: Melindungi tubuh dari beberapa jenis virus influenza.
Waktu pemberian: Setahun sekali sejak usia 6 bulan. Bisa terus diberikan hingga dewasa.
Catatan khusus: Untuk usia di atas 2 tahun, vaksin bisa diberikan dalam bentuk semprotan pada saluran pernapasan.
- MMR (Measles, Mumps, Rubella)
Manfaat: Melindungi tubuh dari virus campak, gondok, dan rubella (campak Jerman).
Waktu pemberian: Usia 15 bulan, dan diulang saat anak berusia 6 tahun.
Catatan khusus: Bisa diberikan pada umur 12 bulan, jika belum mendapat campak di usia 9 bulan.
- Tifoid
Manfaat: Melindungi tubuh dari bakteri Salmonella typhi yang menyebabkan demam tifoid (tifus).
Waktu pemberian: Pada umur di atas 2 tahun, dan diulang setiap 3 tahun.
Catatan khusus: Terdapat dua jenis, yaitu oral dan suntik. Tifoid oral diberikan pada anak di atas 6 tahun.
- Hepatitis A
Manfaat: Melindungi tubuh dari virus Hepatitis A, yang menyebabkan penyakit hati.
Waktu pemberian: Pada umur di atas 2 tahun, dua kali dengan interval 6 - 12 bulan.
- Varisela
Manfaat: Melindungi tubuh dari cacar air
Waktu pemberian: Pada umur di atas 5 tahun.
- HPV (Humanpapilloma Virus)
Manfaat: Melindungi tubuh dari Humanpapilloma Virus yang menyebabkan kanker mulut rahim.
Waktu pemberian: Pada anak umur di atas 10 tahun, diberikan 3 kali dengan jadwal 0, 1-2 bulan kemudian, serta 6 bulan kemudian.
sumber >> http://www.parenting.co.id/article/bayi/kenali.7.imunisasi.tambahan/001/002/251
[mari mengenal] 5 Imunisasi Wajib Bagi Bayi
Pemerintah
melalui Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mewajibkan lima jenis
vaksin bagi anak-anak Indonesia. Apa saja? Berikut daftar vaksin wajib
bagi bayi dan penjelasannya.
BCG (Bacille Calmette-Guérin)
Manfaat: Mencegah penyakit tuberkulosis atau TB (bukan lagi disingkat TBC), yaitu infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain dan ditularkan orang ke orang.
Waktu pemberian: Sejak bayi lahir.
Catatan khusus: Bila
mama ketinggalan dan umur si kecil sudah lebih dari 3 bulan, harus
dilakukan uji tuberkulin terlebih dulu. Uji ini untuk mengetahui apakah
di dalam tubuh anak sudah terdapat bakteri penyebab TB atau tidak. BCG
baru bisa diberikan, bila uji tuberkulin negatif.
Hepatitis B
Manfaat: Melindungi tubuh dari virus Hepatitis B, yang bisa menyebabkan kerusakan pada hati.
Waktu pemberian: Dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 bulan, lalu saat 3 - 6 bulan.
Catatan khusus: Jarak antara pemberian pertama dengan kedua minimal 4 minggu.
Polio
Manfaat: Melindungi tubuh terhadap virus polio, yang menyebabkan kelumpuhan.
Waktu pemberian: Polio-0
diberikan saat kunjungan pertama setelah lahir. Selanjutnya, vaksin ini
diberikan tiga kali, yakni saat bayi berumur 2, 4, dan 6 bulan.
Catatan khusus: Pemberian vaksin ini harus diulang (boost) pada usia 18 bulan dan 5 tahun.
DTP (Diphteria, Tetanus, Pertussis)
Manfaat: Mencegah
tiga jenis penyakit, yaitu difteri (infeksi saluran pernapasan yang
disebabkan bakteri), tetanus (infeksi bakteri pada bagian tubuh yang
terluka), dan pertusis (batuk rejan, biasanya berlangsung dalam waktu
yang lama).
Waktu pemberian: Pertama kali diberikan saat bayi berumur lebih dari enam minggu. Pemberian selanjutnya pada usia 4 dan 6 bulan.
Catatan khusus: Ulangan DTP diberikan umur 18 bulan dan 5 tahun. Pada usia 12 tahun, vaksin ini diberikan lagi, biasanya di sekolah.
Campak
Manfaat: Melindungi anak dari penyakit campak yang disebabkan virus.
Waktu pemberian: Pertama kali diberikan saat anak umur 9 bulan. Campak kedua diberikan pada saat anak SD kelas 1 (6 tahun).
Catatan khusus:
Jika belum mendapat vaksin campak pada umur 9 bulan, anak bisa
diberikan vaksin kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (MMR atau Measles, Mumps, Rubella) di usia 15 bulan.
sumber >> http://www.parenting.co.id/article/bayi/5.imunisasi.wajib.bagi.bayi/001/002/252
::: MENEMPA JIWA :::
*sharing untuk para orang tua dalam mendidik anak-anaknya*
”Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan.”
(QS. Alam Nasyrah, 94: 5-6).
Cukuplah orangtua dikatakan menyengsarakan hidup anak apabila ia membiasakan hidup mudah. Segala sesuatu yang mereka perlukan telah tersedia dengan mudah, nyaris tanpa usaha berarti. Padahal pengalaman berusaha dan menyelesaikan masalah akan meningkatkan kapasitas pribadi seseorang. Sehingga semakin banyak masalah yang mampu ia selesaikan, semakin tinggi nilai hidupnya.
Allah Ta’ala membentangkan di hadapan manusia kesempatan untuk berjuang. Agar terwujud kehidupan yang baik, kita harus memiliki kesediaan untuk memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh dengan keringat dan do’a. Kesungguhan dalam berjuang itulah letak nilai seseorang. Bukan apa yang ia capai. Sungguh, adakalanya barakah perjuangan seseorang tampak nyata di muka bumi setelah kehidupan orang tersebut berlalu beberapa masa. Dan merupakan tugas orangtua untuk memberi kesempatan kepada anak latihan berjuang, dari yang kecil hingga mimpi-mimpi besar untuk sebuah visi di masa depan.
Sesungguhnya orangtua yang kejam adalah mereka yang tidak memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan di usia itu. Kejamlah para ibu yang masih selalu menyuapi anaknya, setiap saat, padahal anak seharusnya sudah bisa makan sendiri. Kejamlah seorang bapak yang selalu melayani keinginan anak dan memenuhi permintaan mereka, padahal anak-anak itu kelak harus memiliki kecakapan mentasharrufkan hartanya. Kejamlah orangtua yang hanya memberi uang dan fasilitas berlimpah kepada anaknya tanpa memberi tanggung-jawab, kewajiban dan tantangan kepada mereka.
Mari kita belajar dari pohon apel. Sesungguhnya apel tidak berbuah kecuali setelah daunnya rontok. Jika ia ditanam di negeri yang tidak mengenal musim gugur, maka kitalah yang harus membantu agar apel tersebut berbuah. Kita membantu mengurangi daun-daunnya.
Pelajaran apa yang bisa kita petik? Perlu tantangan sebelum berbuah. Ada tantangan yang secara alamiah dihadapi karena kondisi yang tidak terelakkan. Tetapi jika kondisi yang diperlukan tidak tersedia, maka kitalah yang harus merancang agar ada tantangan yang ”menggairahkan”.
Jika kita menilik sejarah, orang-orang besar adalah mereka yang memiliki catatan panjang tentang keteguhan, ketegaran, kegigihan, kejujuran, integritas yang tinggi, keberanian dan tekad yang kuat untuk menyelesaikan setiap masalah dengan cara sebaik-baiknya sesuai dengan rambu-rambu yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ditempa oleh tantangan yang datang berjenjang-jenjang. Awalnya ringan, lalu datang lagi tantangan berikutnya yang lebih berat. Bahkan tidak sedikit orang besar yang sejak lahir sudah dipenuhi kesulitan dan tantangan. Ia lahir dalam kesulitan, besar dalam kesulitan dan kemudian tumbuh menjadi manusia yang sanggup mengatasi berbagai kesulitan yang orang lain takut membayangkannya. Mereka banyak menghadapi kesulitan, tetapi pada saat yang sama ada kekuatan jiwa untuk menghadapinya. Terkadang kekuatan itu mengalir dari hadirnya seorang ibu yang senantiasa memberi dukungan ketika ia merasa tak sanggup lagi.
Di antara orang-orang sukses, banyak yang mengawali hidupnya dengan berbagai kesulitan. Sebagian mereka bahkan pernah merasa tak sanggup menghadapinya, lalu berikrar agar anaknya tak pernah menjumpai kepahitan hidup yang serupa. Tetapi ia lupa membedakan bahwa kepahitan hidup berbeda dengan tantangan. Alih-alih tidak ingin anaknya sengsara, justru menghindarkan anak dari tantangan. Diam-diam menjadikan anaknya tak berdaya dengan melimpahi mereka fasilitas dan kemudahan. Padahal berlimpahnya fasilitas tanpa tantangan, menjadikan anak lemah secara mental, rendah daya juangnya, mudah frustrasi karena tak terbiasa menghadapi kesulitan, dan tidak memiliki keterampilan memadai dalam menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari. Mereka inilah yang rawan terkena afflueanza.
Apakah affluenza itu? O, banyak sekali definisi yang bisa kita temukan pada kata ini. Tetapi ada beberapa hal yang mempersamakan dari berbagai definisi itu, yakni bahwa affluenza merupakan kondisi ketika orang menakar keberhasilan dan kebahagiaan dari berapa banyak uang yang dimiliki, berapa mewah barang yang dikonsumsi, dan berapa lengkap perangkat yang dipunyai beserta segala kemudahan yang bisa dibeli. Mereka dimanjakan oleh uang karena orangtua sudah merdeka secara finansial, tetapi hati mereka hampa dan kebahagiaan sangat jauh dari kehidupan. Semakin mereka menganggap bisa membeli kebahagiaan dengan uang, semakin kering hidup mereka, semakin jauh pula kebahagiaan itu menghindar dari mereka. Di saat itulah mereka semakin sibuk mengejar.... dengan uang yang mereka punya!!! Padahal ini justru membuatnya semakin tidak bahagia. Tetapi tak pilihan lain buat mereka, sebab yang mereka ketahui, uang bisa membeli apa pun. Sejak kecil mereka dibesarkan dengan kemudahan dan fasilitas, sehingga mereka justru menemukan banyak kesulitan dalam hidup. Apa yang sederhana buat orang lain, bisa menjadi kesulitan besar bagi dirinya.
Nah.
Jadi apa yang membuat anak-anak itu lemah di masa dewasanya? Mereka tak berdaya karena otot mereka, otak mereka dan mental mereka tak pernah ditempa. Mereka lemah karena terlalu banyak dimanja oleh fasilitas berlimpah. Mereka menemui banyak kesulitan karena terbiasa hidup serba mudah. Sesungguhnya apa yang berat bisa terasa ringan apabila kita memperoleh tempaan yang cukup untuk menghadapi tantangan. Semakin banyak tantangan yang mampu kita hadapi, akan semakin kuatlah kita dengan izin Allah Ta’ala.
Perlunya memberi kesempatan pada anak untuk menghadapi tantangan bukan berarti orangtua harus membiasakan anak hidup sulit. Sangat berbeda mempersulit keadaan dengan menempa anak menghadapi kesulitan. Kita memberi kesempatan kepada anak untuk belajar dengan memberinya tanggung-jawab, memberi mereka tugas untuk menyiapkan, mengatur dan menjaga apa yang mereka perlukan dalam hidup sehari-hari, serta memberi mereka kesempatan bagi mereka untuk belajar mengurusi diri mereka sendiri. Jadi bukan merampas hak mereka untuk belajar mandiri.
Bayi usia 1,5 tahun misalnya, secara alamiah mereka akan terdorong untuk belajar makan sendiri. Tentu saja karena belum memiliki cukup keterampilan, hasilnya bisa belepotan dan mengotori lantai. Tetapi jika atas nama kasih-sayang kita tidak memberinya kesempatan sehingga kita selalu menyuapinya, anak itu akan terhambat kemampuannya dan sulit tumbuh kemandiriannya.
Di usia-usia berikutnya ketika anak sudah saatnya untuk otonom, kita perlu membimbing mereka untuk menyiapkan sendiri buku pelajaran yang akan dipakai besok dan menyiapkan perlengkapannya. Secara perlahan kita memperkenalkan kepada mereka konsekuensi jika mengabaikan kewajiban. Pada saat yang sama kita mulai perlu memberi mereka tantangan-tantangan. Bukan membebani.
Kita bisa menggugah mereka untuk memiliki tekad kuat bagi sebuah mimpi di masa yang akan datang. Misalnya, kita gugah anak-anak itu untuk berkeinginan kuat memberikan harta yang bermanfaat bagi yang memerlukan. Katakanlah sepatu untuk orang miskin, atau sebuah ensiklopedi yang perlu mereka beli atau keperluan mereka sendiri yang berharga. Kita beri mereka dorongan. Pada saat yang sama kita pacu mereka untuk bisa mewujudkan tekad itu dengan kemampuannya sendiri.
Melalui tantangan yang datang secara bertahap itu, anak-anak akan belajar memecahkan kesulitan. Sesungguhnya Allah Ta’ala letakkan kemudahan itu menyertai kesulitan. Bukankah Allah Ta’ala berfirman:
”Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah, 94: 5-6).
Muhammad Sulaiman ’Abdullah al-Asyqar menerangkan dalam tafsirnya yang bertajuk Zubdatut Tafsiir Min Fathil Qadiir bahwa maksud ayat ini ialah, sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan lain. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu dengan status marfu’ menerangkan, ”Seandainya kesulitan itu berada di dalam batu, niscaya ia akan diikuti oleh kemudahan sehingga ia masuk ke dalamnya kemudian mengeluarkannya dari batu tersebut. Suatu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan. Sesungguhnya Allah berfirman: ”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
Pelajaran apa yang bisa kita petik? Banyak hal. Selain keharusan untuk senantiasa optimis tatkala menghadapi kesulitan, kita juga perlu merenungkan kembali apa yang telah kita berikan kepada anak-anak kita. Apakah kita menyiapkan anak kita untuk menjadi pribadi yang kuat ataukah kita justru sedang mempersulit hidupnya dengan membiasakan hidup mudah?
Sungguh, membiasakan anak hidup mudah dapat melemahkan mereka dalam keterampilan hidup, berpikir, dan bersikap. Bahkan bukan tidak mungkin dapat menyebabkan mereka lemah iman. Na’udzubillahi min dzaalik.
Subscribe to:
Posts (Atom)
