Thursday, December 13, 2012

Membina Keluarga Sakinah-Mawaddah-Warahmah (Kisah inspiratif Kang Aher & Teh Netty)



Contoh keluarga idaman Pengalaman pribadi Ahmad Heryawan dan Netty Prasetiyani membangun keluarga yang sekarang masuk 21 tahun perjalanannya (diceritakan oleh ibu Netty Prasetiyani di twitternya Tweet on 01 Desember 2011:

1, Pernikahan yang kami bangun berdiri di atas visi bahwa pernikahan yang dilakukan berdimensi dunia dan akhirat.
2, Artinya, pasangan (suami/istri) di dunia harus menjadi pasangan (suami/istri) di akhirat/kehidupan setelah kematian kelak.
3, Dengan prinsip itu, kami berpikir bahwa tidak boleh ada masalah besar apalagi masalah kecil yang mampu memporakporandakan keluarga kami.
4, Apakah tidak pernah ada masalah? Pasti ada, hanya kita punya kesepakatan bahwa satu sama lain harus berusaha menyelesaikan masalah.
5, Caranya, apapun masalahnya serta siapapun yang memulai, masing-masing harus proaktif mengakhiri dengan cara saling berlomba menyapa lebih dulu.
6, Jadi, tidak ada yang pernah kuat berlama-lama mendiamkan/bermusuhan apalagi dituntaskan sampai 3 hari sebagaimana yang dibolehkan.
7, Suami saya berprinsip bahwa menikah bukan untuk membuat istri sengsara, sedih, tertekan, dan sebagainya. Justru berniat ingin membahagiakan.
8, Akhirnya, pola relasi yang dibangun adalah kemitraan atau taawun (prinsip saling tolong-menolong) sebagaimana yang disebut di dalam Al-Quran.
9, Oleh karena itu, kelancaran komunikasi selalu dibangun. Tidak boleh ada hambatan berkomunikasi antara suami-istri.
10, Ehem, makanya tidak pernah berlalu satu haripun, kecuali ungkapan "I love you" dari mulut masing-masing baik dari saya maupun suami.
11, Ada fleksibilitas dalam membagi peran di rumah. Tatkala tidak ada yang membantu saya mengerjakan pekerjaan RT, suami turun tangan.
12, Setiap pulang beraktivitas/mengajar malam hari, suami mencucikan pakaian kami sekeluarga. Esok hari, saya tinggal menjemurnya.
13, Ketika saya sakit atau sibuk menyiapkan keperluan anak-anak bersekolah, suami langsung mengantri bersama ibu-ibu di tukang sayur untuk berbelanja.
14, Suami juga terbiasa memandikan dan menyuapi anak-anak di pagi hari. Anak-anak suka disuapi bapaknya karena potongan lauknya besar.
15, Setiap kali saya melahirkan, suami saya dengan setia mendampingi di sisi, baik mengusap saat kontraksi atau membesarkan hati.
16. Suami berpendapat bahwa mendampingi istri saat melahirkan akan menambah rasa cinta dan hormat kepada istri dan kaum perempuan lainnya.
17, Termasuk dalam mengasuh dan membesarkan anak, saya dan suami biasa berbagi tugas. Jika saya sibuk, suami yang kontak dan memantau anak-anak.
18. Sebagai bapak, suami punya prinsip yang sangat melegakan bahwa anak terus tumbuh dan berkembang. Jangan pernah underestimate terhadap anak.
19, Anak-anak tak pernah dibebani dengan prestasi akademis lewat urutan ranking. Jika ambil rapor yang ditanya bagaimana akhlak anak di sekolah.
20, Prinsip kami dalam membesarkan dan mendidik anak dengan 3 pendekatan: otoritatif, demokratis, dan edukatif.
21, Otoritatif: sesekali kami gunakan otoritas sebagai orang tua tapi tidak semua urusan harus diselesaikan dengan gaya atasan-bawahan.
22, Demokratis: sesekali kami berikan kebebasan kepada anak untuk menentukan pilihan-pilihannya secara sadar dan bertanggungjawab.
23, Tapi perlu juga pendekatan edukatif; kami harus memberikan penjelasan, pengertian, dan alasan mengapa ini boleh, itu tdk boleh, dan lain-lain.
24, Jadi, tradisi berdiskusi, berdialog, sudah terbangun diantara anggota keluarga, suami, istri, orang tua dan anak sejak dini.
25, Sebagai contoh, si sulung memutuskan masuk IPS (waktu SMA), bapaknya tidak setuju, ia menjelaskan dengan detil alasannya, akhirnya kami menerima.
26, Dengan nilai-nilai (agama) yang ditanamkan, anak-anak pun tumbuh menjadi anak-anak yang sederhana, mandiri, dan terlibat dalam kegiatan orang tuanya.
27, Saya dan suami belajar dari karakter anak-anak yang satu sama lain berbeda, yang laki dan perempuan, yang sulung, tengah, dan bungsu.
28, Anak-anak tidak pernah memaksa untuk dibelikan sesuatu karena tuntutan status atau lingkungan pergaulan. Mereka menerima uang saku sesuai kesepakatan.
29, Jika diberikan lebih, mereka menolak. Setiap kali diberi tambahan oleh si bapak, anak-anak bertanya apakah asal uang tersebut halal? >>> subhanallah..
30. Suami sangat mendukung aktualisasi diri untuk saya, istrinya sehingga sampai hari ini saya didorong untuk menyelesaikan studi S3.
31, Saya dan suami saling belajar, suami tak sungkan bertanya dan meminta pendapat karena yang terpenting satu sama lain saling menghormati.
32, Begitulah selama ini perjalanan keluarga kami, tak ada yang istimewa namun semua kami jalani dengan satu harapan terindah.
33, Yaitu, berkumpulnya kembali saya, suami, dan anak-anak sebagai satu keluarga utuh di akhirat kelak. >>> Aamiiin
34, Masih banyak sebenarnya sisi-sisi lain dari bangunan keluarga kami, insya Allah akan saya sambung dengan topik yang berbeda.
35, Sebagai introduksi saja, si sulung sekarang menimba ilmu di Fisip UI jurusan Ilmu Politik, yang kedua di ITB Jurusan SBM, adiknya di SMA 3.
36, Yang lainnya, di SMP dan SD Mutiara Bunda. Hatur nuhun sudah menyimak. Mohon nasihat dan masukan untuk keharmonisan yang lebih indah.
37, Masih banyak pasangan/ortu yang senior/sepuh, harmonis, dan berhasil mendidik anak, kami masih harus terus belajar.


Wednesday, December 12, 2012

:: Anak Kecil yang takut Neraka ::


Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, pada saat dia berjalan-jalan dia melihat seorang anak kecil sedang mengambil wudhu' sambil menangis.
Lalu orang tua itu mendatangi anak kecil yang menangis tadi, dia pun berkata, "Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?"


Maka berkata anak kecil itu, "Wahai paman, saya telah membaca ayat al-Qur'an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum" yang bermaksud, " Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu." Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka."

Berkata orang tua itu, "Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalam api neraka."


Berkata anak kecil itu, "Wahai paman, paman adalah orang yang berakal, tidakkah paman lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar terlebih dahulu sebelum orang dewasa yang dibakar."

Berkata orang tua itu, sambil menangis, "Sesungguhnya anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?"

:: Kebanggaan AYAH ::

Oleh: Ustadz Bobby Herwibowo
Bakri diundang ke sekolah anaknya untuk menghadiri peringatan 'Hari Ayah'. Sebenarnya, dia sangat enggan untuk datang karena merasa sudah tua dan memiliki empat anak.

Bahkan, anak tertuanya sudah masuk kuliah. Namun, istri dan anaknya yang keempat mendesaknya untuk datang ke sekolah.

Setiba di sekolah, para ayah kemudian dikumpulkan di sebuah ruangan untuk menyaksikan penampilan anak-anak mereka menunjukkan kemampuannya. Ada yang menyanyi, menari, menulis, baca puisi, pidato dalam bahasa asing, dan lainnya.

Setiap selesai penampilan, para ayah ini bertepuk tangan sebagai tanda kegembiraan atas kemampuan anaknya. Bakri hanya membatin bahwa dia juga demikian, saat anak pertamanya melakukan hal itu.

Karenanya, ketika tiba giliran anaknya yang bernama Umar, Bakri tampak biasa-biasa saja. Ia menduga, Umar akan menampilkan hal serupa dengan penampilan kawan-kawannya. Namun, dugaannya meleset.

Saat ibu guru sekolah menanyakan kepada Umar akan penampilannya, Umar menjawab bahwa dia ingin tampil bersama Ustaz Amir, guru ekstrakurikuler membaca Alquran di sekolah itu.

Umar mengatakan, ia akan membaca Surah al-Kahfi. Sadar akan jumlahnya banyak (110 ayat), ia meminta Ustaz Amir memilihkan ayat yang akan dibacanya. Saat diminta membaca ayat 1-5, dengan lancar Umar membaca. Dan yang luar biasa lagi, ternyata bacaan Umar sangat indah.

Ia meniru Muhammad Taha al-Junaid, seorang qari cilik yang terkenal dan sering didengar suaranya oleh Umar. Bacaannya begitu tenang dan penuh kedamaian. Kemudian, Ustaz Amir memintanya untuk membaca ayat ke-60. Dan dengan lancar, Umar membaca dengan suara yang juga sangat merdu serta menenangkan jiwa.

Kini, semua mata para ayah tertuju pada Umar. Mereka semua sangat kagum akan kemampuan Umar. Mata para ayah tampak berkaca-kaca. Seolah mereka penuh harap anak-anak mereka bisa seperti Umar. Demikian pula dengan Bakri, ayah Umar. Ia yang tadinya tak sepenuh hati datang ke sekolah, kini tampak bersemangat.

Belum selesai, Umar lagi-lagi diminta Ustaz Amir untuk membacakan ayat 107-110 Surah al-Kahfi sebagai penutup penampilannya. Maka, Umar pun membacanya tanpa kesalahan. Begitu selesai, Bakri langsung bangkit dan memeluk Umar. Ia begitu bangga dengan buah hatinya. Para ayah yang menyaksikan hal itu pun tampak terharu dengan derai air mata yang membasahi pipi.

Menyudahi suasana haru itu, ibu guru bertanya kepada Umar tentang alasan dia membaca Alquran untuk ayahnya. Umar menjawab, "Ustaz Amir pernah mengajarkan kepadaku agar rajin membaca Alquran. Dan kalau hafal, orang tuanya akan mulia di akhirat. Aku ingin ayah dan ibuku mendapat kemuliaan seperti itu," jawabnya. Semua yang hadir pun memuji kebesaran Allah.

Bakri kemudian meminta izin untuk memberikan sambutan. "Kita menyekolahkan anak-anak di sekolah terbaik agar bisa mengejar kemajuan dunia. Aku juga demikian. Dengan ambisi duniawi, aku menyekolahkan Umar dengan harapan ia akan memiliki masa depan gemilang. Hari ini aku sadar. Anakku justru telah membuat masa depanku gemilang dengan mempelajari dan menghafal Alquran. Terima kasih, anakku. Maafkan ayah yang lupa mendidikmu untuk mempelajari Alquran."


sumber http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/12/12/mewxmp-kebanggaan-ayah

Tuesday, December 11, 2012

... CATATAN SEDIH SEORANG B.J HABIBIE ...



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya, Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN.

Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan………………

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

“Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..

“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara.

Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara.

Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia.

Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN”.

“Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini.

Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?”

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

“Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….”

“Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….”

“Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?”

“Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun”.

“Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas…………………..

***

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang).

Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin.

Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG).

Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop.

N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

***

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………

“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar.

Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam…………… seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………

“Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!

2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus……………

3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia…….

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).

Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….”

***
Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012

Salam,
Capt. Novianto Herupratomo

***
Cerita itu saya kutip dari notes facebook disini, sebuah renungan yang seharusnya menjadi perhatian bagi kita. Betapa menyedihkan sebuah bangsa yang tak pernah menghargai orang berilmu! Tak pernah memberi kesempatan kepada anak bangsa untuk menjadikan bangsanya mandiri! Entah ada apa dengan negara ini…! Entah dimana mata dan telinga para penguasa diletakkan!

Saya seorang peneliti, yang tahu betul bagaimana kami dilatih untuk bertindak. Bahwa kami harus melakukan segala macam upaya agar output yang dihasilkan adalah output yang QCD!

Tak sekali dua kali proposal yang sudah kami susun berhari-hari bahkan berminggu-minggu mengalami pernyempurnaan di segala sisi? Tak sekali dua kali para evaluator selalu menjadi pendamping kami dalam melaksanakan serangkaian percobaan.

Tak sedikit pikiran dan tenaga kami habis untuk bagaimana selalu menyempurnakan metode hingga output tercapai. Kami juga kadang tak berontak saat kerja bertahun-tahun tapi gaji yang kami dapat hanya setara dengan goyangan ngebor Inul satu jam! dan yang lebih menyedihkan, karya kami hanya mendapat cibiran, jika tidak akhirnya dipinggirkan!

Entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini! sepertinya posisi orang berilmu memang sudah tak lagi mendapat tempat, jadi siapa yang salah jika akhirnya mereka mencari tempat lain?

Dan saya perempuan, dan seorang muslimah. Maka apapun profesi saya, saya tetaplah muslimah dan perempuan. Seseorang yang mendapat kehormatan dan kemuliaan menjadi seorang Ummu warobatul bait, Istri sekaligus Ibu dan pengatur rumah tangga.

Maka jika aktivitas dan profesi yang kutekuni menjadikanku abai terhadap peranku, aku akan meninggalkannya dan memilih tempat yang lebih memuliakanku, yaitu menjadi Ibu dan pengatur rumah tangga. Bukan seorang Ibu semu, yang hanya berperan melahirkan dan memberi makan, tanpa pernah menjadi teladan, pengajar, pendengar dan teman untuk anak-anaknya…

Dan entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini, jika RUU Kesetaraan Gender lalu diketok palu menjadi UU!… bersiaplah menjadi orang-orang yang menggoreskan catatan sedih, dengan kebijakan negeri ini…

***
.... Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ....

8 kebiasaan sehari-hari yang akan buat hidup BAHAGIA



Membahagiakan orang lain harus dimulai dari mulai membahagiakan diri sendiri. 

Kebahagiaan adalah satu-satunya ukuran sejati dari keberhasilan pribadi. Membuat orang lain bahagia adalah ekspresi tertinggi dari kesuksesan, tapi itu hampir mustahil untuk membuat orang lain senang jika Anda tidak bahagia sendiri. Nah untuk membantu Anda mewujudkan hal tersebut, berikut DELAPAN perubahan kecil yang dapat meningkatkan jumlah kebahagiaan dalam hidup Anda:
 
1. Mulailah Setiap Hari dengan Harapan. Seorang yang ingin selalu menjadi lebih baik, ia akan menggantungkan mimpinya dalam sebuah harapan. Kelak, ia akan menggapainya. Oleh karena itu, ketika Anda bangkitdari tempat tidur, membuat harapan dalam pikiran pertama Anda, misalnya "sesuatu yang indah akan terjadi hari ini."



2. Prioritas. Sumber yang paling umum dari stres adalah persepsi bahwa Anda punya terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Daripada terobsesi tentang hal tersebut, pilih salah satunya yang dapat dilakukan hari itu. Hal ini akan menggerakkan Anda lebih dekat ke tujuan Anda. 



3. Berikan Hadiah Kepada Orang yang Ditemui. Hadiah yang dimaksud bukanlah sesuatu yang dibungkus cantik dengan balutan pita. Sebuah hadiah dapat berupa senyuman Anda, kata-kata terima kasih, sikap kesopanan bahkan memberikan anggukan ramah. Dan tidak pernah melewati pengemis tanpa meninggalkan mereka sesuatu. Ketenangan pikiran dapat Anda dapatkan dari sebuah uang receh.

4. Membelokkan Percakapan. Berargumen mengenai politik dan agama kerap membuat seseorang kesal dan kehilangan kontrol emosinya. Ketika topik tersebut mucul kepermukaan, tidak ada salahnya untuk menghindari percakapan tersebut. Anda dapat membelokkan pembicaraan, misalnya dengan mengatakan, “Maaf bisa ganti topik lain, saya suka sakit kepala bila membicarakan hal tersebut”

5. Asumsikan Orang Memiliki Niat Baik. Tidak setiap orang memiliki kemampuan membaca pikiran. Sehingga kita tidak pernah tau mengapa dan ada apa dibalik benak masing-masing orang. Menerka-nerka apa yang ada dibalik pikiran orang akan memberikan kesengsaraan dalam hidup. Lebih baik selalu berasumsi positif kepada orang lain. Karena hal tersebut memberikan banyak kebaikan bagi hati dan jiwa.

6. Santap Sajian yang Lezat dengan Perlahan. Hidup diperkotaan kerap membuat kita dituntut untuk berbuat serba cepat. Meski begitu, setidaknya sesekali mencoba menyantap sesuatu yang benar-benar lezat, seperti sepotong kecil keju atau cokelat impor. Fokuskan pada hal tersebut. Makanlah, rasakan, dan nikmati secara perlahan.


7. Buang Kekhawatiran. Musuh terbesar dari kebahagiaan adalah kekhawatiran. Setelah mengambil tindakan atau keputusan, biasanya pikiran Anda kerap hinggapi kekhawatiran akan apa yang telah dilakukan. Sebaiknya, fokus pada pekerjaan saat berada di tangan Anda. Buanglah pikiran negatif tentang yang mungkin akan terjadi. 

8. Akhiri Hari Anda dengan Rasa Syukur. Tepat sebelum Anda pergi tidur, tuliskan setidaknya satu hal indah yang terjadi. Mungkin sesuatu yang kecil seperti telah membuat anak Anda tertawa atau sesuatu yang besar misalnya telah mendapat kesepakatan kerjasama proyek impian. Apapun itu, bersyukurlah atas apa yang terjadi di hari itu karena hal tersebut tidak akan pernah datang lagi. Selalu bersyukur akan membuat Anda lebih bahagia. (Fida)

Sunday, December 9, 2012

Terlalu sering menggendong bayi : Baikkah ?




Sebagian orangtua menganggap terlalu sering menggendong tak baik untuk bayi. Padahal di usia tertentu, justru bayi butuh digendong.

Dokter spesialis anak, dr Attila Dewanti, SpA (K) mengatakan pada dua bulan pertama, kebiasaan menggendong dibolehkan karena bisa menenangkan bayi dan ini menjadi cara untuk membantu bayi beradaptasi.

"Menggendong tergantung usia. Kalau bayi baru lahir direbahkan saja biasanya sering menangis karena bayi satu bulan lebih rewel. Jadi dua bulan pertama boleh sering digendong karena ini menenangkannya," jelas dr Attila dalam talkshow perawatan bayi diadakan Tabloid Nakita dan Brawijaya Women & Children Hospital, Jakarta, Sabtu (8/12/2012).

Menurut dr Attila, pada dua bulan pertama, bayi butuh sering digendong sebagai cara penyesuaian dengan lingkungan di sekitarnya. Bayi sejak dalam rahim mendengar detak jantung ibunya. Saat bayi tidur di boks, ia merasakan suasana hening yang tak biasa baginya. Ia belum bisa beradaptasi dengan baik akhirnya bayi kerap menangis.

"Kalau digendong, bayi nyaman karena ia mendengar detak jantung ibunya, yang biasa ia dengar saat masih dalam kandungan, jadi ini menenangkannya," jelasnya.

Menggendong juga bisa meningkatkan bonding. Sambil menggendong ibu bisa mengajak bayi bicara. Cara ini juga membantu merangsang sel saraf bayi. Jadi, sambil menggendong ibu bisa membantu menstimulasi otak bayi yang berkaitan dengan perkembangan kecerdasannya.

Meski menggendong baik pada bayi baru lahir hingga usia dua bulan, dr Attila juga sepakat pada orangtua yang beranggapan tak baik terlalu sering menggendong bayi yang sudah semakin besar.

Terlalu sering menggendong anak justru bisa mengurangi kesempatannya untuk mengeksplorasi diri yang bermanfaat bagi tumbuh kembangnya.

sumber  http://female.kompas.com/read/2012/12/10/09343859/Terlalu.Sering.Menggendong.Bayi.Tak.Baik.?utm_source=female&utm_medium=cpc&utm_campaign=artbox

Masyarakat tanpa uang tunai (cashless society)


*Bila untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari saja Anda menggunakan kartu kredit, ini merupakan pertanda keuangan Anda bermasalah*

 
Cashless society, apa maksudnya? Cashless society adalah kalangan yang dalam transaksi keuangannya tidak lagi menggunakan uang tunai, tetapi sudah dalam bentuk kartu, baik berupa kartu kredit, kartu debit, maupun cash card.

Lebih dari itu, dalam melakukan pembayaran kewajiban kepada pihak lain juga tidak lagi secara tunai. Semua dilakukan dengan cara elektronik, baik dalam bentuk internet banking, transfer melalui ATM, maupun phone/SMS banking.
Jadi, dalam keseharian, kalangan tersebut boleh dibilang tidak lagi memegang uang tunai. Kalaupun ada, hanya ala kadarnya. Sekadar untuk membayar parkir atau kegiatan-kegiatan yang membutuhkan uang tunai dalam jumlah yang kecil.

Arif dan terkontrol
Lantas, apa manfaat dari penggunaan transaksi nontunai itu? Banyak sekali. Namun, juga bisa berbahaya sekali. Mengapa? Karena cashless sebenarnya seperti pedang bermata dua. Jika yang menggunakan arif dan memahami fungsi pedang tersebut sekaligus bisa mengontrolnya, manfaatnya akan luar biasa.
Demikian juga dengan penggunaan kartu kredit dan kartu debit. Jika dilakukan dengan perencanaan, dampaknya akan baik. Sebaliknya, jika penggunaannya tidak dikontrol, dampaknya bisa lebih mengerikan ketimbang melakukan transaksi dengan uang tunai.

Umpamakan saja Anda tengah berjalan-jalan di mal lalu teman Anda membawa Anda ke toko yang secara kebetulan menjual barang yang menarik hati Anda. Sebelumnya Anda sama sekali tidak memiliki rencana membeli barang tersebut, tetapi karena di dompet Anda tersedia kartu kredit, tanpa pikir panjang, Anda membeli barang dimaksud dengan menggunakan kartu kredit. Sangat mudah. Anda hanya berpikir, toh, bayarnya nanti saja. Mungkin setelah gajian.
Namun, coba bayangkan jika hal seperti itu terjadi berulang-ulang. Jelas, tagihan kartu kredit Anda akan membengkak dan sebagian penggunaannya untuk membayar barang-barang yang sebelumnya tidak direncanakan dibeli. Jika situasinya seperti ini, jelas penggunaan kartu kredit dapat menimbulkan masalah dalam pengelolaan keuangan Anda.

Bagaimana dengan kartu debit? Tidak jauh beda. Sebagian kalangan lebih suka menggunakan kartu debit ketimbang kartu kredit dengan alasan bisa mengontrol dan tidak perlu membayar bunga. Namun, dalam realitas penggunaannya bisa saja mirip dengan perilaku ketika menggunakan kartu kredit. Konkretnya karena tidak menggunakan uang tunai, berasa seperti tidak mengeluarkan uang. Jadi, kartu debit pun digunakan dengan mudah.
Yang terjadi kemudian, saldo di tabungan menjadi berkurang drastis akibat penggunaan yang tidak terkelola. Ya, kata kuncinya adalah bagaimana mengelola penggunaan kartu, apa pun kartu itu ketika ingin menjadi bagian dari cashless society.

Perilaku penggunaan
Lantas bagaimana baiknya? Menjadi bagian dari cashless society atau menggunakan nontunai dalam transaksi pembayaran apa pun pada dasarnya adalah sesuai dengan semangat zaman. Adalah hal yang mustahil untuk mengantongi uang dalam jumlah besar. Bukan hanya soal keamanan, melainkan juga kenyamanan. Namun, lepas dari faktor tersebut, penggunaan alat pembayaran nontunai tentu sebaiknya memenuhi kaidah tertentu.

Pertama, ketika melakukan pengeluaran/transaksi, baik secara tunai maupun menggunakan kartu, tetap mesti berdasarkan suatu perencanaan keuangan. Yang berbeda hanya dalam praktiknya, yakni bisa cash dan bisa noncash. Ini menjadi falsafah paling dasar. Sebab, kalau tafsirnya berbeda alias penggunaan kartu dianggap bukan pengeluaran, mau menggunakan tunai atau nontunai akan sama-sama menimbulkan masalah.

Kedua, memilih alat transaksi pembayaran yang sesuai dengan karakter pribadi. Apa maksudnya? Jika Anda seorang yang cenderung boros, penggunaan kartu debit akan lebih mengekang untuk melakukan pengeluaran yang berjumlah besar. Mengapa? Karena pengeluaran yang besar akan langsung mengurangi tabungan seketika itu juga. Bagi sebagian kalangan, ketika melihat jumlah tabungannya berkurang, biasanya akan muncul penyesalan dan rasa kurang enak. Jika hal ini berlangsung berulang-ulang, pemilik dana akan terdorong mengubah perilaku menjadi lebih hemat.

Ketiga, memilih penerbit kartu yang memiliki jangkauan luas dan kredibilitas teruji. Apa maksudnya? Penggunaan kartu debit dan atau kartu kredit memang memudahkan, tetapi juga menambah risiko, baik itu risiko kehilangan kartu, penyalahgunaan, maupun pemalsuan. Nah, penerbit kartu yang kredibel biasanya telah memberikan perlindungan berlapis agar nasabahnya terhindar dari masalah-masalah seperti itu. Jadi, tanpa bermaksud mengecilkan ”pemain baru” dalam bisnis kartu, penerbit yang sudah berpengalaman ada baiknya menjadi pilihan utama.

Kesimpulannya, tidak ada salahnya masuk sebagai bagian dari cashless society. Sebab, secara teknis memang akan memberi banyak kemudahan dalam melakukan transaksi. Namun, yang jauh lebih penting adalah bagaimana mengubah perilaku penggunaan transaksi. Sebab, jika perilaku penggunaan uang tetap sama, mau disebut sebagai transaksi tunai ataupun nontunai, sama-sama akan menimbulkan masalah.

(Elvyn G Masassya, praktisi keuangan) 

sumber  http://female.kompas.com/read/2012/12/10/0946474/Masyarakat.Tanpa.Uang.Tunai