*Bila untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari saja Anda menggunakan kartu kredit, ini merupakan pertanda keuangan Anda bermasalah*
Cashless society, apa maksudnya? Cashless society adalah
kalangan yang dalam transaksi keuangannya tidak lagi menggunakan uang
tunai, tetapi sudah dalam bentuk kartu, baik berupa kartu kredit, kartu
debit, maupun cash card.
Lebih dari itu, dalam melakukan
pembayaran kewajiban kepada pihak lain juga tidak lagi secara tunai.
Semua dilakukan dengan cara elektronik, baik dalam bentuk
internet banking, transfer melalui ATM, maupun
phone/SMS banking.
Jadi,
dalam keseharian, kalangan tersebut boleh dibilang tidak lagi memegang
uang tunai. Kalaupun ada, hanya ala kadarnya. Sekadar untuk membayar
parkir atau kegiatan-kegiatan yang membutuhkan uang tunai dalam jumlah
yang kecil.
Arif dan terkontrolLantas, apa manfaat dari penggunaan transaksi nontunai itu? Banyak sekali. Namun, juga bisa berbahaya sekali. Mengapa? Karena
cashless
sebenarnya seperti pedang bermata dua. Jika yang menggunakan arif dan
memahami fungsi pedang tersebut sekaligus bisa mengontrolnya, manfaatnya
akan luar biasa.
Demikian juga dengan penggunaan kartu kredit dan
kartu debit. Jika dilakukan dengan perencanaan, dampaknya akan baik.
Sebaliknya, jika penggunaannya tidak dikontrol, dampaknya bisa lebih
mengerikan ketimbang melakukan transaksi dengan uang tunai.
Umpamakan
saja Anda tengah berjalan-jalan di mal lalu teman Anda membawa Anda ke
toko yang secara kebetulan menjual barang yang menarik hati Anda.
Sebelumnya Anda sama sekali tidak memiliki rencana membeli barang
tersebut, tetapi karena di dompet Anda tersedia kartu kredit, tanpa
pikir panjang, Anda membeli barang dimaksud dengan menggunakan kartu
kredit. Sangat mudah. Anda hanya berpikir, toh, bayarnya nanti saja.
Mungkin setelah gajian.
Namun, coba bayangkan jika hal seperti itu
terjadi berulang-ulang. Jelas, tagihan kartu kredit Anda akan
membengkak dan sebagian penggunaannya untuk membayar barang-barang yang
sebelumnya tidak direncanakan dibeli. Jika situasinya seperti ini, jelas
penggunaan kartu kredit dapat menimbulkan masalah dalam pengelolaan
keuangan Anda.
Bagaimana dengan kartu debit? Tidak jauh beda.
Sebagian kalangan lebih suka menggunakan kartu debit ketimbang kartu
kredit dengan alasan bisa mengontrol dan tidak perlu membayar bunga.
Namun, dalam realitas penggunaannya bisa saja mirip dengan perilaku
ketika menggunakan kartu kredit. Konkretnya karena tidak menggunakan
uang tunai, berasa seperti tidak mengeluarkan uang. Jadi, kartu debit
pun digunakan dengan mudah.
Yang terjadi kemudian, saldo di
tabungan menjadi berkurang drastis akibat penggunaan yang tidak
terkelola. Ya, kata kuncinya adalah bagaimana mengelola penggunaan
kartu, apa pun kartu itu ketika ingin menjadi bagian dari
cashless society.
Perilaku penggunaanLantas bagaimana baiknya? Menjadi bagian dari
cashless society
atau menggunakan nontunai dalam transaksi pembayaran apa pun pada
dasarnya adalah sesuai dengan semangat zaman. Adalah hal yang mustahil
untuk mengantongi uang dalam jumlah besar. Bukan hanya soal keamanan,
melainkan juga kenyamanan. Namun, lepas dari faktor tersebut, penggunaan
alat pembayaran nontunai tentu sebaiknya memenuhi kaidah tertentu.
Pertama,
ketika melakukan pengeluaran/transaksi, baik secara tunai maupun
menggunakan kartu, tetap mesti berdasarkan suatu perencanaan keuangan.
Yang berbeda hanya dalam praktiknya, yakni bisa
cash dan bisa
noncash.
Ini menjadi falsafah paling dasar. Sebab, kalau tafsirnya berbeda alias
penggunaan kartu dianggap bukan pengeluaran, mau menggunakan tunai atau
nontunai akan sama-sama menimbulkan masalah.
Kedua, memilih alat
transaksi pembayaran yang sesuai dengan karakter pribadi. Apa
maksudnya? Jika Anda seorang yang cenderung boros, penggunaan kartu
debit akan lebih mengekang untuk melakukan pengeluaran yang berjumlah
besar. Mengapa? Karena pengeluaran yang besar akan langsung mengurangi
tabungan seketika itu juga. Bagi sebagian kalangan, ketika melihat
jumlah tabungannya berkurang, biasanya akan muncul penyesalan dan rasa
kurang enak. Jika hal ini berlangsung berulang-ulang, pemilik dana akan
terdorong mengubah perilaku menjadi lebih hemat.
Ketiga, memilih
penerbit kartu yang memiliki jangkauan luas dan kredibilitas teruji. Apa
maksudnya? Penggunaan kartu debit dan atau kartu kredit memang
memudahkan, tetapi juga menambah risiko, baik itu risiko kehilangan
kartu, penyalahgunaan, maupun pemalsuan. Nah, penerbit kartu yang
kredibel biasanya telah memberikan perlindungan berlapis agar nasabahnya
terhindar dari masalah-masalah seperti itu. Jadi, tanpa bermaksud
mengecilkan ”pemain baru” dalam bisnis kartu, penerbit yang sudah
berpengalaman ada baiknya menjadi pilihan utama.
Kesimpulannya, tidak ada salahnya masuk sebagai bagian dari
cashless society.
Sebab, secara teknis memang akan memberi banyak kemudahan dalam
melakukan transaksi. Namun, yang jauh lebih penting adalah bagaimana
mengubah perilaku penggunaan transaksi. Sebab, jika perilaku penggunaan
uang tetap sama, mau disebut sebagai transaksi tunai ataupun nontunai,
sama-sama akan menimbulkan masalah.
(Elvyn G Masassya, praktisi keuangan)
sumber
http://female.kompas.com/read/2012/12/10/0946474/Masyarakat.Tanpa.Uang.Tunai